Selasa, 30 September 2014

News / Nasional

FITRA: PT Telkom BUMN Paling "Korup"

Minggu, 15 Juli 2012 | 15:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Telekomunikasi Indonesia disebut sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang paling "korup"dari 144 BUMN induk berdasarkan hasil pemeriksaan anggaran yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan tahun 2005-2011. Potensi kerugian negara di BUMN itu sebesar Rp 12 miliar dan 130,2 juta dollar AS.

"Ada enam temuan kasus (dugaan penyimpangan penggunaan keuangan) di PT Telekomunikasi Indonesia," kata Uchok Sky Khadafi Koordinator Investigasi dan Advokasi Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) di Jakarta, Minggu (15/7/2012).

Uchok mengatakan, potensi kerugian negara dalam 144 BUMN induk mencapai Rp 4,9 triliun, 305 juta dollar AS, dan 3,3 juta yen Jepang dengan total dugaan penyimpangan penggunaan keuangan sebanyak 2.757 kasus. Dari jumlah itu, 1.527 kasus masih dalam proses tindaklanjut. "Sisanya belum ditindaklanjuti," kata Uchok.

Potensi kerugian negara itu, kata Uchok, terjadi akibat lemahnya sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan, lemahnya sistem pengendalian pelaksanaan anggaran, dan lemahnya pengendalian internal.

Berikut daftar 24 BUMN yang memiliki catatan kasus yang potensial merugikan keuangan negara:

1. PT Telekomunikasi Indonesia (Rp 12 miliar, 130 juta dollar AS).

2. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Rp 904 ,8 miliar)

3. PT Jasa Marga (Rp 605 ,4 miliar)

4. PT Bahana PUI (Rp 237 ,8 miliar, 39,5 juta dollar AS)

5. PT PLN (Rp 556 ,5 miliar)

6. PT Pembangunan Perumahan (Rp 330 ,6 miliar)

7. PT Hutama Karya (Rp 300 ,6 miliar)

8. PT Pertamina (32,4 juta dollar AS)

9. PT Danareksa (28,1 juta dollar AS)

10. PT Wijaya Karya (Rp 129 miliar, 11,4 juta dollar AS)

11. PT Wijaya Karya (Rp 129 miliar, 11,4 juta dollar AS)

12. PT PPA (25 juta dollar AS)

13. PT Taspen (Rp 165 ,7 miliar)

14. PT Nindya Karya (Rp 144 ,2 miliar)

15. PT Adhi Karya (Rp 130 ,4 miliar)

16. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Rp 125 ,9 miliar)

17. Perum Bulog (Rp 117 miliar)

18. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (12,7 juta dollar AS)

19. PT Kereta Api Indonesia (Rp 110 ,8 miliar)

20. PT Industri Kapal Indonesia (12,2 juta dollar AS)

21. PT Wijaya Karya (11,4 juta dollar AS)

22. Perum Perhutani (Rp 88,8 miliar, 758 ,6 ribu dollar AS)

23. PT Asuransi Jawisraya (Rp 90,4 miliar, 6 ribu dollar AS)

24. PT PANN Multi Finance (4,6 juta dollar AS)

 


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Heru Margianto