Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prabowo dan Kegagalannya "Nyapres"

Kompas.com - 02/03/2014, 13:04 WIB
Sabrina Asril

Penulis


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Hasrat Ketua Dewan Pembina Parta Gerindra, Prabowo Subianto, untuk menjadi presiden sudah terpendam lama. Dua kali berjuang, Prabowo gagal. Ia belum menyerah.

"Saya ikut tiga kali pemilu. Yang pertama naif, kedua agak naif, dan sekarang masih seminaif," kata Prabowo saat menjadi pembicara dalam acara Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB-PII) di Jakarta, Sabtu (1/3/2014) malam. Acara tersebut dihadiri juga oleh Ketua Umum PKB-PII Sutrisno Bachir yang juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional. 

Tahun 2004 Prabowo pernah maju dalam konvensi Partai Golkar. Ia kalah. Konvensi dimenangkan Wiranto yang kemudian menjadi calon presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Sholahuddin Wahid.

Tahun 2009, Prabowo kembali unjuk gigi. Kali ini ia punya kendaraan sendiri, Partai Gerindra. Semula Prabowo berniat melenggang bersama Ketua Umum PAN kala itu Sutrisno Bachir yang digandengnya menjadi calon wakil presiden. Namun sayang, pasangan ini sudah layu sebelum berkembang karena tak mampu memenuhi persyaratan kursi dukungan.  

Menurut dia, duet Prabowo-Sutrisno hanya kurang 1 kursi. Pasangan ini diusung oleh Partai Gerindra, PAN, dan Partai Persatuan Pembangunan.  Waktu itu, kata Prabowo, dirinya mengajak koalisi partai Islam karena memiliki banyak teman di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). 

"Pas pendaftaran, kami ditolak karena kurang satu kursi. Gagal deh. Tetapi, dua bulan sesudah itu, saya tambah kursi. Saya tambah dua kursi, PAN empat kursi. Seharusnya cukup. Jadi kalau bicara keadilan dan kejujuran, bagaimana ini?" tutur Prabowo. 

Wakil presiden

Tak mampu memenuhi syarat dukungan, pasangan Prabowo-Sutrisno pun bubar. Prabowo mengubah haluan dan berlabuh dalam koalisi bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Melalui perundingan yang alot, Prabowo akhirnya "legowo" dipasangkan sebagai calon wakil presiden.

Prabowo mengaku frustrasi menghadapi orang-orang politik. Menurutnya, politisi di Indonesia banyak yang ingkar janji. Prabowo sama sekali tidak menyebut mengenai kontrak politik antara Gerindra dan PDI-P tahun 2009.

Sebelumnya diberitakan, Gerindra menagih janji PDI-P yang disebut akan mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden pada 2014. Menurut Gerindra, janji ini merupakan imbalan atas sikap Prabowo yang mengalah menjadi pendamping Megawati pada 2009.

"Saya suka frustrasi. Menghadapi orang politik kacau, pusing juga saya hadapi orang politik. Kasih tangan ini, kasih yang lain. Kalau saya, saya kasih tangan kanan, saya kasih tangan kanan bukan yang lain," kata dia.

"Perjanjian di Indonesia hanya bertahan 15 menit," ujar Prabowo.

Perjuangan 2014

Kegagalan tak menyurutkan niat Prabowo meraih pucuk pimpinan negeri ini. Untuk ketiga kalinya ia maju bertarung dalam Pemilu 2014. Meski belum mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dari Gerindra, niat Prabowo menjadi Presiden tak bisa ditutupi.

Jauh-jauh hari ia sudah bergerilya membangung popularitas dirinya. Hasilnya, sejumlah lembaga survei mendapatkan, ia berada di peringkat kedua calon presiden pilihan masyarakat setelah Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta. 

Namun, tak sedikit yang resah dengan popularitasnya. Sekelompok masyarakat mengingatkan soal peran Prabowo dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998. Ia dipecat dengan tidak hormat  terkait kasus ini. Tiga belas aktivis masih hilang hingga kini.

Perjalanan masih panjang. Pemilu belum digelar. Joko Widodo, mantan wali kota Surakarta yang diusungnya ke Jakarta, malah jadi rival terberatnya. Cerita Prabowo tentang perjuangannya "nyapres" belum selesai.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tanggal 9 Mei 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 9 Mei 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Ganjar Kembali Tegaskan Tak Akan Gabung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Ganjar Kembali Tegaskan Tak Akan Gabung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Nasional
Kultur Senioritas Sekolah Kedinasan Patut Disetop Buat Putus Rantai Kekerasan

Kultur Senioritas Sekolah Kedinasan Patut Disetop Buat Putus Rantai Kekerasan

Nasional
Kekerasan Berdalih Disiplin dan Pembinaan Fisik di Sekolah Kedinasan Dianggap Tak Relevan

Kekerasan Berdalih Disiplin dan Pembinaan Fisik di Sekolah Kedinasan Dianggap Tak Relevan

Nasional
Kekerasan di STIP Wujud Transformasi Setengah Hati Sekolah Kedinasan

Kekerasan di STIP Wujud Transformasi Setengah Hati Sekolah Kedinasan

Nasional
Ganjar Bubarkan TPN

Ganjar Bubarkan TPN

Nasional
BNPB: 13 Orang Meninggal akibat Banjir dan Longsor di Sulsel, 2 dalam Pencarian

BNPB: 13 Orang Meninggal akibat Banjir dan Longsor di Sulsel, 2 dalam Pencarian

Nasional
TNI AU Siagakan Helikopter Caracal Bantu Korban Banjir dan Longsor di Luwu

TNI AU Siagakan Helikopter Caracal Bantu Korban Banjir dan Longsor di Luwu

Nasional
Prabowo Diharapkan Beri Solusi Kuliah Mahal dan Harga Beras daripada Dorong 'Presidential Club'

Prabowo Diharapkan Beri Solusi Kuliah Mahal dan Harga Beras daripada Dorong "Presidential Club"

Nasional
Ide 'Presidential Club' Dianggap Sulit Satukan Semua Presiden

Ide "Presidential Club" Dianggap Sulit Satukan Semua Presiden

Nasional
Halal Bihalal, Ganjar-Mahfud dan Elite TPN Kumpul di Posko Teuku Umar

Halal Bihalal, Ganjar-Mahfud dan Elite TPN Kumpul di Posko Teuku Umar

Nasional
Pro-Kontra 'Presidential Club', Gagasan Prabowo yang Dinilai Cemerlang, tapi Tumpang Tindih

Pro-Kontra "Presidential Club", Gagasan Prabowo yang Dinilai Cemerlang, tapi Tumpang Tindih

Nasional
Evaluasi Mudik, Pembayaran Tol Nirsentuh Disiapkan untuk Hindari Kemacetan

Evaluasi Mudik, Pembayaran Tol Nirsentuh Disiapkan untuk Hindari Kemacetan

Nasional
Polri: Fredy Pratama Masih Gencar Suplai Bahan Narkoba Karena Kehabisan Modal

Polri: Fredy Pratama Masih Gencar Suplai Bahan Narkoba Karena Kehabisan Modal

Nasional
SYL Ungkit Kementan Dapat Penghargaan dari KPK Empat Kali di Depan Hakim

SYL Ungkit Kementan Dapat Penghargaan dari KPK Empat Kali di Depan Hakim

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com