Plasma Nutfah Pangan Terabaikan

Kompas.com - 22/02/2013, 02:50 WIB
Editor

Manfaat lain pohon aren, akarnya berpotensi untuk pengobatan batu ginjal dan ruam pada kulit. Kulit luar batang aren yang sangat keras bisa untuk bahan komposit kayu. Empulur aren untuk sumber karbohidrat. Ijuk untuk bahan serat. Daun aren untuk bahan atap bangunan. Umbut aren untuk sayur.

LIPI membidik biji-bijian untuk mengganti gandum, yaitu tareang, sereal unggul dari Sulawesi Barat. Tareang (Setaria italica) memiliki butiran lebih padat pada setiap malai dibandingkan dengan serealia lain seperti jewawut di Jawa. Tareang mudah tumbuh di lahan-lahan marjinal.

Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) juga disebut sebagai bahan pangan fungsional. Umbinya mengandung glucomannan dengan kadar 20,19 persen. Glucomannan merupakan zat pengental yang kaya serat untuk suplemen makanan antikolesterol, penetral kadar gula darah, dan penyerap racun dalam pencernaan.

Di Jepang dipopulerkan Amorphophallus konjac untuk pemenuhan glucomannan. Periset LIPI menemukan, kandungan glucomannan pada Amorphophallus titanum lebih kaya dibandingkan dengan Amorphophallus konjac yang hanya memiliki 10,34 persen glucomannan.

Ada pula suweg (Amorphophallus paeoniifolius). Tepung suweg dengan indeks glikemik kurang dari 55 dapat menekan kadar gula darah. Seratnya mampu mengikat kolesterol.

Umbi lain, yaitu ganyong (Canna edulis), disebutkan memiliki komposisi mikronutrien zat besi (Fe) dan kalsium (Ca). Tepung ganyong memiliki protein yang lebih baik dibandingkan dengan gandum sehingga berpotensi lebih baik untuk bahan pembuat roti.

Kita memiliki beragam jenis buah pisang. Namun, kelimpahan manfaat belum banyak disosialisasikan. Kadar kalium (K) pada pisang mampu menanggulangi ketidakseimbangan ion dalam darah yang menyebabkan hipertensi. Pisang menjadi sumber mineral penting magnesium, fosfor, kalsium, dan zat besi.

Meski demikian, menurut para peneliti LIPI, hingga saat ini budidaya pisang masih sekadarnya.

Domestikasi hewan

Para peneliti LIPI juga mengemukakan pentingnya meningkatkan produksi daging berbasis satwa lokal dengan cara mendomestikasi. Dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, dapat didomestikasi beragam jenis rusa (Cervus spp, Muntiacus spp). Dari Sulawesi ada anoa (Bubalus spp), babi rusa (Babyrousa babyrousa), rusa (Cervus timorensis). Dari Papua ada kelompok walabi dan kanguru (Macropus spp, Dendrolagus spp).

Para peneliti LIPI menawarkan teknologi transfer embrio untuk mendomestikasi berbagai jenis satwa lokal itu untuk peningkatan produksi daging.

Buku dari LIPI itu, menurut tokoh lingkungan Emil Salim, menggambarkan banyaknya ilmu yang dimiliki. Tantangan berikutnya adalah mengimplementasikan ilmu untuk meningkatkan kesejahteraan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.