Jumat, 25 Juli 2014

News /

Atas Nama Cinta

Minggu, 13 April 2008 | 01:44 WIB

ilham khoiri & dahono fitrianto

Sutradara Rudy Soedjarwo kembali meluncurkan karya terbaru, ”In The Name of Love”. Film yang bertaburan bintang tua dan muda ini menjanjikan adu akting antargenerasi yang menarik. Hanya saja, cerita yang mirip kisah Romeo dan Juliet itu masih mengundang banyak rasa penasaran.

Seperti kisah tragis Romeo and Juliet karya William Shakespeare, In The Name Of Love juga menceritakan sepasang kekasih yang saling jatuh cinta, tetapi terhalang permusuhan kedua keluarganya. Jika karya klasik itu berlatar belakang kehidupan di Verona, Italia, pada abad pertengahan, maka film ini terjadi di tengah dua keluarga pengusaha kaya di sebuah kota yang sunyi di Indonesia. Skenario film ditulis Titin Wattimena dan Rudy Soedjarwo.

Tersebutlah dua keluarga pengusaha kaya yang saling bermusuhan. Keluarga pertama, Triawan Negara (Roy Marten) dan istrinya, Citra (Christine Hakim), dengan lima anaknya, yaitu Rianti (Luna Maya), Panji (Yama Carlos), Banyu (Nino Fernandez), Saskia (Acha Septriasa), dan Dirga (Panji Rahadi). Keluarga lain, Satrio Hidayat (Cok Simbara) dan Kartika (Tutie Kirana) bersama tiga anak lelaki, yaitu Aryan (Lukman Sardi), Aditya (Tengku Firmansyah), dan Abimanyu (Vino G Bastian).

Dalam suasana penuh permusuhan, Abimanyu dan Saskia saling jatuh cinta. Kasih kedua muda-mudi ini langsung terbentur larangan kedua keluarga yang sama-sama bertekad memutuskan hubungan asmara itu. Atas nama cinta, Abi dan Saskia mencoba bertahan di tengah perang antarkeluarga itu.

Saat keduanya kabur, perang antarkeluarga memuncak. Mereka terlibat perkelahian, bahkan tembak-tembakan. Di tengah masing-masing keluarga itu juga muncul cek-cok yang menegangkan.

Mengobati rindu

Film ini mengobati kerinduan masyarakat pada penampilan aktor-aktor generasi tua. Nikmat rasanya menonton akting Cok Simbara dan Christine Hakim. Masing-masing berhasil membawakan tokoh tua yang murung, pernah terikat asmara saat muda, tetapi gagal mewujudkannya dalam pernikahan.

Begitu pula Roy Marten yang hadir sebagai sosok pengusaha yang tampak sukses, tetapi gemar main kasar sama istri. Tutie Kirana muncul selaku perempuan yang masygul, tetapi tetap mencoba memahami keadaan.

Bagaimana penampilan anak- anak muda? Dalam film ini, terus terang akting mereka tak sekuat aktor-aktor veteran tadi meski juga tak bisa dibilang lemah. Penampilan Acha Septriasa yang jadi gadis emosional, Lukman Sardi yang berangasan, Luna Maya yang jutek, dan Tengku Firmansyah yang temperamen turut menghidupkan film ini.

Penasaran

Di luar pamor aktor kawakan tadi, kisah film ini mirip sinetron atau mini seri televisi yang mengundang beberapa rasa penasaran. Pertama, apa sebenarnya akar persoalan yang menyebabkan dua keluarga itu saling bermusuhan sedemikian hebat, bahkan sampai diturunkan ke anak-anak? Penonton hanya diberi jawaban samar lewat adegan kilas balik dan pembicaraan antara Satrio dan Citra.

Adegan memperlihatkan, keduanya pernah saling mencintai saat remaja dulu. Tetapi, karena sesuatu hal (yang tak terjelaskan hingga film berakhir), Citra akhirnya menikah dengan Triawan.

Kedua, seberapa besar bangunan cinta kisah Abi-Saskia sehingga keduanya merasa perlu memperjuangkannya? Gambaran hubungan yang bermula dari perkenalan di kantin kampus, lalu jadian pacaran, dan akhirnya kabur bersama itu belum begitu meyakinkan untuk dijadikan alasan kuat bagi sebuah perjuangan mati-matian.

Ketiga, kenapa dua keluarga itu seperti hidup sendirian di tengah kota yang sepi? Apakah adu tembak di tempat umum tak mengundang massa dan kenapa tak ada urusan dengan polisi?

Meski begitu, harus disadari, ternyata In The Name of Love adalah film yang belum rampung. Tulisan to be continued alias bersambung muncul pada akhir film. Artinya, kita bisa berharap, beberapa pertanyaan itu bakal terjawab pada sekuel lanjutannya nanti.

Rudy Soedjarwo mengakui, seluruh permasalahan dan potensi cerita tak mungkin diselesaikan dalam satu film berdurasi dua jam. ”Film pertama ini baru pengenalan tokoh. Jadi, memang banyak yang belum terjelaskan. Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang masih menggantung akan dijelaskan di film kedua,” ujar Rudy, saat dihubungi, Jumat (11/4) lalu.

Menurut produser film Tutie Kirana, saat ini sekuel itu masih dibahas dengan para pemain dan kru lain. Hanya saja, rencana itu terbentur beberapa kendala, termasuk Roy Marten yang masih terlibat kasus pidana. Apakah akan ada sekuel ketiga setelah itu?

”Walah, yang kedua aja belum jelas. Memangnya mau nyariin sponsor?” tukas Tutie.


Editor :