Senin, 21 April 2014

News / Lansir

Naturalis Wallace di Hotel des Indes

Selasa, 26 Juni 2012 | 13:41 WIB

Baca juga

NAMA Wallace, lengkapnya Alfred Russel Wallace, sudah akrab di telinga para ilmuwan. Dia adalah seorang naturalis (1823-1913) kelahiran Inggris yang senang bertualang. Minat utamanya adalah fauna dan flora.

Selama bertahun-tahun dia berkelana di Nusantara. Antara 1845-1846 dia menulis laporan perjalanannya Malay Archipelago. Tahun 2000 PT Remaja Rosdakarya menerjemahkannya dalam judul Menjelajah Nusantara.

Wallace bermukim di Jawa selama tiga setengah bulan, yakni pada 18 Juli-31 Oktober 1861. Suatu saat dia menumpang kapal api dari Surabaya ke Batavia. Dalam laporannya, Wallace mengatakan pusat perdagangan Batavia terletak dekat pelabuhan.

Sementara hotel dan permukiman berada dua mil dari pusat kota. Karena dulu masih sepi, maka satu-satunya alat transportasi dari hotel ke permukiman adalah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Ongkos yang dikenakan sebesar lima gulden untuk setengah hari.

Pada abad ke-17 air di Batavia dikenal sangat jernih. Namun menurut catatan Wallace, kanal bersih di Batavia berubah penuh lumpur. Tentang Hotel des Indes, yang kini telah sirna dan di atasnya berdiri Pertokoan Duta Merlin, Wallace mengatakan sangat nyaman.

Tiap pengunjung, katanya, mempunyai ruang duduk dan tempat tidur yang terbuka ke arah beranda. Bahkan pengunjung bisa menikmati kopi di pagi hari dan minum teh di siang hari (Kepulauan Nusantara, 2009).

Katanya lebih lanjut, di tengah gedung terdapat ruang terbuka berbentuk segi empat. Sebuah bangunan berdiri di situ berisi sejumlah kamar mandi berdinding marmer yang siap pakai. Di sana juga ada hidangan table d'hote yang lezat pada pukul 10.00 dan makan malam pada pukul 18.00. "Harga yang dikenakan setiap hari untuk hidangan tersebut tidak terlalu mahal," demikian Wallace.

Wallace menilai suhu udara di Batavia sangat panas. Karena itu dia pergi ke Buitenzorg (Bogor) dengan kereta untuk menikmati kesejukan, sekaligus mengunjungi Kebun Raya yang kaya akan tumbuhan tropis. Meskipun kurang terawat seperti rumah kaca di Inggris, namun adanya tumbuhan khas Melayu, mengundang kekagumam Wallace.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

 


Editor : Pingkan