Kamis, 2 Oktober 2014

News / Nasional

Kasus Muara Rupit, 4 Orang Buron

Kamis, 4 Juli 2013 | 20:16 WIB
DIAN MAHARANI Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar.
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian terus memburu empat orang pelaku pencurian dengan kekerasan di jalur lintas Sumatera (jalinsum) yang masuk dalam daftar pencarian orang oleh (DPO) polisi. Keempat orang tersebut juga diduga terlibat aksi pemblokiran jalan yang merupakan reaksi tewasnya Herlika (19) di Muara Rupit, Sumsel.

"Ada empat DPO yang diduga ada pada saat blokir jalinsum. Mereka inisialnya R, M, S, dan S, itu pelaku pencurian dengan kekerasan," terang Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (4/7/2013).

Keempat buron tersebut merupakan teman satu komplotan Herlika yang tewas ditembak polisi dalam upaya penangkapan, Selasa (2/7/2013). Tewasnya Herlika mengundang reaksi masyarakat bertindak anarkistis. Massa membakar dua Markas Polsek di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Boy mengatakan, hari ini situasi telah kembali normal.

"Hari ini situasi terkendali. Hadir di sana Brimob Sumsel, Brimob Jambi, 2 kompi TNI, berlangsung juga upaya dialog untuk ciptakan rasa aman,"

Diberitakan sebelumnya, Herlika ditembak karena melakukan perlawanan pada Selasa (2/7/2013) sekitar pukul 14.00 WIB. Ia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. Sesaat setelah penyergapan yang menewaskan Herlika, masyarakat Desa Karanganyar, Kecamatan Rupit melakukan pembakaran markas Polsek sementara Muara Rupit dan Polsek Rawas Ulu.

Massa juga merusak rumah dinas Kapolsek Rawas Ulu dan perumahan anggota Polsek Rawas Ulu. Selain itu, sekitar pukul 15.00 massa juga menutup jalan lintas Lubuk Linggau Singkut, tepatnya di Desa Panggung Rupit. Herlika merupakan residivis. Dia dan empat buronan tersebut diduga kelompok yang kerap melakukan tindak kejahatan di jalur lintas Sumatera (jalinsum). Kelompok ini pun telah lama diincar kepolisian karena meresahkan warga.

Penulis: Dian Maharani
Editor : Hindra Liauw