Jumat, 1 Agustus 2014

News /

EKSPEDISI

Mahasiswa Indonesia di Tujuh Puncak Dunia

Sabtu, 9 Juli 2011 | 03:38 WIB

Jakarta, Kompas - Melalui serangkaian pendakian selama tiga tahun, empat pendaki muda dari Mahitala Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, akhirnya menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai tujuh puncak dunia. Puncak Denali di Amerika menjadi gunung ketujuh yang sukses mereka daki pada Jumat (8/7).

”Kami sudah mencapai puncak Denali. Semua sehat. Semoga bisa menginspirasi pemuda di Indonesia untuk terus berkarya,” kata Sofyan Arief Fesa (28) mengabarkan berita gembira itu melalui telepon satelit kepada Kompas, beberapa saat setelah mencapai puncak.

Sofyan adalah ketua tim pendaki Indonesia Seven Summits Expedition Universitas Parahyangan. Selain Sofyan, ketiga pendaki lain adalah Xaverius Frans (24), Janatan Ginting (22), dan Broery Andrew Sihombing (22).

Sebelumnya, mereka sukses mencapai puncak Carstensz Pyramid di Papua (Februari 2009), Kilimanjaro di Tanzania (Agustus 2010), Elbrus di Rusia (Agustus 2010), Vinson Massif di Antartika (Desember 2010), Aconcagua di Argentina (Januari 2011), dan Everest di Nepal (Mei 2011).

Sani Handoko, senior Mahitala, mengatakan, kesuksesan pendakian ini menempatkan pendaki Indonesia dalam jajaran elite 277 pendaki dunia yang berhasil mencapai tujuh puncak dunia. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara kedua setelah Singapura, yang pendakinya, Swee Chiow Khoo, sukses menyelesaikan tujuh puncak tertinggi tersebut pada November 2000.

Upaya pendaki Indonesia untuk mencapai tujuh puncak dunia sebelumnya dirintis oleh Mapala Universitas Indonesia (UI) tahun 1990-an. Namun, upaya ini terhenti setelah dua pendaki Mapala UI, Norman Edwin dan Didiek Samsu, tewas dalam pendakian ke Gunung Aconcagua tahun 1992.

Walaupun sudah teruji dengan sukses mendaki enam puncak tertinggi di bumi, pendakian ke puncak Denali bukanlah perkara yang mudah.

Cuaca cepat berubah

Cuaca di Denali sulit diprediksi karena sangat cepat berubah. Selain itu, ketiadaan porter membuat tim harus mengangkut sendiri perbekalan masing-masing. Dengan cara ”himalayan tactic” atau sistem turun-naik, empat pendaki ini harus berjalan bolak-balik dari camp ke camp untuk mengangkut perbekalan.

Perjalanan menuju puncak Denali dimulai dari base camp South East (SE) Fork di ketinggian 2.225 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari sana tim membawa seluruh perlengkapan mereka menuju Camp 1 (2.407 mdpl). Perjalanan dimulai pada Jumat (24/6) pukul 23.40 waktu setempat dan baru tiba di Camp 1 pukul 06.15 hari berikutnya.

Pada Senin (27/6), semua pendakian di Denali dihentikan karena cuaca buruk. Baru keesokan harinya pendakian dilanjutkan dari Camp 1 menuju Camp 2 (3.048 mdpl). Tim bergerak lambat dari camp ke camp untuk terus menambah ketinggian di tengah hujan salju, kabut tebal, dan angin kencang. Di tengah cuaca buruk, tim berhasil mencapai Camp 3 (4.267 mdpl).

Dari Camp 3 menuju pos terakhir di Camp 4 (5.242 mdpl), perjalanan bertambah berat karena medan sangat curam dengan kemiringan hingga 50 derajat. Di titik ketinggian tertentu, pendakian harus dibantu dengan tali. Tim akhirnya selesai menimbun logistik di Camp 4 pada Rabu (6/7).

Upaya pendakian ke puncak Denali baru bisa dimulai pada Kamis (7/7) pukul 09.20. Perjalanan dari High Camp menuju puncak Denali merupakan bagian yang tersulit. Mereka harus melintasi padang salju yang berujung di The Autobahn atau bukit dengan elevasi hingga 365 meter. Di Autobahn, pendaki akan dipaksa berjalan menanjak di kemiringan 60 derajat.

Lewat serangkaian percobaan dan tantangan alam yang menghadang di depan mata, akhirnya bendera Merah Putih dikibarkan di titik tertinggi Amerika Utara, tepat pada Kamis pukul 17.37 waktu setempat atau Jumat (8/7) pukul 08.35 WIB.

Sofyan mengabarkan, saat itu angin bertiup kencang sehingga suhu bisa turun hingga minus 15 derajat celsius. (AIK)


Editor :