Muhammadiyah Berencana Tak Hadiri Sidang Isbat Kementerian Agama

Kompas.com - 16/06/2014, 15:38 WIB
Menteri Agama, Suryadharma Ali memimpin jalannya Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1433 H di Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (18/8/2012). Sidang Isbat menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah secara serentak jatuh pada Minggu, 19 Agustus 2012. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESMenteri Agama, Suryadharma Ali memimpin jalannya Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1433 H di Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (18/8/2012). Sidang Isbat menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah secara serentak jatuh pada Minggu, 19 Agustus 2012. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
|
EditorFidel Ali Permana

JAKARTA, KOMPAS.com
- Muhammadiyah tidak akan menghadiri sidang Isbat yang nanti akan digelar oleh Kementerian Agama, jika masih menggunakan format yang sama seperti tahun sebelumnya. Format yang dimaksud adalah menayangkan keseluruhan proses sidang Isbat secara langsung kepada masyarakat.

"Kalau caranya masih sama seperti tahun lalu, kemungkinan besar kami tidak hadir," ujar Ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih dan Tajdid, Yunahar Ilyas, saat menggelar konferensi pers di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, No. 62, Jakarta Pusat, Senin (16/6/2014).

Yunahar mengatakan, dalam melakukan sidang isbat, seharusnya proses sidang isbat dilakukan secara tertutup. Hal itu untuk menghindari debat-debat yang terjadi pada saat menentukan awal Ramadhan, tidak disaksikan publik. Menurutnya, siaran langsung cukup dilakukan pada saat mengumumkan penetapan tanggal satu Ramadhan.

"Kalau sekarang kan seperti pertunjukan. Debat disaksikan umat," ujar Yunahar.

Jika Kementerian Agama menggunakan format sidang Isbat tertutup, lanjut Yunahar, Muhammadiyah siap untuk hadir dan melakukan diskusi dalam menentukan awal puasa.

"Mau diskusi sekeras apapun kalau tertutup kan tidak ada masalah," ujarnya.

Sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1435 Hijriyah jatuh pada tanggal 28 Juni 2014. Hal itu berdasarkan hasil metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah untuk menetapkan hari pertama puasa.

"Berdasarkan hasil hisab tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1435 pada hari Sabtu Pon 28 juni 2014 Masehi," ujar Yunahar.

Yunahar mengatakan, ijtima menjelang Ramadhan 1435 H terjadi pada hari Jumat Pahing, 27 Juni 2014, pukul 15:10:21 WIB. Tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta, hilal berada di atas ufuk pada 0 derajat, 31 menit, 17 detik. Artinya, kata dia, kondisi tersebut menunjukkan hilal sudah wujud.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X