Bisa-bisa Dosen Tak Punya Waktu Mengajar...

Kompas.com - 20/02/2012, 14:58 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

SURABAYA, KOMPAS.com - Respons dari kalangan perguruan tinggi masih terus mengalir dari kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dituangkan melalui Surat Edaran (SE) Ditjen Dikti Nomor 152/E/T/2012 tentang publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3. Kebijakan ini akan berlaku bagi mahasiswa yang lulus setelah Agustus 2012.

Pimpinan Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya mempertanyakan standar ilmiah atau keilmiahan dari kebijakan tersebut.

“Jurnal ilmiah itu harus memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah, yakni karya itu harus melalui proses uji dari 1-2 reviewer dan jurnal ilmiah yang memuatnya pun harus terakreditasi,” kata Rektor Universitas Surabaya Prof Joniarto Parung PhD, di Surabaya, Senin (20/2/2012).

Menurut dia, bila tak ada ketentuan tersebut, bisa menyebabkan jurnal ilmiah itu tidak berkualitas secara ilmiah.

“Jadi, tidak mudah. Tapi kalau kualitas keilmiahan itu dijadikan syarat kelulusan, maka mahasiswa akan sulit memenuhi kualitas itu, sehingga kelulusannya akan tertunda,” katanya.

Apalagi, katanya, di Indonesia ada sekitar 16.000 program studi. “Anggap saja setiap prodi itu meluluskan 50 orang setiap tahun, maka akan ada 800.000 mahasiswa yang akan lulus S-1 dalam setiap tahun,” katanya.

“Kalau paper itu minimal delapan halaman, maka akan ada 6,4 juta lembar paper. Pertanyaannya, siapa yang akan menjadi reviewer (penguji) bagi 800.000-an paper. Bisa jadi, dosen enggak sempat mengajar,” katanya.

Menurutnya, bila dipaksakan dengan jurnal elektronik tanpa reviewer, maka paper yang terbit akan “asal membuat”. Tetapi. kebijakan dinilainya bisa diterapkan untuk dosen dan dosen yang aktif menulis diberi reward sehingga dia akan semakin aktif. “Jadi, jangan kebijakan dadakan dan asal-asalan,” kata Joniarto.

Senada dengan itu, Kepala Perpustakaan Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya Aditya Nugraha menyatakan tidak setuju kewajiban itu untuk S-1 dan S-2, karena standar keilmiahan belum dapat dipenuhi oleh mereka.

“Lulusan S-1 itu umumnya tidak selalu menulis skripsi ilmiah dan lulusan S-2 juga bisa memilih jalur non-akademis, apalagi kalau dikaitkan dengan reviewer, karena syarat reviewer itu sulit dan bahkan tidak semua dosen itu bisa menjadi reviewer,” katanya.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.