Menhan Minta Australia Beri Klarifikasi kepada Indonesia - Kompas.com

Menhan Minta Australia Beri Klarifikasi kepada Indonesia

Rahmat Fiansyah
Kompas.com - 06/11/2013, 18:33 WIB
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan terkait penyerangan Lapas Cebongan, di Kantor Kemenhan, Jakarta, Kamis (11/4/2013). Dalam pernyataan resminya Purnomo menyatakan kasus penembakan terhadap empat orang tahanan oleh anggota Kopassus di LP Cebongan, Yogyakarta bukanlah pelanggaran HAM, sehingga tidak perlu dibentuk Dewan Kehormatan Militer.

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro mengatakan Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith akan datang ke Jakarta pada Kamis (7/11/2013) malam. Ia pun meminta Stephen untuk memberikan penjelasan kepada seluruh masyarakat Indonesia terkait penyadapan yang dilakukan Pemerintah Australia.

"Jadi Menhan Australia akan datang besok (Kamis), nanti kita atur preskon pada Jumat pagi," katanya di kantor Kementerian Pertahanan, Medan Merdeka, Jakarta, Rabu (6/11/2013).

Purnomo enggan berbicara lebih jauh terkait penyadapan yang dilakukan terhadap Pemerintah Indonesia. Meski begitu, ia menyatakan bahwa dirinya akan memberikan reaksi keras apabila Australia benar melakukan penyadapan. Namun, ia enggan mengungkapkan bentuk reaksi keras yang dimaksud.

"Kita tidak bisa beranda-andai. Besok kita pastikan ke Menhan Australia," kilahnya.

Spionase AS dan Australia

Terkuaknya skandal penyadapan komunikasi oleh badan intelijen Amerika Serikat terus meluas. Bukan hanya negara-negara sekutu di Eropa yang menjadi sasaran, melainkan juga beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia. Australia, salah satu sekutu dekat AS, turut menyadap Indonesia.

Laporan terbaru yang diturunkan laman harian Sydney Morning Herald (www.smh.com.au ) pada Kamis (31/10/2013) dini hari waktu setempat, atau Rabu malam WIB, menyebutkan, kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta turut menjadi lokasi penyadapan sinyal elektronik. Surat kabar tersebut mengutip dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang dimuat di majalah Jerman, Der Spiegel.

Dokumen itu dilaporkan jelas-jelas menyebut Direktorat Sinyal Pertahanan Australia (DSD) mengoperasikan fasilitas program Stateroom. Itu adalah nama sandi program penyadapan sinyal radio, telekomunikasi, dan lalu lintas internet yang digelar AS dan para mitranya yang tergabung dalam jaringan "Lima Mata", yakni Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisRahmat Fiansyah
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM