Syair "Ibu Bumi" di Kotak Semen Kaki Para Petani Kendeng... - Kompas.com

Syair "Ibu Bumi" di Kotak Semen Kaki Para Petani Kendeng...

Kristian Erdianto
Kompas.com - 14/03/2017, 19:00 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali melakukan aksi protes dengan menggelar aksi mencor kaki dengan semen di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (13/3/2017). Aksi tersebut mereka lakukan sebagai bentuk protes terhadap izin lingkungan baru bagi PT Semen Indonesia yang diteken Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng kembali melakukan aksi protes semen kaki di depan Istana Negara pada Selasa (14/3/2017) siang, pukul 14.00 WIB. Sebelas petani itu mencor kaki mereka dengan semen dalam sebuah kotak berukuran 25 x 25 cm persegi.

Di bagian depan kotak tertulis tuntutan mereka, "Tolak Pabrik Semen". Sementara di sisi sampingnya ada sebuah kalimat yang ditulis menggunakan huruf aksara Jawa kuno.

Jika dibahasakan tulisan tersebut berbunyi “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili,” yang artinya "Ibu bumi sudah memberi, ibu bumi disakiti, ibu bumi akan mengadili."

Syair berjudul "Ibu Bumi" itu pula yang kerap dinyanyikan oleh Sukinah, petani perempuan asal Rembang, sepanjang aksi semen kaki.

Menurut Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Joko Prianto, syair itu merupakan tembang Jawa yang sering dinyanyikan oleh para petani Pegunungan Kendeng sebagai pujian terhadap alam.

(Baca: Aksi Hari Kedua, Petani Kendeng yang Mencor Kaki Terus Bertambah)

"Tembang itu memang sering dinyanyikan oleh petani Kendeng. Seperti doa-doa agar alam di Kendeng tetap Lestari," ujar Joko.

KOMPAS.com/Kristian Erdianto Syair tembang Jawa berjudul
Lagu "Ibu Bumi" diciptakan oleh masyarakat di komunitas adat Sedulur Sikep yang juga mendiami kawasan Pegunungam Kendeng.

Gunretno dari komunitas Sedulur Sikep mengatakan, tembang Ibu Bumi merupakan doa-doa yang sengaja diciptakan sebagai pengingat kepada manusia agar selalu menjaga kelestarian alam. Mereka memercayai bahwa bumi adalah seorang ibu yang harus dirawat, dijaga dan tidak boleh disakiti.

Maka Sedulur Sikep memandang bahwa satu-satunya yang bisa diperbuat oleh manusia untuk bertahan hidup adalah dengan cara bertani dan tidak merusak alam.

(Baca: Petani Kendeng Enggan Buka Belenggu Semen di Kaki Sebelum Bertemu Jokowi)

"Kalau dilihat dari syairnya, ada makna yang ingin disampaikan. Bumi itu sudah memberikan manusia kehidupan. Maka jangan disakiti. Kalau disakiti Ibu Bumi akan marah dan akan membalas perbuatan manusia yang merusak," ungkap Gunretno.

Pada aksi protes di hari kedua ini, jumlah petani yang mencor kakinya bertambah menjadi sebelas orang setelah sehari sebelumnya sepuluh petani mencor kakinya lebih dulu.

Aksi semen kaki oleh petani Kendeng itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap izin lingkungan baru bagi PT. Semen Indonesia yang diteken Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Dengan terbitnya izin tersebut kegiatan penambangan karst PT. Semen Indonesia di Rembang masih tetap berjalan.

(Baca: Petani Kendeng Menang di MA Lawan PT Semen Indonesia)

Padahal, 5 Oktober 2016 lalu Mahkamah Agung mengeluarkan Putusan Peninjauan Kembali Nomor 99 PK/TUN/2016 yang mengabulkan Gugatan Petani Kendeng dan mencabut Izin Lingkungan Pembangunan dan Pertambangan Pabrik PT. Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. 

Sebelumnya pada 2 Agustus 2016 Presiden Jokowi juga menerima Para Petani Kendeng dan memerintahkan Kantor Staf Presiden bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis dan  menunda semua izin tambang di Pegunungan Kendeng.

Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam kesimpulan awalnya menyebutkan bahwa Kawasan Cakungan Air Tanah Watu Putih di Kendeng merupakan kawasan Karst yang harus dilindungi secara Lingkungan Hidup dan tidak boleh ditambang.

Meski sudah ada Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dan Perintah Presiden untuk memoratorium izin, namun pada 23 Februari 2017 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali mengeluarkan izin lingkungan.

Kompas TV Petani: Kami Merasa Terbelenggu

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKristian Erdianto
EditorSabrina Asril
Komentar