Perajin Batik DIY Gunakan Pewarna Alami

Kompas.com - 31/10/2010, 12:20 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah perajin batik di wilayah DIY cenderung menggunakan pewarna alami dalam proses pembuatan batik tulis karena selain ramah lingkungan juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Perajin batik dengan pewarna alami, Nurhaini, di Yogyakarta,Minggu mengatakan jika dirinya menyukai pembuatan batik tulis dengan pewarna alami ketimbang dengan warna kimia, selain bahan bakunya tergolong murah dan warna yang dihasilkan memilki daya tahan yang cukup lama.

Di sela-sela kegiatan Jogja Export Expo, yang diselenggarakan di Jogja Expo Center (JEC) 27-31 Oktober 2010, ia mengatakan pilihan penggunaan pewarna alam karena pertimbangan bahan bakunya sangat mudah didapat.

"Kami dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan, mulai dari buah, daun hingga kayu dan semuanya dapat menghasilkan warna batik yang memukau," katanya.

Menurutnya, bahan baku untuk pewarnaan alami sangat mempengaruhi kualitas warna pada kain batik, khususnya untuk kualitas warnanya.

"Misalnya warna yang dihasilkan dari buah manggis akan jauh lebih baik dan tahan lama daripada warna yang dihasilkan pada pewarna alam lainnya," katanya.

Nurhaini juga mengatakan, jika sejumlah wistawan lokal lebih banyak meminati batik tulis dengan pewarnaan alam.

"Hampir setiap bulan, daya beli wisatawan lokal terhadap batik tulis dengan pewarnaan alam ini sangat tinggi. Kami biasanya dalam satu bulan mampu menjual sekitar 100 potong batik tulis ini," katanya.

"Sebagian besar wisatawan lokal yang meminati batik tulis ini adalah wisatawan asal Jakarta, Surabaya dan Bali serta ada juga dari Sumatra dan Kalimantan," kata Nurahaini.

Hal senada juga dikatakan perajin batik tulis lainnya, Surtinah, yang menggunakan pewarna alami sebagai bahan pewarnaan batik.

"Menggunakan warna alami sebagai bahan pewarnaan batik tulis sangat menguntungkan selain ramah lingkungan, mudah mendapatkan bahan bakunya serta harga jualnya pun sangat tinggi," katanya.

Sejumlah wisatawan cenderung ingin mencari sesuatu yang berbeda dan unik dari kain batik, dan realitanya sebagain besar kain-kain batik yang dijual di pasaran mayoritas menggunakan pewarna kimia yang mempunyai dampak bagi lingkungan dan bagi konsumn itu sendiri.

"Kain batik sebagian besar menggunakan pewarnaan kimia, selain daya tahan warnanya yang tidak terlalu lama, mudah luntur dan tergolong tidak ramah dengan lingkungan," katanya.

Selain itu, Surtinah juga mengatakan jika peminat batik tulis dengan pewarnaan alami cukup banyak yang tampak dari jumlah permintaan terhadap batik tulis dengan pewarna alami selalu meningkat.

"Dalam satu bulan kami mampu menjual sekitar 100-200 potong batik tulis dengan harga yang bervariasi mulai Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per potong," katanya.

Surtinah juga mengatakan, jika dirinya menggunakan berbagai macam pewarna alam di antaranya Mahoni, Manggis, Jati dan Ijolawe sebagai bahan pewarnaan batik tulis.

"Kami berupaya untuk menciptakan suatu inovasi pewarnaan batik yang ramah dengan lingkungan,serta memanfaatkan hasil alam yang tidak digunakan," katanya.

Ia berharap bagi para perajin batik lainnnya, untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan cara menggunakan bahan-bahan pewarna batik yang ramah dengan lingkungan.

"Dalam proses pembuatan batik tulis ini limbah hasil pencucian perlu diperhatikan karena dapat menggangu lingkungan sekitar apalagi jika menggunakan pewarnaan kimia, maka harus dapat mengolah limbah tersebut agar tidak merusak lingkungan,’ katanya.


EditorBenny N Joewono

Close Ads X