Rabu, 22 Oktober 2014

News / Coretan Ringan

Di Dalam Pelukan Nyai

Jumat, 29 Juni 2012 | 12:52 WIB

SERDADU dan pegawai rendahan VOC di Batavia seringkali tidak mampu menikahi seorang perempuan Eropa atau berdarah campuran Indo-Eropa. Seorang nyai, perempuan pribumi, kemudian menjadi "isteri" yang mengurus rumah tangga dan segala kebutuhan lelaki-lelaki Belanda itu.

Pada tahun 1830, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mendirikan dan mengembangkan angkatan bersenjata di Nusantara. Sejak saat itu, semakin banyak saja serdadu Belanda yang didatangkan ke nusantara. (lihat Reggie Baay. De Njai: Het Concubinaat in Nederlands-Indië. Amsterdam: Athenaeum-Polak & Van Gennep. 2008).

Lelaki-lelaki itu menandatangani kontrak dinas selama enam tahun. Sebagian besar di antara lelaki Belanda itu tidak beristri. Walaupun perempuan Indo-Eropa cantik-cantik, serdadu-serdadu itu terlalu miskin untuk menikahi dengan mereka.

Akan tetapi, ketiadaan seorang istri tidak terlalu terasa karena di barak militer tempat serdadu-serdadu itu tinggal, budak-budak perempuan mengurus dan menyiapkan segala keperluan mereka. Dalam waktu singkat, salah seorang budak perempuan lantas diajak "berumah tangga." Budak perempuan yang berumah tangga dengan tuannya lazim disebut nyai.

Pada mulanya, nyai-nyai itulah yang dituduh sebagai biang keladi penyebaran penyakit siphilis ketika penyakit itu marak di ibukota Hindia Belanda. Salah besar. Rupanya penyakit itu dibawa dan disebarkan oleh serdadu-serdadu "sehat" yang baru datang dari daratan Eropa.

Sejak tahun 1639, semua lelaki Belanda, yang menikah dengan perempuan pribumi atau Indo-Eropa, dilarang kembali ke Negeri Belanda (dengan anak-istrinya). Karena itu, setelah masa dinas selama enam tahun, kebanyakan lelaki itu memutuskan untuk menetap di Hindia-Belanda. Anak-anak yang lahir dari sebuah perkawinan campuran memperoleh status sebagai orang Eropa, seperti Pappie-nya.

Orang kaya di Batavia dan tempat lain di Hindia-Belanda mengirimkan anak lelaki mereka untuk belajar di Negeri Belanda. Anak-anak perempuan tidak memperoleh kesempatan itu. Anak perempuan itu tidak dianggap perlu meneruskan pendidikannya.

Jodoh yang dianggap pantas biasanya adalah lelaki yang berpenghasilan baik. Sayangnya, lelaki yang berkantung tebal biasanya sudah tua. Orang tidak heran lagi melihat seorang perempuan bersanding dengan lelaki yang berusia 20-30 tahun lebih tua! Sayangnya (atau, untungnya?!) suami-suami yang tua itu biasanya lebih cepat meninggal dunia dibandingkan istrinya. Seringkali, sang istri adalah satu-satunya ahli waris yang ada. Nah, ramailah para jejaka mendekati dan merayu janda-janda muda Batavia yang kaya raya itu!

Sosok nyai yang memberi ketenangan lahir batin kepada lelaki-lelaki Belanda di Nusantara tersisih ketika semakin banyak perempuan Belanda datang setelah Terusan Suez dibuka pada tahun 1867.

(frieda.amran@yahoo.com, pendiri Wariss: Warisan Insan di Selatan Sumatera)

 


Editor : Pingkan