Ketan Uli, Simbol Kebersamaan Masyarakat Betawi

Kompas.com - 30/11/2009, 10:14 WIB
Editorhertanto

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam kehidupan masyarakat Betawi dikenal berbagai macam makanan dan minuman khas. Salah satunya ketan uli. Namun, makanan yang tersaji saat perayaan keagamaan seperti Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha ini ternyata memiliki makna tersendiri.

Ya, ketan uli memang merupakan satu dari sekian banyak panganan khas Betawi yang masih lestari. Pembuatan ketan uli memiliki makna mendalam dalam budaya masyarakat Betawi, yaitu sebagai simbol kekeluargaan atau silaturahim yang terjalin antarkeluarga.

Hal ini ditunjukkan dengan pembagian tugas antara wanita dan pria dalam proses pembuatannya. Biasanya ketan uli dibuat mengiringi pemotongan kerbau andilan yang kerap dilakukan masyarakat Betawi tempo dulu sebagai tradisi menjelang Lebaran.

Selain ketan uli, masih ada beberapa makanan pengiring lainnya, seperti kue geplak, wajik, kue lapis pepe, dan dodol, yang keberadaannya mulai hilang.

Mungkin tak banyak yang tahu, ternyata pembuatan ketan uli mengandung sebuah arti. "Biasanya kaum pria yang menumbuk ketan, sedangkan para wanita kebagian tugas memasak atau membuat ketan ulinya. Pembagian tugas itu ada maknanya, termasuk sebagai simbol kebersamaan bagi masyarakat Betawi," kata Alim Molana, salah seorang tokoh masyarakat Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Proses pembuatan ketan uli, menurut Alim, gampang-gampang susah. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan bahan dan tempat penyimpanannya. "Tapi banyak yang mempercayai kalau pembuatan ketan uli ini mengandung mistis. Sebab, jika melanggar pantangan, hasilnya pasti gagal total," jelas Alim.

Bahan pembuatan ketan uli adalah tape ketan, ragi tape, beras ketan putih, kelapa parut segar, dan garam. Proses pembuatannya pun sedikit ribet. Awalnya, beras ketan dicuci hingga bersih, kemudian direndam dalam air bersih selama 2 sampai 6 jam dan dimasak hingga matang. Setelah itu, pindahkan ketan selagi panas dalam wadah dan taburi kelapa, garam, aduk hingga rata.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Proses lain yang harus dilakukan yaitu menumbuk beras ketan selagi panas hingga ketan terlihat agak halus. Jika menginginkan ketan uli yang lembut, lanjutkan penumbukannya hingga sangat halus.

Lalu, siapkan bungkus berupa daun pisang, kemudian dibungkus dan dipotong beberapa bagian. Biarkan ketan uli itu hingga dingin dan siap disantap. Diakui Alim, ketan uli disajikan sebagai simbol kesederhanaan.

"Tak hanya kesederhanaan, makna religi pun begitu kental dalam setiap hidangan atau sajian ketan uli," kata Alim.

Selain di Jakarta, ketan uli juga banyak digunakan sebagai pelengkap prosesi sakral pada tradisi Jawa di Yogyakarta dan Surakarta. Bahkan, setiap perayaan Maulid Nabi atau tradisi 1 Muharam yang menampilkan gerebek gulungan, ketan uli selalu dihadirkan bersama tapai ketan, madu mongso, jajanan pasar lainnya, serta hasil bumi yang mengibaratkan kekayaan alam sebagai anugerah Yang Maha Kuasa.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X