Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Senapan Buru dan Setangkai Mawar FAHIRA

Kompas.com - 05/09/2010, 03:14 WIB

Tentu bukan bermaksud menghapus citra kekerasan itu jika Ira mencintai mawar. ”Kalau aku lagi ruwet, aku selalu lihat mawar, seolah keruwetan pikiran itu larut dalam kepingan-kepingan mawar,” cerita Ira.

Ia selalu kagum kepada penemuan para ilmuwan bunga di Belanda. ”Mau mawar jenis apa saja bisa. Seolah jenis itu bisa dipesan…,” katanya.

Cuma, tambahnya, satu hal yang tak bisa disamai manusia atas kebesaran Tuhan, ”Mawar hasil teknologi itu tidak seharum mawar alam. Jadi, harum alami itu tidak bisa ditiru.”

Kecintaan Ira pada bunga sebenarnya sudah terjadi jauh hari sebelum ia memutuskan menjadi atlet menembak kategori berburu. Semua bermula dari kegemarannya merangkai parsel dan bunga. Bahkan, kegemaran itu berujung pada pembukaan usaha parsel bernama Belia Pratama awal tahun 1990-an bersama 11 teman kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sekitar tahun 1994 sebagian besar teman ”bisnisnya” mengundurkan diri karena berbagai alasan. Ira tak kunjung surut. Ia mengambil alih usaha parsel dengan nama Nabila, bahkan mengembangkannya dengan menambahkan usaha menjual bunga rangkai. Ira merasa perlu berguru kepada Jane Paker, seorang florist terkenal di London, Inggris. Di situ Ira tak hanya memperdalam ilmu merangkai bunga, tetapi juga mengenal Flower Trans Delivery, sebuah jaringan pemesanan bunga yang berbasis di Amerika Serikat. Dan, tahun 1995, Ira bersama sepupunya, Ria Sari, resmi membuka Nabila Parsel Bunga Internasional sebagai toko parsel dan bunga berjaringan internasional. ”Sejak itu kebanyakan klienku para ekspatriat, baik personal maupun perusahaan,” kata Ira.

Baik. Sampai di sini dua bagian cerita tentang senapan dan mawar itu seperti terpisah, bukan? Tibalah tahun 2004 ketika Komisi Pemberantasan Korupsi melarang pengiriman parsel kepada para pejabat. Ira bersama 3.000-an anggota Asosiasi Pengusaha Parcel Indonesia kelimpungan. ”Aku rugi ratusan juta,” kenang Ira. Dalam kegalauan itulah seorang temannya mengajak belajar menembak. ”Aku belajar nembak sendiri meski Bapak punya klub nembak,” tutur Ira.

Nah, lengkap sudah. Ira yang berguru merangkai bunga di Inggris, lalu berguru menembak secara serius kepada beberapa orang guru. Hasilnya, dua keahlian yang tampak bertentangan itu mengalir dalam tubuhnya.

Penjelasannya begini, ”Menembak itu perlu seni konsentrasi dan mengalahkan diri sendiri. Bunga memberiku ketenangan itu....”

Awas, Ira memang kelihatan tenang bak setangkai mawar, tetapi setiap saat ia bisa meledak dan menembak! Takut?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com