Natrabu, Surganya Rendang dan Dendeng - Kompas.com

Natrabu, Surganya Rendang dan Dendeng

Kompas.com - 11/03/2009, 17:45 WIB

Natrabu, nama restoran padang papan atas ini tak lain kependekan dari National Travel Bureau. Betul, Natrabu dirintis Rahimi Sutan, sang pionir, sebagai biro perjalanan wisata. Belakangan bisnis itu rontok diterjang berbagai travel warning terkait keamanan di Indonesia. Kantor-kantor Natrabu di pelosok dunia seperti Jepang, San Fransisco, New York terpaksa ditutup.

Semua usaha itu digeluti Rahimi selepas menjadi polisi. “Di jaman Soekarno saya polisi di bagian intel di Jakarta Pusat. Namanya DPKN (Dinas Pengawasan Keselamatan Negara – Red). Saya di bagian screening orang yang akan ke luar negeri. Pengalaman ini yang membuat saya berusaha di bidang travel,” kisah Rahimi.

Atas dukungan rekan-rekan lantas Rahimi muda pun banting stir dari profesi polisi yang digeluti sejak 1951 menjadi pengusaha travel. Sejak usaha travel berdiri tahun 1958, usaha nasi padang sudah mendampingi sebagai usaha sampingan. Waktu menentukan, usaha nasi padang-lah yang hingga kini tak hanya bertahan bahkan melesak di jajaran atas.  

Pria kelahiran 17 Juli 1927, pada akhirnya bisa menyabet lokasi di Jalan Haji Agus Salim, Sabang, ini pada sekitar 1965. Tempat ini dijadikan tempat usaha sekaligus rumah tinggal. ”Sebelumnya kita di Taman Tanah Abang III nomor 14, trus pindah ke Tanah Abang III nomor 29. Sekarang di sini juga nomor 29. Kebetulan saja,” begitu cerita pria kelahiran Payakumbuh ini tanpa lupa mengumbar senyum.

Karena aktif di bidang pariwisata, maka kakek 11 cucu ini pernah didapuk sebagai salah satu ketua bidang restoran dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), sebagai ketua Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Jakarta, dan hingga sekarang masih diminta sebagai penasehat ASITA Jakarta.

Di masa awal usaha nasi padang, ibunda Rahimi turut serta dalam urusan meracik bumbu hingga cita rasa itu, khususnya di beberapa makanan, tak tersaingi di rumah makan padang lain sampai kini. Rendang, adalah unggulan utama Natrabu. Selain rendang, dendeng di sini juga jadi jagoan. Tak seperti di tempat lain, di sini dendeng dan cabai merah dipisah. Dendeng dan rendang sama-sama empuk.

”Ibu saya, Amay Rokayah, yang menegur karyawan soal makanan yang tidak enak. Kemudian dicari terus racikan sampai akhirnya kita bisa punya rendang yang beda dari yang lain,” ucap mantan atlet karate ini.

Demikian pula dengan menu lain, ayam goreng bumbu pedas. Bumbunya meresap sampai ke tulang. Wajar saja kalau pelanggan sekelas Doktor Mahathir Muhammad kerap menyambangi rumah makan ini tiap kali ke Jakarta. Padahal, Natrabu membuka franchise di Kuala Lumpur. ”Barangkali lain rasanya makan di sana dan sini,” ujar Myrna Sutan, menantu Rahimi sekaligus PR Manager Rumah Makan Minang Natrabu.

Hubungan keluarga Rahimi Sutan dengan keluarga mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir terjalin karena selera. Sejak Mahathir menemukan ”cinta”-nya pada masakan padang dan hanya pada satu rumah makan padang bernama Natrabu, sejak itu pula bahkan putra-putri Rahimi menjadi cukup akrab dengan keluarga Mahathir Muhammad.

”Terutama anak saya yang meneruskan usaha ini. Dia dekat juga dengan putri Mahathir. Dia satu-satunya anak perempuan saya. Saya sekolahkan ke Swiss untuk belajar tentang restoran dan perhotelan,” tutur Rahimi. Tentu saja, sebagai orang pariwisata, dia tahu betul Swiss adalah tempat terbaik di dunia untuk menuntut ilmu tentang restoran dan perhotelan.      

Pria yang tak gentar melawan penyakit Parkinson ini akan selalu siap menerima tamu istimewa sekaligus sahabat keluarga dari negeri Jiran. ”Bapak selalu siap dan semangat kalau ada telepon kasih tahu bahwa Pak Mahathir mau datang,” ungkap Myrna. Rahimi pun tak perlu berpantang makanan karena sejatinya dia adalah pria sehat. Hanya Parkinson yang mengganggu aktivitasnya. Jadi, selama hayat dikandung badan, Rahimi akan tetap menemani Mahathir bersantap nasi padang.


Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X