Identitas Kota Yogyakarta: Stasiun Tugu dan Malioboro Segera Dibenahi

Kompas.com - 08/07/2009, 16:36 WIB
Editor

Salah satu identitas kota dengan keunggulan yang tak hanya berarti pada waktu silam tapi juga di masa kini dan mendatang, adalah arsitektur pusaka. Bagaimana menyikapi tinggalan yang seringkali terlihat kumuh dan menggoda banyak pihak untuk kemudian justru mencari jalan pintas, menghancurkan, itu menjadi persoalan hingga kini. Padahal banyak contoh yang membuktikan, pemanfataan dan pelestarian yang tepat terhadap arsitektur pusaka bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi, sosial budaya hingga ilmu pengetahuan.

Demikian Dr Laretna T Adishakti, staf pengajar Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM) , Jurusan Teknik Arsitektur, yang selalu menegaskan pernyataan di atas di manapun ia bicara perihal pelestarian pusaka. Ia memberi contoh pada kasus penjualan dan pencerabutan joglo di kawasan pusaka Kota Gede, DI Yogyakarta. "Pranata hukum tidak ada, kemudian pemilik juga tidak merasakan keuntungan terhadap kepemiilikan joglo. Kasus-kasus seperti ini membuat identitas kota jadi rentan," tandasnya beberapa waktu lalu.

Untuk melestarikan berbagai arsitektur pusaka, perlu strategi dan pranata olah disain serta aspek kelembagaan dan legal. Dalam rangka melestarikan pusaka inilah, PT Kereta Api (KA) khususnya Kantor Daerah Operasi (Daop) VI DI Yogyakarta mengajak serta beberapa pihak seperti Laretna Adishakti dan komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

Beberapa aset PT KA di Yogya yang akan dibenahi untuk kemudian dikembangkan adalah kawasan Stasiun Tugu hingga Malioboro, stasiun-stasiun tua dari zaman Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS)  di abad 19 dan 20. Kawasan Stasiun Tugu hingga Malioboro bahkan menyisakan bangunan-bangunan lama, juga semacam gudang dalam kondisi yang – seperti diungkap Laretna – bikin banyak pihak tertarik untuk menghancurkan.

Sayangnya, dalam rangka merevitalisasi kawasan dan bangunan itu, PT KA belum mendata secara lengkap apa saja dan di mana saja bangunan termasuk kawasan yang hendak dihidupkan kembali melalui proses konservasi. Sita, panggilan akrab Laretna, menegaskan, untuk masuk ke proses konservasi, hal yang pertama harus dilakukan adalah pendataan dan perencanaan secara holistic. “Kita tidak bisa hanya melihat bangunan tapi bagaimana dengan kawasannya. Karena entitas stasiun tak bisa dipisahkan dari lingkungannya,” ujar penggagas Jogja Heritage Society yang juga penerima anugerah The Nikkei Asia Prizes tahun 2009 ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sekadar informasi, pengembangan sub kawasan Stasiun Tugu merupakan rencana terpadu dengan pihak Pemprov DIY, Pemkot, dan Kraton Yogyakarta. Pengembangan tersebut antara lain meliputi pengembangan properti, pembangunan parkir kawasan inti Malioboro

Selain itu, salah satu perhatian yang khusus diberikan Kepala Daop VI Yogyakarta, Rustam Harahap, adalah Stasiun Maguwo (lama) berlokasi di Dusun Kembang, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Stasiun ini dibangun oleh NIS. Data tentang sejarah perkeretaapian termasuk stasiunnya memang masih sangat sulit didapat.  Rustam berharap bangunan yang terbengkalai itu diharapkan bisa berfungsi kembali atau dipindahkan ke suatu tempat.  

Pada awal pekan ini, pihak Kantor Pusat Pelestarian Benda dan Aset PT KA bersama Daop VI DI Yogyakarta, IRPS, dan  aktivis pelestari pusaka juga membahas lokasi yang tepat bagi Stasiun Maguwo (lama). “Yang pasti warna kayu padam bangunan lama lebih baik dibiarkan muncul,” tandas Sita. Stasiun Maguwo (lama) sudah tak lagi dipergunakan dan digantikan Stasiun Maguwo baru di dekat Bandara Adi Sucipto. Stasiun ini diresmikan sekitar setahun lalu.

Pastinya rencana PT KA itu memang terkait dengan penataan ruang dan lingkungan kota itu sehingga terkait pula dalam rencana besar dari otoritas DI Yogyakarta. Kepala Kantor Pusat Pelestarian Benda dan Aset PT KA, Ella Ubaidi, menyatakan, pekan depan pihaknya akan membicarakan hal tersebut dengan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.  “Kami dijadwalkan ketemu Sri Sultan Senin depan (13/7-Red),” tandas Ella.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.