Selasa, 29 Juli 2014

News /

Liputan Khusus Lebaran

Mudik Lewat Jalur Alternatif

Sabtu, 12 September 2009 | 10:27 WIB

Oleh Mukhamad Kurniawan, Timbuktu Harthana, dan Dwi Bayu Radius

Permadani sawah nan hijau serta deretan pohon karet, cokelat, dan kayu putih menghampar di kanan-kiri jalan. Semilir udara menerobos masuk dari kaca jendela mobil, mereduksi penat dan lelah setelah duduk berjam-jam di atas jok. Perjalanan mungkin masih panjang, tetapi tak akan terasa saat melintas.

Itu sepenggal pengalaman melintas di jalur alternatif Sadang-Cikamurang, Majalengka-Ciamis, atau Majalengka-Kuningan-Brebes. Rute itu bisa menjadi pilihan bagi pemudik jika jalur utama di pantai utara (pantura) Jawa Barat terlalu padat.

Setiap tahun, mulai Cikampek (Karawang) sampai Losari (Cirebon), ribuan mobil, sepeda motor, bahkan bajaj menyemut di jalur tersebut. Pemudik umumnya dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok hendak menuju kota-kota di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Sebenarnya ada banyak jalan alternatif di Jabar yang bisa dilewati pemudik agar terhindar dari kemacetan di jalur utama. Memang jarak tempuh sedikit lebih panjang, tetapi perjalanan jauh lebih lancar. Sadang-Cikamurang

Rute Sadang-Kalijati-Subang-Cikamurang sebenarnya tak asing. Sebagian pemudik, sengaja tidak, pernah melintasi jalur ini. Sengaja melintas karena memilih menempuh rute tersebut atas inisiatif sendiri atau tidak sengaja melintas karena diarahkan polisi untuk menghindari jalur pantura. Itu wajar karena jalur ini adalah penopang utama saat terjadi kemacetan atau penumpukan kendaraan di jalur pantura.

Rute ini sepanjang 87 kilometer dengan lebar badan jalan rata-rata 5-6 meter. Fasilitas SPBU, bengkel, minimarket, dan rumah makan relatif tak jauh berbeda dibandingkan dengan jalur pantura. Pada rute Sadang (Purwakarta)-Cibogo (Subang) telah beroperasi sekitar 10 SPBU, belasan rumah makan, dan bengkel.

Pemudik akan mudah menemukan kios-kios makanan khas Jabar di rute ini. Jajanan seperti dodol garut, manisan cianjur, peuyeum, ubi cilembu, hingga nanas madu khas Subang banyak ditemui, antara lain di Kalijati, Dawuan, serta Subang.

Namun, pengendara perlu mewaspadai truk dan bus yang kadang melintasi jalur ini. Jalan yang cukup sempit membuat pengemudi perlu lebih awas jika hendak menyalip truk.

Saat memasuki wilayah Kabupaten Indramayu, pemudik perlu lebih hati-hati. Pada ruas sepanjang sekitar 25 km yang menghubungkan Bantarwaru-Sanca-Cikamurang sulit ditemukan SPBU, bengkel, atau rumah makan. Rute ini relatif sepi dan memiliki beberapa titik kerusakan jalan. Gelombang dan lubang jalan, misalnya, tersebar di beberapa titik di ruas Bantarwaru-Sanca. Hingga awal September 2009 ruas sepanjang 3 km dari Bantarhuni hingga Cikamurang masih diperbaiki.

Pemudik, khususnya dari arah Bandung atau limpahan dari jalur alternatif Sadang-Cikamurang yang tak ingin terjebak kemacetan akibat pasar tumpah di Pasar Prapatan, Kabupaten Majalengka, dianjurkan menempuh jalur Kadipaten-Sumber. Dari Kadipaten, pemudik menuju kota Majalengka hingga persimpangan Cigasong, lalu lurus menuju Sumber, Kabupaten Cirebon.

Jaraknya sekitar 42 km dengan lebar jalan 4-6 meter dan kondisi jalan beraspal mulus. Ada setidaknya enam SPBU yang representatif dan luas, bahkan bisa dijadikan tempat istirahat.

Selain pemandangan batu kapur yang menjulang elok, pemudik juga bisa singgah di sentra perajin batu alam di Sindangwangi dan Dukupuntang. Hiasan dinding atau pot bunga batu alam layak dijadikan suvenir.

Selepas Sumber, pemudik lurus saja mengikuti jalan utama hingga masuk Kota Cirebon di daerah Kalitanjung. Jika ingin ke Jateng melewati jalan biasa, berarti belok kiri. Namun, kalau ingin melalui jalan tol atau jalur alternatif Kuningan-Brebes via Cibingbin, berarti belok kanan. Jangan khawatir, pemandangan indah menanti Anda di Kuningan. Kadipaten-Sumber-Cibingbin

Jalan ini sudah lama menjadi jalur alternatif utama pemudik untuk menghindari kemacetan di sekitar Gebang-Losari, Kabupaten Cirebon. Ada dua penyebab kemacetan di daerah itu.

Pertama, pertemuan kendaraan yang keluar dari Tol Palimanan-Kanci menuju pantura. Kedua, pasar tumpah di Pasar Gebang sehingga terjadi penyempitan jalan. Lebih-lebih pada Jumat karena itu adalah hari pasarannya.

Jalur alternatif Kanci-Ciledug dimulai di pertigaan Kanci Kulon, sekitar 2 km sebelum pintu keluar Tol Kanci. Pemudik bisa mudah sampai Ciledug hanya dengan menyusuri jalan besar selebar 5-6 meter yang sudah diaspal. Sebagian jalan bergelombang dan berlubang, terutama di Karangwareng, Pabuaran, Waled, dan Ciledug, tetapi sudah ditutupi agregat (adonan pasir dan batu) agar perjalanan lebih nyaman.

Di sepanjang jalan itu terdapat dua SPBU yang beroperasi 24 jam selama arus mudik dan balik Lebaran. Selain itu, di jalan sepanjang 27 km sampai Ciledug sedikitnya ada enam minimarket yang menyediakan makanan dan minuman ringan. Sesampai di Ciledug, pemudik bisa langsung ke Brebes menempuh rute Banjarharjo-Katanggungan atau kembali masuk jalur pantura lewat Losari.

Umumnya jalan-jalan alternatif di Jabar sudah cukup nyaman untuk dilalui. Namun, ada sejumlah ruas jalan bergelombang dan penuh tambalan sehingga pengendara perlu selalu waspada.

Pemudik dengan kendaraan pribadi juga harus rutin memerhatikan persediaan bahan bakar minyak. Beberapa ruas jalan alternatif tidak dilengkapi dengan jumlah SPBU yang memadai. Petunjuk jalan sangat minim sehingga pengendara harus kerap bertanya kepada warga setempat.

Penerangan jalan pun tak ditemukan pada jalan alternatif yang berada di daerah. Pengendara perlu mengendalikan kecepatan kendaraan dalam batas wajar jika melintasi jalur tersebut agar selamat tiba di tempat tujuan.


Editor :