Rabu, 3 September 2014

News / Nasional

15 Tahun Reformasi, Indonesia Negara dengan Kebebasan

Rabu, 22 Mei 2013 | 04:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah 15 tahun perjalanan era Reformasi di Indonesia, survei menyatakan bahwa Indonesia telah menjadi negara yang menghormati kebebasan. Kebebasan yang dimaksud di sini meliputi kebebasan berpolitik, kebebasan berbicara, dan kebebasan pers. Salah satunya adalah hasil survei yang digarap Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

"Berkenaan dengan kebebasan persaingan antarpartai atau politisi, 67,5 persen (responden) menilai penting bagi bangsa. Dan 50,7 persen menilai kebebasan persaingan antara partai atau politisi kini lebih baik daripada masa Orde Baru," kata Direktur Riset SMRC Djayadi Hanan saat memaparkan hasil survei SMRC terhadap perjalanan 15 tahun Reformasi di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa (21/5/2013). SMRC menggunakan 1.200 responden untuk mengetahui tingkat perbandingan kepuasan antara pemerintahan Orde Baru dan Reformasi.

Survei yang berlangsung pada 1-10 April 2013 ini menggunakan metode wawancara tatap muka, dengan responden acak. Sampel diambil menggunakan teknik probably sampling. Sementara margin of error survei adalah 3 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Terkait kebebasan dalam berbicara, kata Djayadi, sebanyak 96,1 persen responden menyatakan kebebasan berbicara adalah hal yang penting. "Dan 70,9 persen menilai kebebasan berbicara kini lebih baik daripada masa Orde Baru," ungkapnya.

Demikian pula dalam hal kebebasan pers. "Sebanyak 93,6 persen menilai kebebasan pers penting bagi bangsa. Dan sebanyak 73,6 persen menilai kebebasan pers saat ini lebih baik daripada Orde Baru," ujar Djayadi.

Pada awal Reformasi, tutur Djayadi, banyak kalangan memperkirakan Indonesia akan hancur, terpecah, dan terpuruk. Kekhawatiran itu tak terbukti, bahkan berdasarkan laporan tahunan (2005-2013) salah satu LSM terkemuka di Amerika Serikat, Freedom House, Indonesia dinyatakan sebagai negara bebas ketika dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN.

"(Kebebasan di Indonesia) sejajar dengan Jepang, Korea Selatan, India, dan Taiwan," kutip Djayadi dari pernyataan LSM itu. Djayadi menambahkan, tidak sedikit lembaga internasional yang memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu negara penting. Salah satunya konsultan terkemuka Morgan Stanley yang meramalkan akan ada lima negara ekonomi baru yang berposisi dominan pada tahun 2020, mereka adalah Brasil, Rusia, India, China, dan Indonesia (BRICI).


Penulis: Dani Prabowo
Editor : Palupi Annisa Auliani