Jernih Melihat Dunia: Politisasi Rohingya dan Jeritan Penulis Buku - Kompas.com

Jernih Melihat Dunia: Politisasi Rohingya dan Jeritan Penulis Buku

Kompas.com - 11/09/2017, 17:34 WIB
Muslim Pakistan menggelar protes kepada pemerintahan Myanmar terkait perlakuan terhadap Muslim Rohingya. Mereka menggelar demo di  Quetta, 8 September 2017. Para pendemo juga mengecam Aung San Suu Kyi yang dinilai diam hingga kini. AFP PHOTO / BANARAS KHAN Muslim Pakistan menggelar protes kepada pemerintahan Myanmar terkait perlakuan terhadap Muslim Rohingya. Mereka menggelar demo di Quetta, 8 September 2017. Para pendemo juga mengecam Aung San Suu Kyi yang dinilai diam hingga kini.

KOMPAS.com - Kekerasan terhadap warga Rohingya oleh militer Myanmar menimbulkan kecaman dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Sayangnya, banyak yang menyalahartikan konflik ini sebagai ketegangan antaragama.

Jika dilihat dengan jernih, gesekan di Myanmar ini sebetulnya merupakan akibat dari krisis multidimensi. Dengan bingkai "Jernih Melihat Dunia", Kompas.com mengulas sejumlah hal terkait masalah ini pekan lalu.

Selain itu, ada sejumlah artikel lain yang akan mengarahkan pembaca untuk melihat harapan, menghargai perbedaan, dan menjernihkan pandangan atas berita-berita yang menjadi sorotan publik akhir-akhir ini.

Stop politisasi Rohingya

Kelompok-kelompok tertentu ditengarai telah memanipulasi penderitaan etnis Rohingya untuk agenda politik domestik. Kelompok-kelompok ini ikut menyebarkan hoaks, mendiskreditkan pemerintah, dan memupuk sentimen yang bisa menimbulkan konflik antarumat beragama.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengatakan bahwa sebaiknya masyarakat tidak terjebak dalam melihat isu kekerasan terhadap warga Rohingya sebagai konflik antara Islam dan Buddha. Ia mendorong pemerintah dan warga Indonesia untuk bahu-membahu mencarikan penyelesaian subtantif masalah Rohingnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kelompok-kelompok di dalam negeri yang mencoba memanfaatkan isu Rohingya untuk menciptakan konflik di Indonesia.

Baca selengkapnya di artikel berikut:
- Jangan Lihat Isu Rohingya sebagai Konflik antara Islam dan Buddha
- Mencari Solusi Rohingya...

Muhammad Sunardi memberikan motivasi di hadapan pelajar SMA Negeri 1 Pegandon, Senin (4/9/2017).Tribun Jateng/Dini Suciatiningrum Muhammad Sunardi memberikan motivasi di hadapan pelajar SMA Negeri 1 Pegandon, Senin (4/9/2017).

Kisah inspiratif anak penggali kubur

Dari Kendal, Jawa Tengah, muncul kisah inspiratif tentang anak penggali kubur yang berhasil menggapai pendidikan tinggi. Muhammad Sunardi namanya. Ia mampu mewujudkan cita-cita menjadi dokter. Kini ia tengah menyelesaikan pendidikan S-3 di Jepang.

Di hadapan ratusan pelajar SMA Negeri 1 Pegandon, Sunardi menceritakan kisahnya saat duduk di bangku SD. Dia mengaku sudah mempunyai cita-cita menjadi dokter, namun tidak pernah mengungkapkan keinginannya kepada keluarga.

Karena keterbatasan biaya disertai tekad bulat, anak ketujuh dari delapan bersaudara itu selalu mendapatkan beasiswa, mulai SD sampai pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Kisah selanjutnya dapat dibaca di artikel "Kisah Anak Penggali Kuburan Capai Cita-cita Jadi Dokter dan Kuliah S-3 di Jepang ".

Indonesia International Book Fair menawarkan diskon buku sampai 70 persen.Kompas.com/Iwan Supriyatna Indonesia International Book Fair menawarkan diskon buku sampai 70 persen.

Jeritan penulis Indonesia

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat literasi rendah dari masyarakatnya. Jangankan untuk mendongkrak minat baca masyarakat, kesejahteraan penulis masih jauh panggang dari api.

Soal kesejateraan penulis ini menjadi sorotan di media sosial setelah penulis kekinian, Tere Liye, mengungkapkan unek-uneknya tentang pajak penulis. Gara-gara hal itu, Tere menarik diri dari industri perbukuan.

Penulis lain, Dewi Lestari atau kerap disapa Dee, pun mengakui bahwa ranah kepenulisan kerap dianggap sebagai dunia prihatin. Penghasilan yang didapat penulis tak sebanding dengan upaya untuk memunculkan buku berkualitas.

Atas jeritan hari Tere Liye ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan tanggapan bahwa Kementerian Keuangan dan DJP telah mengakomodasinya dengan kebijakan bahwa biaya tersebut dapat dikurangkan melalui penggunaan norma.

Selengkapnya dapat dibaca di artikel "Protes Tere Liye dan Jalan Sunyi Dunia Literasi " dan "Tentang Tere Liye, Curhat Sri Mulyani Soal Pajak Penulis".

EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM