Sabtu, 23 Agustus 2014

News / Bisnis & Keuangan

Negara Berkembang di Ambang Krisis Nilai Tukar

Jumat, 31 Oktober 2008 | 09:58 WIB
Negara-negara berkembang yang perekonomiannya tengah bertumbuh (emerging markets) menjadi titik panas (hot spot) baru yang berpotensi besar meletupkan babak baru krisis global yang lebih berbahaya: krisis nilai tukar mata uang.

Di Eropa Timur, krisis nilai tukar dibarengi dengan risiko gagal bayar utang yang berpotensi menyeret perbankan negara maju dan perekonomian global ke dalam krisis lebih buruk dan berkepanjangan.

Dampak krisis finansial global menyebar dengan cepat seperti lidah api ke seluruh wilayah emerging markets, mulai dari kawasan Baltik, Rusia, Eropa Timur, hingga Amerika Latin. Bahkan, emerging markets Asia yang kondisinya relatif lebih lebih baik juga tidak selamat dari tekanan nilai tukar, terutama akibat efek global menguatnya nilai tukar dollar AS dan pelarian modal di sektor portofolio serta melemahnya ekspor.

Seluruh mata uang emerging markets, mulai dari krona Islandia, rand Afrika Selatan, zloty Polandia, forint Hongaria, peso Meksiko, hingga won Korsel, mengalami tekanan berat. Di beberapa negara penurunannya mencapai hingga 80 persen sejak awal tahun.

Sepanjang September saja, cadangan devisa negara-negara Asia (tak termasuk China yang cadangan devisanya justru meningkat 21,45 miliar dollar AS) sudah terkuras 20,33 miliar dollar AS untuk intervensi di pasar. Penurunan terbesar terjadi di Malaysia (12,9 miliar dollar AS), disusul Korsel (3,53 miliar dollar AS) dan India (3,49 miliar dollar AS).

Untuk Indonesia, sejak 7 Oktober lalu cadangan devisa sudah tergerus 4,1 miliar dollar AS lebih, dari 56,6 miliar dollar AS menjadi 52,5 miliar dollar AS.

Namun, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) diperkirakan jauh lebih besar daripada penurunan cadangan devisa. Pengamat ekonomi Yanuar Rizky memperkirakan BI sudah mengeluarkan sekitar 15 miliar dollar AS-20 miliar dollar AS dalam dua bulan terakhir untuk intervensi kendati itu tak tecermin pada posisi cadangan devisa karena ditutup dengan penerbitan surat utang negara (SUN).

Bahkan, pernah dalam satu hari, yakni Selasa (28/10), ketika rupiah sempat melemah hingga Rp 11.850 per dollar AS, BI sampai menguras 5 miliar dollar AS cadangan devisa untuk memborong rupiah di pasar spot.

Tidak ada yang bisa memastikan sampai kapan kondisi ini akan berlangsung. Tak ada satu negara pun yang kini merasa cadangan devisa mereka aman dan mencukupi, bahkan China yang cadangan devisanya 1,9 triliun dollar AS atau Korsel yang 240 miliar dollar AS.

Menguatnya dollar AS yang mengakibatkan mata uang lain melemah sekarang ini sebenarnya adalah konsekuensi langsung dari ambruknya pasar finansial global. Investor merasa tak aman dan memilih menempatkan dananya di surat-surat berharga Pemerintah AS yang dianggap paling aman.

Hedge funds dan investor lain berlomba menarik dananya (flight to safety) dalam skala masif dari emerging markets dan masuk ke dollar AS atau yen sebagai dua tempat pelarian (safe havens) paling dicari sekarang ini.

Komoditas, termasuk minyak mentah, yang sebelumnya sempat jadi tempat pelarian lain kini ditinggalkan karena kekhawatiran resesi global akan membuat permintaan dan harga minyak ikut rontok kendati Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sudah mengurangi produksi.

Negara-negara Amerika Latin berpotensi terjerumus kembali dalam krisis utang. Brasil, seperti pengakuan Presiden Bank Sentral Henrique Meirelles, sudah mengeluarkan 22,9 miliar dollar AS hanya dalam kurun 8-20 Oktober 2008 untuk mendongkrak nilai mata uang real. Sebesar 3,2 miliar dollar di antaranya untuk intervensi langsung di pasar spot.

Meksiko juga harus merogoh 6,4 miliar dollar AS pada 10 Oktober saja untuk intervensi dengan memborong peso di pasar. Real Brasil sudah kehilangan sekitar sepertiga nilainya terhadap dollar AS dan indeks saham bursa sudah jatuh 32 persen selama kurun 1 Agustus-22 Oktober lalu.

Di Eropa Timur, sejumlah negara terpaksa menaikkan suku bunga sebagai jurus pamungkas melindungi mata uang agar tetap berada dalam batas pagu Mekanisme Nilai Tukar Eropa (ERM) yang berlaku di zona Euro dan mencegah pelarian modal. Hongaria menaikkan suku bunga 3 persen menjadi 11,5 persen.

Romania juga harus menaikkan suku bunga pinjaman antarbank (overnight) hingga 900 persen untuk meredam pelarian modal kendati secara politis sangat berisiko memicu krisis perbankan berbahaya, seperti terjadi di negara-negara Skandinavia menjelang krisis ERM tahun 1992. Rusia sendiri sudah kehilangan 15,5 miliar dollar AS cadangan devisa untuk mendongkrak nilai tukar mata uangnya.

Kebangkrutan ekonomi

Kalangan ekonom memperingatkan seluruh perekonomian Eropa Timur sekarang ini di ambang kebangkrutan. Setelah Eslandia, berturut-turut sejumlah negara Eropa Timur masuk dalam antrean untuk mendapatkan suntikan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Resesi ekonomi di negara-negara maju zona Euro, seperti Perancis, Jerman, dan Inggris, akan sangat memukul ekonomi Eropa Timur. Ceska, misalnya, menggantungkan 40 persen produk domestik bruto (PDB)-nya pada ekspor ke negara maju di zona Euro.

Perekonomian negara-negara Baltik, menurut para ekonom, bahkan sudah masuk kategori krisis. Latvia dan Estonia yang pertama resesi, disusul Lituania.

Bulgaria dan Romania, dinilai ekonom Citibank, juga sangat rentan mengalami stabilitas finansial, dengan defisit nasional sudah mencapai 21,5 persen dari PDB, sehingga harus berpaling ke Bank Sentral Eropa (ECB) dan IMF untuk menyelamatkan ekonominya dari kebangkrutan.

Sebelumnya, 16 Oktober lalu ECB juga harus mem-bailout Hongaria lewat injeksi likuiditas senilai 5 miliar poundsterling. Polandia, Slowakia, dan Ceska relatif lebih baik karena tak terlalu tergantung dari pinjaman luar negeri. Namun, mereka sangat tergantung dari investasi langsung asing (FDI) yang tahun depan kemungkinan tidak mengalami ekspansi.

Kondisi eks Soviet juga rawan karena negara ini sangat bergantung pada utang luar negeri untuk menopang pertumbuhan ekonominya. Untuk menyelamatkan perbankannya, Pemerintah Rusia juga sudah menyisihkan hampir 200 miliar dollar AS.

Mirip seperti yang terjadi di Indonesia sebelum krisis, selama satu dekade terakhir ratusan bank kecil muncul di Rusia dengan modal dari pinjaman asing yang kemudian dipakai untuk membiayai pembangunan sektor- sektor booming, seperti properti.

Utang luar negeri Rusia (530 miliar dollar AS) sekarang ini sudah melampaui cadangan devisanya. Sekitar 47 miliar dollar AS jatuh tempo dalam dua bulan ini. Kondisi serupa dihadapi Ukraina yang sejauh ini indeks sahamnya sudah anjlok 75 persen. Ukraina sudah meminta pinjaman darurat 14 miliar dollar dari IMF.

Kekhawatiran besar terhadap krisis nilai tukar dan gejolak di pasar valas ini memunculkan desakan bagi ditempuhnya upaya intervensi terkoordinasi di kalangan negara-negara maju, kemungkinan dalam beberapa hari mendatang ini, untuk meredam melonjaknya dollar AS dan bergugurannya mata uang emerging markets.

”Risikonya sangat besar, tetapi itu langkah tepat saat ini karena jika sampai emerging markets ikut (tumbang) ke dalam gagal bayar, konsekuensinya akan sangat katastropik,” kata ekonom terkemuka Harvard University, Kenneth S Rogoff, dikutip New York Times, akhir pekan lalu.

Konsekuensi gagal bayar emerging markets terutama mengancam perbankan dan ekonomi negara maju Uni Eropa yang selama ini banyak menyalurkan kredit ke emerging markets, seperti terjadi pada krisis finansial Asia dan Amerika Latin tahun 1990-an.

Hans Redeker, pakar valas di BNP Paribas, mengingatkan, krisis nilai tukar Eropa Timur juga bisa mengancam runtuhnya sistem nilai tukar mata uang di Uni Eropa serta memicu krisis di Uni Ekonomi dan Moneter Eropa (EMU). ”Sistem bisa lumpuh dan kejadiannya bisa seperti Black Wednesday 1992,” ujarnya.(sri hartati samhadi)


Editor :
Sumber: