Jumat, 19 September 2014

News / Kesehatan

CAPD, Alternatif Bagi Penderita Gagal Ginjal

Sabtu, 15 Maret 2008 | 09:33 WIB

BAGI para penderita gagal ginjal, kegiatan cuci darah adalah suatu keharusan. Biasanya, para penderita ini melakukan hemodialisis (cuci darah melalui mesin) 2-3 kali dalam seminggu di Rumah Sakit. Namun, dalam 4 tahun terakhir mulai disosialisasikan sebuah alternatif dimana penderita dapat melakukan cuci darah sendiri di rumah. Metode tersebut dikenal dengan Peritoneal Dialysis (PD).

Ada dua macam PD, yaitu Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dan Automated Peritoneal Dialysis (APD). APD relatif masih jarang digunakan oleh masyarakat Indonesia, mengingat metode ini menggunakan mesin yang dipasang di rumah penderita. "Tapi harganya berikisar 120 hingga 150 juta, sehingga mungkin memberatkan. Kalau APD ini, cuci darahnya memang hanya sekali dilakukan ketika menjelang tidur. Tapi dengan harga segitu, daripada beli mesin dengan harga segitu, mending transplantasi ginjal saja kan," ujar dr. Erlan, Marketing Manager Divisi Renal PT Kalbe Farma, disela-sela acara gathering para penderita gagal ginjal, Sabtu (15/3).

Sementara itu, dengan CAPD dikatakan dr. Erlan dapat menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita. Sebab, mereka dapat menjalani hidupnya dengan normal, tanpa banyak batasan untuk mengkonsumsi makanan. Clinical Coordinator Kalbe Farma, Kriatianto Dhanu menjelaskan, CAPD dipasang permanen di tubuh penderita, tepatnya di bagian perut.

Sebuah catheter (kateter) dipasang di bagian perutnya dan disediakan sebuah kantong untuk menjamin kesterilannya. Dengan CAPD, penderita cukup melakukan kontrol 1 kali dalam sebulan ke rumah sakit. Pola kerja cuci darahnya, kateter disambungkan dengan titanium adapter yang akan mengalirkan cairan dextrose. Cairan inilah yang berfungsi untuk menarik racun dari dalam tubuh. Proses pengaliran cairan ini hanya membutuhkan waktu 10 menit. Dalam sehari dilakukan sebanyak 3-4 kali.

"Jaraknya sekitar 4 sampai 6 jam dari satu pencucian dengan pencucian berikutnya. Kalau transfer set nya bisa diganti 6 bulan sekali. Kita menyediakan 4 jenis konsentrasi dextrose. Tergantung berapa banyak cairan yang akan dikeluarkan," papar Dhanu. Konsentrasi cairan itu, ada yang 1,5 persen, 2,5 persen, 4,25 persen dan 7,5 persen. Khusus yang konsentrasi 7,5 persen dikenal dengan ecodextrin, yang baru digunakan di Indonesia dalam 2 tahun terakhir. Biayanya, dalam sebulan dengan estimasi 4 kali ganti kantong mencapai Rp5,5 juta.

"Tapi kuncinya, harus disiplin tinggi. Karena tanpa disiplin, nggak bisa berhasil. Misalnya, saat melakukan pencucian darah tangan mereka harus bersih, AC dan kipas angin tidak boleh menyala serta lampu harus terang. Kadang-kadang masyarakat kita teledor, kalau sudah enak terus lupa," terang dr. Erlan lagi.

Di seluruh Indonesia ada sekitar 650 penderita gagal ginjal yang berada di bawah pembinaan Kalbe Farma. Terdapat pula 14 perawat yang melakukan kunjungan terhadap pasien untuk mengadakan training mengenai penggunaan CAPD. Terutama kepada para pasien baru. "Kita akan terus sosialisasikan, karena ini bisa dibilang sebagai teman hidup baru," pungkas Erlan. Untuk lebih lengkapnya, dapat mengakses www.sahabatginjal.com.


Editor :