"Indonesia Tak Butuh Sahabat Palsu AS dan Australia" - Kompas.com

"Indonesia Tak Butuh Sahabat Palsu AS dan Australia"

Sabrina Asril
Kompas.com - 08/11/2013, 09:44 WIB
KOMPAS.com/Indra Akuntono Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan

JAKARTA, KOMPAS.com — Partai pendukung pemerintah, Partai Demokrat, juga bereaksi keras atas kabar penyadapan yang dilakukan oleh Australia dan Amerika Serikat di Indonesia. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan bahkan menyatakan bahwa Indonesia tak butuh kedua negara itu lantaran pelanggaran kepercayaan yang telah dibangun sejak lama.

"Dengan penyadapan, berarti AS dan Australia tidak konsisten bersahabat dengan Indonesia. Persahabatan dan kemitraan yang selama ini ada ternyata palsu, sandiwara, basa-basi," ujar Ramadhan di Jakarta, Kamis (7/11/2013) malam.

Menurut Ramadhan, AS dan Australia mengabaikan peran sentral Indonesia dan ASEAN di Asia Pasifik. Kawasan itu, lanjut Ramadhan, mustahil dibangun dengan ketidakpercayaan dan rasa saling curiga.

Ramadhan juga menyatakan, di dalam Konvensi Vienna dijelaskan bahwa fungsi kedutaan adalah mendorong kerja sama atau memajukan kepentingan nasional. "Kedutaan AS dan Australia tidak boleh jadi pusat dan sarana penyadapan terhadap Indonesia, seperti dokumen Snowden. Saya mengecam sekerasnya penyadapan itu. Ini harus disikapi Pemerintah Indonesia bahwa RI sejatinya tidak butuh mereka. Kita memerlukan mitra, bukan pendusta, apalagi penista," katanya.

Jika AS dan Australia tidak meminta maaf, maka Ramadhan berharap agar DPR mendesak Pemerintah Indonesia meninjau ulang hubungan dan kerja sama dengan keduanya, termasuk kerja sama dalam kemitraan strategisnya. "Masih banyak negara lain, seperti China, Rusia, Jerman, dan lain-lain bisa menggantikan posisi AS-Australia," kata Wakil Ketua Komisi I DPR ini.

Spionase AS dan Australia

Terkuaknya skandal penyadapan komunikasi oleh badan intelijen Amerika Serikat terus meluas. Bukan hanya negara-negara sekutu di Eropa yang menjadi sasaran, melainkan juga beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.

Australia, salah satu sekutu dekat AS, turut menyadap Indonesia. Laporan terbaru yang diturunkan laman harian Sydney Morning Herald (www.smh.com.au) pada Kamis (31/10/2013) dini hari waktu setempat, atau Rabu malam WIB, menyebutkan, kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta turut menjadi lokasi penyadapan sinyal elektronik. Surat kabar tersebut mengutip dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang dimuat di majalah Jerman, Der Spiegel.

Dokumen itu dilaporkan jelas-jelas menyebut Direktorat Sinyal Pertahanan Australia (DSD) mengoperasikan fasilitas program Stateroom. Itu adalah nama sandi program penyadapan sinyal radio, telekomunikasi, dan lalu lintas internet yang digelar AS dan para mitranya yang tergabung dalam jaringan "Lima Mata", yakni Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisSabrina Asril
EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM