Gerakan "Emas" Prabowo-Sandiaga Ingin Cegah Stunting yang Mengancam Bonus Demografi

Kompas.com - 24/10/2018, 21:27 WIB
(kiri-kanan) Reza Indragiri Amriel (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia), Arie Mufti (Sandinomics), moderator, dan Dhienda Nasrul (Generasi Milenial Indonesia Prabowo-Sandi) menjadi pembicara dalam Diskusi bertajuk Gerakan Emas di Jakarta, Rabu (23/10/2018). Dalam diskusi tersebut, ketiganya memaparkan gejala dan cara pencegahanya stunting CHRISTOFORUS RISTIANTO/KOMPAS.com(kiri-kanan) Reza Indragiri Amriel (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia), Arie Mufti (Sandinomics), moderator, dan Dhienda Nasrul (Generasi Milenial Indonesia Prabowo-Sandi) menjadi pembicara dalam Diskusi bertajuk Gerakan Emas di Jakarta, Rabu (23/10/2018). Dalam diskusi tersebut, ketiganya memaparkan gejala dan cara pencegahanya stunting

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno memperkenalkan gerakan "Generasi Emas" atau Generasi Emak-Emak dan Anak Minum Susu.

Harapanya, program tersebut mampu meningkatkan produktivitas anak muda dan tidak menghambat bonus demografi tahun 2020 dan generasi masa depan.

"Masih banyak anak-anak kita yang tertinggal. Secara ekonomi, ini adalah distorsi karena mengancam bonus demografi Indonesia," kata Arie Mufti, anggota dari sistem ekonomi ala Sandi (Sandinomics) dalam diskusi bertajuk "Generasi Emas" di Jakarta, Rabu (23/10/2018).

Gerakan Emas tersebut bertujuan untuk perbaikan gizi sehingga menurunkan angka stunting, dan mencerdaskan masyarakat melalui penyebaran susu bagi ibu dan anak.

Baca juga: Di Hadapan Emak-emak, Prabowo Subianto Deklarasikan Gerakan Emas

 

Maka dari itu, Arie mengemukakan, generasi milenial yang menjadi target edukasi Prabowo-Sandi dalam menyebarluaskan program ini diharapkan mampu melawan masalah stunting yang ada di Tanah Air.

"Dan kita berharap jangan sampai hilang bonus demografi ini. Tapi, di saat yang sama, pemerintah belum bisa menyelesaikan gejala stunting ini," lanjutnya.

Bagi Arie, hingga kini pemerintah belum menunjukkan solusi dan hasil yang konkret dalam menyelesaikan gejala stunting. Hal itu diungkapkan Arie berdasarkan data dari World Bank yang menyebut 38 persen penduduk di Indonesia masih mengalami gejala stunting.

Sementara itu, Reza Indragiri Amriel dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menuturkan, kesuksesan Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda. Bagi Reza, alih-alih mampu menjadi potensi peningkatan ekonomi, bonus demografi bisa nirhasil jika stunting masih 38 persen.

"2020 adalah masa yang cerah. Tapi kita juga berpikir bagaimana jika stunting justru memberikan hasil yang buruk bagi Indonesia," ucapnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X