Ridwan Hisjam, Kontraktor di Lahan Politik

Kompas.com - 05/07/2008, 15:27 WIB
Editor

    Dengan ritme kerja seperti itu, ia tidak menampik jarang bertemu keluarga. Akan tetapi, itu bukan alasan untuk bisa membina hubungan baik dengan anak."Kalau libur saya sediakan waktu untuk keluarga. Kadang makan bersama di luar atau jalan-jalan keluar Surabaya kalau ada waktu," tutur Ketua Komite Organisasi DPP Kadin ini.

Sejak beberapa tahun lalu, ia rutin mengajak keluarganya umrah setahun sekali. Dengan umrah, keluarga Ridwan bisa wisata sekaligus beribadah."Alhamdulillah anak-anak saya baik-baik, secara moral dan akademis, meski saya jarang bisa bertemu," ucapnya.

Setidaknya, salah seorang putranya tengah menyelesaikan kuliah di Jerman. Satu lagi tengah menyelesaikan pendidikan sebagai calon dokter di Surabaya. Sementara dua putrinya sudah mapan."Anak saya paling kecil masih SD. Saya menekankan pada diri sendiri, harus sukses memimpin keluarga kalau mau sukses memimpin masyarakat," tutur alumnus ITS ini.

Kerja sama dengan istrinya ikut menentukan sukses di keluarganya. Ridwan mengaku beruntung istrinya mantan aktivis. Dengan begitu, keturunan bangsawan Sumenep itu bisa memahami kesibukan Ridwan baik sebagai politisi dan pengusaha."Istri saya paham sejak muda saya aktivis," ujarnya.

Mulai usia 40 tahun

Sebagai aktivis, ia tahu tidak mudah baginya untuk menjadi pegawai. Karena itu ia menjadi pengusaha."Sebelum berumur 35 tahun, saya sudah membangun ratusan rumah sederhana di Surabaya. Itu jalan saya berkenalan dengan Pak Akbar Tandjung," tuturnya.

Pertengahan 1990-an, Akbar masih menjadi Menteri Perumahan Rakyat yang membuatnya kenal dengan pengusaha bidang perumahan. Karena pernah aktif di organisasi mahasiswa yang sama, Akbar mengajak Ridwan terjun ke politik praktis secara resmi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya benar-benar merasakan pepatah hidup dimulai pada usia 40 tahun. Saya memulai hidup baru sebagai politisi di ranah praktik pada usia 40 tahun. Kebetulan pada waktu itu bisnis agak goyang menjelang krisis 1998," tuturnya.

Saat Akbar memimpin Golkar, Ridwan diajak mengurus DPD Jawa Timur sejak 1999 hingga 2005."Saya memimpin Golkar dalam masa terberat. Saya harus memikirkan bagaimana mempertahankan partai di tengah tekanan pembubaran yang luar biasa dari masyarakat," tuturnya.

Meskipun demikian, tetap saja ia bisa membawa Golkar meraih 15 kursi di DPRD Jatim pada Pemilu 2004. Sayang tidak lama setelah Pemilu 2004, ia digusur dari kursi Ketua DPD Golkar Jatim. "Saat memutuskan maju (sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur, saya mencoba lewat Golkar dulu. Tetapi, mekanisme partai tidak memungkinkan sehingga saya harus lewat partai lain," ujarnya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.