Tetap Waspadai Ancaman E.Coli

Kompas.com - 06/06/2011, 11:19 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Meskipun di Indonesia tidak dilaporkan akan adanya kasus infeksi strain E.Coli yang sedang mewabah di Eropa, masyarakat diminta tetap waspada dengan ancaman infeksi bakteri yang telah merenggut banyak korban tersebut.

Langkah pengamanan dapat dilakukan dengan cara selalu menjaga kebersihan, mengurangi konsumsi makanan mentah dan selalu memanaskan makanan hingga suhu tertentu. 

Menurut Dr. Anis Karuniawati, PhD, SpMK, Ketua Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) kewaspadaan tetap perlu dilakukan meski diketahui orang Indonesia pada umumnya lebih suka mengkonsumsi makanan yang sudah matang. Berbeda dengan warga Eropa yang memiliki kebiasaan menyantap makanan mentah, terutama sayur-sayuran.

Untuk mencegah kemungkinan infeksi bakteri membahayakan, kata Anis, setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan. Pertama, hindari makan makanan yang mentah serta cuci sayuran dengan air matang untuk mengurangi jumlah bakteri.  Kedua, memasak makanan/minuman dengan benar, sampai matang. Ketiga, cuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan (atau dengan hand sanitizer).

"Bakteri pada umumnya akan mati pada pemanasan 70 derajat celcius selama 30 menit. Sehingga, perlu diperhatikan proses pengolahan makanan/minuman," imbuh  Anis  Sabtu, (4/6/2011), di Jakarta.

Gagal ginjal

Wabah bakteri di Eropa saat ini, menurut di sebabkan oleh kuman yang termasuk dalam kelompok Entero-haemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Escherichia coli atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti strain E. Coli seperti O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Diketahui bahwa, EHEC selain menyebabkan diare akut juga dapat menyebabkan Hemolytic Uremic Syndrome (HUS)/gagal ginjal langka. Menurut  Anis,  hal itu karena E.coli tersebut memiliki kemampuan menghasilkan toksin yang disebut Verotoksin (VT) 1 dan 2.

Secara singkat Anis memaparkan bagaimana proses bakteri tersebut bisa mengakibatkan gagal ginjal pada si penderitanya. "Bakteri masuk bersama makanan terkontaminasi lalu melekat pada mukosa usus besar dan menghasilkan toksin tersebut. Verotoksin kemudian masuk ke aliran darah dan terikat pada reseptor Gb3 yang terdapat di ginjal," katanya.

Anis melanjutkan, Verotoksin yang dihasilkan EHEC diketahui mirip dengan toksin yang dihasilkan oleh Shigella dysentriae sehingga disebut juga Shiga-like toxin (ST). Sehingga dapat dikatakan bahwa, E.coli tersebut kemungkinan mendapatkan kemampuan menghasilkan toksin akibat transfer gen dari Shigella dysentriae.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.