Kamis, 21 Agustus 2014

News / Nasional

Anas Buka-bukaan di Kompas TV

Anas Urbaningrum Siap Ditahan KPK

Kamis, 28 Februari 2013 | 17:32 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan penerimaan hadiah, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum belum ditahan. Namun, Anas menyatakan dirinya siap jika harus masuk bui kapan pun waktunya.

"Ya, itu kan konsekuensi, ya harus siap. Semuanya harus siap. Itu kan soal waktu saja. Jadi, lusa, besok, atau bulan depan sama saja," ujar Anas dalam wawancara khusus dengan Kompas TV di kediamannya, Kamis (28/2/2013). Anas melihat ada tersangka yang bisa langsung ditahan, ada pula yang sudah diperiksa berbulan-bulan, tetapi tidak juga masuk penjara tanpa menyebutkan siapa yang dimaksudnya itu.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) ini juga mengaku sudah mendengar kabar dirinya akan segera ditahan. "Saya dengar sejak tiga hari lalu. Katanya, rumornya, mau segera dijemput di rumah. Kenapa? Karena rumahnya ramai terus," kata Anas.

Namun, Anas menyatakan tidak mau ambil pusing terhadap rumor itu. Anas menuturkan, sejak tidak lagi menjadi ketua umum Partai Demokrat, dia akan lebih banyak di rumah. "Karena teman-teman saya lihat masih banyak yang ingin silaturahmi," ucap Anas.

Pada saat diwawancara, Anas kerap menyeka mukanya yang basah karena keringat. Anas mengaku tegang karena kurang istirahat. "Yah tegang karena dari pagi sampai pagi ketemu sama teman-teman, jadi kurang istirahat. Tapi, kalau sore hari, ya muka Anas sehari-hari begini," katanya.

KPK menjerat Anas dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penetapan Anas sebagai tersangka ini diresmikan melalui surat perintah penyidikan (sprindik) tertanggal 22 Februari 2013. Sprindik atas nama Anas tersebut, kata Juru Bicara KPK Johan Budi, ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Setelah ditetapkan sebagai tersangka terkait gratifikasi proyek Hambalang dan proyek lainnya, Anas akhirnya memutuskan keluar dari Partai Demokrat.


Penulis: Sabrina Asril, Dian Maharani
Editor : Palupi Annisa Auliani