Minggu, 29 Mei 2016

Nasional

Situs Trowulan, Peradaban Majapahit yang Mengagumkan

Senin, 12 Januari 2009 | 21:47 WIB

SEMPATKAN berkunjung ke Situs Trowulan, di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, akan banyak pengetahuan baru yang didapat dan bukti-bukti mengagumkan yang menarik dicermati dan dikaji.

Memang, dari pelajaran sejarah, yang diketahui tak lebih dari lintasan sejarah Gajah Mada, sang Mahapatih yang dikenal lewat Sumpah Amukti Palapa. Dan juga tentang Ratu Tribhuwanotunggadewi Jayawisnuwardhani dan Raja Hayam Wuruk, dua nama yang membawa Majapahit ke puncak keemasan.

Dengan berkunjung ke Trowulan, banyak cerita dan bukti yang dapat disaksikan tentang peradaban masa Majapahit, yang berkembang lebih kurang 200 tahun, mulai berdiri tahun 1293 dan diperkirakan runtuh tahun 1521 Masehi. Bahkan, dari juru kunci atau perantara di Wringin Lawang salah satu dari ribuan artefak dan puluhan bangunan bersejarah penanda kebesaran Majapahit , juga bisa didapatkan cerita, bahwa calon-calon penguasa di negeri ini selalu menyempatkan diri berziarah.

"Mereka seolah mendapatkan sugesti. Dan ternyata nama-nama yang disebut juru kunci , memang akhirnya jadi pemimpin di negeri ini. Menjelang pemilihan presiden 2004 lalu , Bu Mega dan Pak Es Be Ye juga sempat ke sini," kata Supardi (66), sang juru kunci. Barangkali, menjelang Pemilu 2009, Trowulan akan lebih banyak dikunjungi tokoh-tokoh calon pemimpin bangsa ini.

Karena itu, menjadi wajar muncul pertanyaan mengapa pembangunan proyek Pusat Informasi Majapahit (PIM), yang menjadi bagian dari rencana besar membangun Majapahit Park, terkesan dipaksakan dan dilaksanakan tidak melalui prosedur yang seharusnya.

Apakah karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan dukungan, sebagaimana diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, saat peletakan batu pertama, 3 November 2008, lantas semua ketentuan yang berlaku bisa diabaikan?

Sorotan dan tudingan yang bertubi-tubi dari berbagai pihak pemangku kepentingan, seperti yang diekspose Kompas sejak 4 Januari lalu hingga sekarang, seperti menegaskan bahwa Pemerintah tak bisa seenaknya merusak situs yang sangat bersejarah dan unik di mata dunia itu.

Tindakan sekecil apa pun, tidak hanya harus berlandaskan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan ketentuan hukum lainnya, tetapi di atas semua itu harus dilandasi etika-moral dan hati nurani, tandas arkeolog dari Universitas Indonesia, Prof Dr Mundardjito.

Mundardjito bersama Arya Abieta, Osriful Oesman, Daud Aris Tanudirjo dan Anam Anis dari Tim Evaluasi Pembangunan PIM-lah yang membongkar ketidakberesan dan kejanggalan dalam pembangunan PIM. A tas desakan pemangku kepentingan lainnya, memaksa Pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) untuk menghentikan pembangunan PIM.

Hasil rapat 8 Januari 2009 lalu dengan puluhan pemangku kepentingan di Direktorat Sejarah dan Purbakala Depbudpar , Jakarta, disepakati Situs Trowulan yang rusak akibat proyek PIM harus direhabilitasi dan diteliti kembali dengan melibatkan para ahli dan proyek tersebut harus di carikan alternatif lokasi yang baru (relokasi).

Pentingnya Situs Trowulan

Trowulan, sekitar 60 km barat daya Kota Surabata, adalah ibukota kerajaan saat Majapahit mencapai puncak kejayaan. Pada areal seluas 11 x 9 kilometer persegi , sebagaimana yang pernah diteliti Nurhadi Rangkuti, yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit itu, telah ditemukan sedikitnya 32 kanal, satu kolam seluas lebih kurang 6,5 hektar, dua pintu gerbang ; gapura Bajangratu dan Gapura Wringin Lawang, pemukiman dan pendopo kuno, candi Hindu dan Buddha, seperti Candi Brahu, Candi Tikus, dan Candi Gentong .

Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Hari Untoro Dradjat mengatakan, Situs Trowulan merupakan satu-satunya peninggalan purbakala berbentuk kota dari era kerajaan-kerajaan kuno di masa klasik Nusantara, dari abad V sampai XV Masehi. "Sebagai bekas kota, di Situs Trowulan dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan arkeologis baik berada di bawah maupun di permukaan tanah yang berupa artefak, ekofak, serta fitur," katanya.

Situs bekas kota Kerajaan Majapahit ini dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung, yaitu Gunung Penanggungan, Welirang, dan Gunung Anjasamara. Sedangkan kondisi geografis daerah Trowulan mempunyai kesesuaian lahan sebagai daerah pemukiman. Hal ini didukung oleh antara lain topografi yang landai dan air tanah yang relatif dangkal.

Mundardjito mengatakan, dari kerajaan lain yang tersisa hanya candi-candi atau prasasti . Jika Yunani memiliki Acropolis di Athena, Italia menyimpan reruntuhan Pompeii, Kamboja bangga dengan Angkor Wat, dan P eru masih setia merawat Machu Picchu, Indonesia hanya memiliki Trowulan yang hingga saat ini pun belum tergali sempurna.  

Situs peninggalan Kerajaan Majaphit yang sangat menarik ini diperoleh melalui penelitian yang panjang. Menurut data, penelitian terhadap Situs Trowulan pertama kali dilakukan oleh Wardenaar pada tahun 1815. Ia mendapat tugas dari Raffles untuk mengadakan pencatatan arkeologi di daerah Mojokerto. Hasil kerja Wardemaar tersebut dicantumkan oleh Raffles dalam bukunya History of Jawa (1817), yang menyebutkan bahwa berbagai obyek arkeologi yang berada di Trowulan sebagai peninggalan dari Kerajaan Majapahit.

Penelitian berikutnya dilakukan oleh WR Van Hovell (1849), JVG Brumund, dan Jonathan Rigg. Kemudian RDM Verbeek (1889), RAA Kromodjojo Adinegoro seorang Bupati Mojokerto (1849-1916). J Knebel (1907), dan kemudian Henry Maclaine Pont (1921-1924) .

Hasil penggalian di Situs Trowulan menunjukkan bahwa sebagai tempat terakumulasinya aneka jenis benda yang biasa disebut kota ini, tidak hanya berupa situs tempat tinggal saj a, tetapi juga terdapat situs-situs lain seperti situs upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industri, situs perjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal, dan situs waduk. S itus-situs ini membagi suatu kota dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil dengan tembok keliling blok-blok segi empat dan diikat oleh jaringan jalan.  

Pada tahun 1981 keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di Situs Trowulan semakin pasti diketahui melalui studi foto udara yang ditunjang oleh pengamatan di lapangan dengan pendugaan geoelektrik dan geomagnetik. Hasil penelitian kerjasama Bakosurtanal dengan Ditlinbinjarah, UGM, ITB, dan LAPAN itu diketahui bahwa Situs Trowulan berada di ujung kipas aluvial vulkanik yang sangat luas, memiliki permukaan tanah yang landai dan baik sekali bagi tata guna tanah, kata peneliti Nurhadi Rangkuti.

Hal yang menarik, sebagian besar situs-situs di Trowulan dikelilingi oleh kanal -kanal yang saling berpotongan, membentuk sebuah denah segi empat yang luas, dibagi lagi oleh beberapa bidang segi empat yang lebih kecil lagi.

Tindakan destruktif

Penelitian dan penggalian arkeologis sampai sekarang masih berlangsung, tapi kalah cepat dengan penggalian yang dilakukan masyarakat. Lihatlah, di sekitar situs ribuan masyarakat melakukan tindakan destruktif atas nama desakan kebutuhan hidup.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Junus Satrio Atmodjo mengatakan, situs Majapahit di Trowulan mengalami kerusakan sejak tahun 1990. Sedikitnya 5.000 keluarga menggantungkan hidupnya pada industri batu bata, yang bahan bakunya berasal dari galian tanah di sekitar situs Majapahit. T indakan destruktif sebagian masyarakat berlangsung terus-menerus dan semakin meluas. Kondisi ini semakin menyulitkan upaya menyelamatkan situs , katanya.

Menurut Mundardjito, masyarakat terpaksa melakukan tindak destruktif di situs Trowulan karena desakan kebutuhan hidup yang begitu besar dan berlangsung terus-menerus. A gar pembangunan kawasan Trowulan tidak menimbulkan dampak negatif, perlu segera ditetapkan secara hukum batas-batas kawasan dan batas-batas zona di dalam kawasan itu secara geografis, administratif, dan kultural sehingga jelas mana wilayah perlindungan dan mana wilayah pengembangan. Potensi lingkungan perlu dikaji dalam kaitannya dengan penggunaan lahan oleh masyarakat agar pelestarian situs dapat dicapai.  

Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI, Agus Aris Munandar, juga mengatakan hal senada. L aju kerusakan Situs Trowulan l ebih cepat dari upaya pelestarian. Hanya sedikit benda-benda peninggalan yang mampu diselamatkan.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sendiri mengakui sisa-sisa kejayaan Majapahit selama ini belum ditangani secara khusus, tidak seperti situs Sriwijaya yang sudah dibicarakan secara akademis dan ditunjang dengan program-program khusus untuk melestarikannya. Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyebutkan, tak kurang dari 6,2 hektar lahan di Situs Trowulan rusak setiap tahun.

Arkeolog Mundardjito ketika memaparkan hasil S eminar Integratif Kajian dan Perlindungan Situs Kerajaan Majapahit di Jakarta , Mojokerto, dan Depok tahun 2008, menegaskan, pembangunan kawasan Trowulan seharusnya dilandasi dengan konsep pembangunan berwawasan pelestarian dan pelestarian berwawasan pembangunan. Ini berarti bahwa di kawasan ini tidak mungkin melaksanakan pembangunan pembangunan tanpa mempertimbangkan aspek pelestarian peninggalan Majapahit yang sudah sedemikian terkenal di Asia Tenggara.

Pembangunan kawasan ini harus dilandasi konsep pengelolaan secara bersama, untuk kepentingan bersama, dan berdasarkan kesepakatan dari semua pemangku kepentingan, baik sektor pemerintah dan sektor pengusaha, maupun sektor masyarakat. Rencana induk yang integratif semacam itu belum dibuat. Rencana induk arkeologi 1986 yang pelaksanaannya sudah berjalan, perlu dikembangkan menjadi tata ruang wilayah yang terencana sesuai dengan kondisinya sekarang. Dengan demikian kawasan Trowulan dapat dikelola bukan hanya secara integratif, tetapi juga dengan cara partisipatif, papar Mundardjito , pendiri Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia tahun 1976, dan Ketua Harian IAAI Pusat 1992-1996.(YURNALDI)    

Editor :