Supriyadi Takut Dikeroyok - Kompas.com

Supriyadi Takut Dikeroyok

Kompas.com - 11/09/2008, 06:42 WIB

BLITAR- Kengototan Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai Supriyadi, pahlawan pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar, ternyata tidak dibarengi keberanian.

Dengan dalih tidak mau menjadi sasaran pengeroyokan, Andaryoko menolak hadir dalam lokakarya yang dijadwalkan berlangsung Rabu (10/9) kemarin di Kota Blitar.

Padahal lokakarya yang digagas Pemkot Blitar itu menghadirkan sejumlah saksi sejarah, keluarga, dokumen dan foto-foto tentang Supriyadi. Ketidakhadiran Andaryoko alias Supriyadi itu otomatis membatalkan lokakarya dan menggagalkan peristiwa penting untuk pembuktian benar tidaknya klaim pria renta itu.

Andaryoko yang kini tinggal di Pedurungan, Semarang ini menyatakan penolakan hadir di lokakarya melalui surat bertanggal 31 Agustus 2008. “Surat ini kami terima sekitar 3 September 2008 melalui Pak Risanto yang dititipi Pak Andaryoko,” ujar Ketua Tim Pencari Fakta Supriyadi yang juga Kabag Humas Pemkot Blitar, Made Sukawardhika, Rabu (10/9).

Dalam surat itu, Andaryoko mengungkapkan penolakannya dengan alasan takut terhadap kemungkinan pengeroyokan secara fisik terhadap dirinya. “Adalah amat penting dipikirkan/dipertimbangkan mengenai keamanan fisik,” tulis Andaryoko.

Beberapa hal lain juga disampaikan Andaryoko dalam surat itu. Di antaranya dia minta bukan cuma dirinya yang diundang, tetapi juga penerbit, penyusun dan distributor buku Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno karya sejarawan Dr Baskara T Wardaya. Buku itu membuat gempar karena Dr Baskara (lulusan Universitas Marquette, Wisconsin, AS) meyakini bahwa Andaryoko-lah sosok Supriyadi yang selama ini misterius.

Untuk diketahui, setelah memimpin pemberontakan tentara PETA terhadap Jepang di Blitar pada 14 Februari 1945, Supriyadi menghilang tak ketahuan rimbanya. Pemerintah kemudian menyatakan Supriyadi telah meninggal (kendati tak diketahui kuburannya) dan dia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 1975.

Dalam buku yang ditulis Baskara itu, Andaryoko menuturkan, setelah kekalahan pasukannya dalam pemberontakan terhadap Jepang tersebut, banyak anggota PETA yang ditangkap. Namun ia berhasil melarikan diri.

Dalam pelariannya ia hidup dari hutan ke hutan selama 100 hari. “Sebagai buronan, saya berusaha menyelamatkan satu-satunya nyawa. Saya lari ke hutan. Mulai dari hutan Blitar Selatan, hutan Ketonggo (Ngawi), hingga hutan Purwo,” tuturnya.

Supriyadi akhirnya sadar tidak akan ada gunanya hidup di hutan seperti itu. Ia lalu ke Jakarta menemui Bung Karno, tokoh yang dianggap sebagai pemimpin Indonesia .

 “Semula Bung Karno tidak percaya. Saya kemudian menceritakan siapa saya dan kisah hidup saya. Akhirnya Bung Karno percaya,” ujar Andaryoko di buku tersebut.

Tak Mendasar

Dalam suratnya ke Pemkot Blitar, Andaryoko meminta agar lokakarya digelar di tempat netral seperti Semarang atau Yogyakarta. Tidak di Blitar.

Hal lain yang disampaikan dalam surat dua lembar folio itu adalah bahwa orang yang sudah lama tidak pulang, tidak boleh dipastikan meninggal. Andaryoko berargumen, tidak mungkin Bung Karno mengangkat orang meninggal sebagai menteri keamanan rakyat dan panglima TKR.

Setelah bertemu Bung Karno dan kemudian diminta Presiden pertama RI itu pergi ke Semarang, Andaryoko mengaku dirinya diangkat sebagai menteri.

 Menurut Andaryoko, tidak mungkin juga Ketua Yayasan PETA, Pamoe Rahardjo, memberikan buku Gerilya dan Diplomasi kepadanya pada 12 Juni 2004, kalau ia bukan orang PETA.

Ada yang baru dalam surat itu. Kali ini, pria 88 tahun itu melengkapi namanya dengan Supriyadi, menjadi Andaryoko Wisnuprabu Supriyadi. Dalam wawancara sebelumnya, Andaryoko mengaku lahir dengan nama Supriyadi dan setelah menghilang mengubah namanya menjadi Andaryoko Wisnuprabu.

Tentu saja Made kecewa atas penolakan Andaryoko.  Apalagi, tidak pernah ada satu pun orang atau kelompok yang pernyataannya bisa dianggap sebagai ancaman fisik terhadap Andaryoko.

“Menurut kami alasan Pak Andaryoko tidak mendasar, soal keamanan kami pasti akan menjaga semaksimal mungkin,” ujar Made yang sempat empat hari memburu Andaryoko ke Semarang dan Yogyakarta.

Seperti diberitakan sebelumnya Tim Pencari Fakta Supriyadi bertemu Andaryoko selama sekitar 1 jam di Yogyakarta pada 16 Agustus 2008. Saat itu Andaryoko menyatakan bersedia datang ke lokakarya di Blitar pada 10 September. Lokakarya itu untuk mempertemukan kedua pihak yang selama ini berpolemik tentang benar tidaknya klaim Andaryoko itu. Keluarga Supriyadi yang menolak klaim itu juga akan hadir, begitu juga Baskara, si penulis buku.

Dalam pertemuan itu terungkap bahwa Supriyadi lahir di Salatiga Jawa Tengah. Namun karena ingin bergabung dengan PETA di Blitar, dibuatlah data bahwa ia lahir di Trenggalek Jawa Timur. Sehingga benang merah yang mengarah ke Supriyadi Blitar yang misterius itu, mulai terungkap. Tapi untuk lebih memastikannya, Pemkot berusaha mendatangkan Andaryoko ke Blitar.

Suroto, adik tiri Supriyadi, mengatakan penolakan itu membuktikan bahwa Andaryoko bukan Supriyadi. ”Kalau benar kenapa tidak mau datang dan membuktikan dia benar Supriyadi atau bukan. Wong sampai sekarang menghubungi kami, saudaranya, saja tidak. Apalagi datang ke Blitar. Jelas tidak mungkin,” tutur Suroto.

Adik tiri Supriyadi lainnya, Utomo Darmadi, berpendapat bahwa Andaryoko sengaja menghindari pertemuan dengan orang-orang yang meragukan klaimnya. “Dia menghindar. Nggak berani datang. Dia takut karena dia memang bukan Suriyadi," ujar Utomo kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/9).

Terkait kegagalan lokakarya pembuktian itu, Sekkota Blitar, Anang Triono MM, mengatakan akan mencoba melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat. “Dalam hal ini pejabat terkait, bisa mendiknas, menegpora atau siapa pun. Kami berharap mereka bisa membantu memfasilitasi terselenggaranya acara guna meluruskan sejarah mengenai sosok Supriyadi ini,” kata Anang.ais/had


Editor

Terkini Lainnya

Kontras: Dalam Kontestasi Politik, Isu HAM Dipakai Jadi 'Gimmick' untuk Dongkrak Suara

Kontras: Dalam Kontestasi Politik, Isu HAM Dipakai Jadi "Gimmick" untuk Dongkrak Suara

Nasional
Solar Langka, Petambak Perempuan Dipasena Datangi Polsek Rawajitu Lampung

Solar Langka, Petambak Perempuan Dipasena Datangi Polsek Rawajitu Lampung

Regional
Kenali Spamming Email, Modus Baru Bobol Kartu Kredit

Kenali Spamming Email, Modus Baru Bobol Kartu Kredit

Megapolitan
Ahok Diperkirakan Bebas pada Januari 2019

Ahok Diperkirakan Bebas pada Januari 2019

Megapolitan
Demo Hari Antikorupsi Ricuh, Mahasiswa  Bentrok dengan Polisi dan Pegawai Kejaksaan

Demo Hari Antikorupsi Ricuh, Mahasiswa Bentrok dengan Polisi dan Pegawai Kejaksaan

Regional
Bayi Laki-laki Ditemukan dalam Kantong Plastik Hitam

Bayi Laki-laki Ditemukan dalam Kantong Plastik Hitam

Megapolitan
Modus Pencuri Spesialis Rumah Mewah, Pura-pura Jadi Teman Pemilik Rumah

Modus Pencuri Spesialis Rumah Mewah, Pura-pura Jadi Teman Pemilik Rumah

Megapolitan
Aria Bima: Kalau Masih Ada, Soeharto Pun Akan Mendukung Jokowi-Ma'ruf

Aria Bima: Kalau Masih Ada, Soeharto Pun Akan Mendukung Jokowi-Ma'ruf

Nasional
Natal, Ahok Akan Dapat Remisi 1 Bulan

Natal, Ahok Akan Dapat Remisi 1 Bulan

Megapolitan
Jadi Saksi, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Mengaku Tidak Tahu Apapun soal DOKA

Jadi Saksi, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Mengaku Tidak Tahu Apapun soal DOKA

Nasional
Fakta di Balik Perjalanan 9 Jam KA Argo Parahyangan, Penumpang Lapar, Main Games, hingga Ganti Bus

Fakta di Balik Perjalanan 9 Jam KA Argo Parahyangan, Penumpang Lapar, Main Games, hingga Ganti Bus

Regional
Protes 'Carpool' Komersial, Sopir Taksi Korsel Bakar Diri hingga Tewas

Protes "Carpool" Komersial, Sopir Taksi Korsel Bakar Diri hingga Tewas

Internasional
Petugas Bersihkan Atap Rasuna Garden Food Street yang Lepas

Petugas Bersihkan Atap Rasuna Garden Food Street yang Lepas

Megapolitan
Merkava IV, Salah Satu Tank Paling Mematikan di Dunia Buatan Israel

Merkava IV, Salah Satu Tank Paling Mematikan di Dunia Buatan Israel

Internasional
Luapan Air Kali Bangka Sebabkan Jalan Pasar Buncit Terendam Banjir

Luapan Air Kali Bangka Sebabkan Jalan Pasar Buncit Terendam Banjir

Megapolitan

Close Ads X