Partai Islam Dukung Hukum Sekuler

Kompas.com - 28/03/2012, 07:42 WIB
EditorEgidius Patnistik

TUNIS, KOMPAS.com - Partai Islam yang sedang berkuasa di Tunisia, Ennahda, mengatakan tidak akan mengabadikan hukum Islam ke dalam konstitusi baru negara itu, Selasa (27/3), di Tunis. Pemerintah akan tetap menjaga sifat sekuler negara di Afrika utara itu.

Isu ini menjadi perdebatan tajam dengan kubu garis keras di negara itu.  Ennahda adalah partai Islam yang berkuasa setelah memenangi pemilu pertama tahun lalu dalam situasi demokratis. Pada Selasa, partai ini mengatakan akan tetap mempertahankan pasal pertama dari konstitusi atau undang-undang dasar (UUD) tahun 1956.

Dengan kata lain, pasal pertama konstitusi 1956 itu akan tetap dipertahankan di dalam konstitusi yang baru. Instansi terkait kini sedang membahas pasal-pasal yang memungkinkan negara itu tidak akan memiliki konstitusi yang berlandaskan pada hukum Islam.

”Kami tidak akan menggunakan hukum yang berlandaskan pada agama,” kata Ketua Umum Ennahda, partai Islam moderat, Rached Ghannouchi dalam sebuah konferensi pers.

Ada perlawanan

Pasal pertama UUD terdahulu menyebutkan, ”Tunisia adalah sebuah negara yang bebas, merdeka dan berdaulat, beragama Islam, berbahasa Arab, serta berbentuk republik.”

”Keputusan Ennahda itu bertujuan untuk memperkuat konsensus nasional dan mendorong suksesnya peralihan demokrasi di negara. Ini juga bertujuan untuk menyatukan semua kekuatan politik agar bersatu menghadapi tantangan negara,” kata politisi Ennahda lainnya, Zied Doulatli.

Sikap politik partai penguasa Tunisia itu bukan tanpa hambatan. Ada perlawanan kuat dari kubu ultra-konservatif salafis. Kubu ini berjuang dan mendorong agar negara memperhatikan aspirasi rakyat mayoritas yang memelopori aksi prodemokrasi dan reformasi di negara itu. Kubu ini meminta negara menggunakan hukum syariah.

Kaum Salafis telah melakukan serangkaian aksi protes untuk menekan partai penguasa demi mempertahankan syariah. ”Tindakan partai Ennahda di- nilai sebagai pengkhianatan terhadap para pemilihnya,” kata Hechmi Haamdi dari kelompok Al-Arydha. (AFP/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.