Sekretaris Kotjo Akui 4 Kali Diperintah Berikan Uang kepada Eni Maulani

Kompas.com - 04/12/2018, 11:59 WIB
Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih (kanan) meninggalkan gedung KPK seusai diperiksa di Jakarta, Senin (24/7). Eni Saragih diperiksa penyidik KPK untuk mendalami kasus dugaan suap yang ia terima dari Johannes Budisutrisno Kotjo terkait pembangunan PLTU Riau-1. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww/18. Hafidz Mubarak AWakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih (kanan) meninggalkan gedung KPK seusai diperiksa di Jakarta, Senin (24/7). Eni Saragih diperiksa penyidik KPK untuk mendalami kasus dugaan suap yang ia terima dari Johannes Budisutrisno Kotjo terkait pembangunan PLTU Riau-1. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww/18.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan lima saksi dalam persidangan terhadap terdakwa mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Salah satunya adalah sekretaris pribadi Johannes Budisutrisno Kotjo, Audrey Ratna Justianty.

Dalam persidangan, Audrey mengaku pernah empat kali diperintah Kotjo untuk memberikan uang kepada Eni Maulani.

Baca juga: Eni Maulani Didakwa Terima Suap Rp 4,7 Miliar Terkait Proyek PLTU Riau 1

Semua pemberian uang dilakukan antara Audrey dan orang kepercayaan Eni.

"Pernah, ada yang berupa cek dan ada yang cash," ujar Audrey kepada jaksa KPK.

Menurut Audrey, pemberian pertama diserahkan sebesar Rp 2 miliar dalam bentuk cek. Kemudian, pemberian kedua dengan jumlah yang sama dalam bentuk tunai.

Ketiga, sebesar Rp 250 juta dan keempat sebesar Rp 500 juta. Tiga kali pemberian tersebut secara tunai dan diserahkan kepada orang kepercayaan Eni, Tahta Maharaya.

"Semua dari rekening pribadi Pak Kotjo, saya diminta buatkan tanda terima," kata Audrey.

Baca juga: Eni Maulani Didakwa Terima Gratifikasi Rp 5,6 M dan 40.000 Dollar Singapura dari Bos Perusahaan Migas

Dalam kasus ini, Eni Maulani Saragih didakwa menerima suap Rp 4,7 miliar dari Johannes Budisutrisno Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd.

Menurut jaksa, uang tersebut diberikan dengan maksud agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang (PLTU) Riau 1.

Proyek tersebut rencananya akan dikerjakan PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PT PJBI), Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company Ltd yang dibawa oleh Kotjo.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X