Minggu, 21 September 2014

News / Nasional

Innocence of Muslims

Presiden Harus Sampaikan Keprihatinan Muslim di New York

Sabtu, 22 September 2012 | 15:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Hukum Internasional Hikmahanto Juwana menilai kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke New York, AS harus dimanfaatkan untuk menyampaikan keprihatinan negara berpenduduk Muslim terkait sikap berlebihan negara barat dalam mengagungkan kebebasan berpendapat.

"Kunjungan Presiden ke New York harus dimanfaatkan untuk menyampaikan keprihatinan negara berpenduduk muslim bahwa pemerintah negara-negara Barat tidak boleh berlebihan dalam menagungkan kebebasan berekspresi dan berpedapat atas dasar jaminan konstitusi khususnya yang ditujukan atau terarah penghinaan terhadap Islam," kata Hikmahanto di Jakarta, Sabtu (22/9/2012).

Berdasarkan pengalaman, kata dia, meski pengamanan di negara Barat tidak terganggu keamanannya, negara berpenduduk Islamlah yang paling tergangggu.

"Bahkan sejumlah korban berjatuhan," ujarnya.

Ia menjelaskan, bila kebebasan berpedapat dan berekspresi dilawankan dengan kemanan internasional maka keamanan internasional harus didahulukan. 

"Pelaku penghinaan harus dipastikan untuk dilakukan proses hukum agar ada efek jera. Juga bagi pihak-pihak lain untuk tidak melakukan hal yang sama (efek detterent)," katanya.

Penutupan kedubes

Pada kesempatan itu ia juga mengimbau agar jangan pernah terulang kembali penutupan Kedubes asing di Indonesia karena kekhawatiran soal keamanan.

Hal ini, menurut dia, akan membuat Indonesia dikesankan oleh masyarakat Internasional sebagai negara gagal seperti Somalia karena otoritas keamanan tidak dapat menjamin dan memberi rasa aman.

Pada Jumat (21/9), Kedutaan Besar AS dan Perancis tutup karena kekhawatiran yang luar biasa akan demo anarkis sebagai akibat protes atas Film Innocence of Muslims.

Penutupan Kedubes AS, kata Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan Kedubes AS di Indonesia, telah dikonsultasikan dengan otoritas Indonesia terlebih dahulu.

Sementara otoritas keamanan di Indonesia tidak ada satu pun yang mengklaim bahwa Jakarta sedang siaga satu atau kekhawatiran demo pasca-shalat Jumat akan berubah anarkis.

 


Editor : Hindra
Sumber: