Semua Alat Pendeteksi Tsunami Milik Indonesia Rusak

Kompas.com - 03/03/2016, 17:17 WIB
AP/Dita Alangkara Seorang lelaki melintasi reruntuhan yang terempas tsunami dari Samudera Hindia hingga ke depan Masjid Raya di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Gambar diambil pada 29 Desember 2004.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, semua buoy tsunami atau alat pendeteksi tsunami di tengah laut milik Indonesia kini tidak dapat dioperasikan.

Semua buoy tsunami itu rusak karena tidak dirawat atau dirusak oleh "oknum".

Sutopo menjelaskan, Indonesia memiliki 22 buoy tsunami yang disebar di beberapa titik. Dari jumlah tersebut, hanya delapan buoy tsunami milik Indonesia dan sisanya diperoleh dari bantuan Amerika Serikat, Jerman, dan Malaysia.

"Semuanya sudah tidak ada yang beroperasi," kata Sutopo di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (3/3/2016).


Ia mengungkapkan, pemeliharaan buoy tsunami sulit dilakukan karena tidak tersedia anggarannya. Hitungan BNPB, diperlukan sekitar Rp 30 miliar per tahun untuk merawat semua buoy tsunami di Indonesia.

Belum lagi kerusakan yang timbul karena sengaja dirusak. Buoy tsunami pernah diletakkan di Laut Banda pada April 2009, tetapi lima bulan kemudian buoy tsunami itu ditemukan hanyut dalam keadaan rusak di arah utara Sulawesi.

"Kondisi ini menyulitkan untuk memastikan apakah tsunami terjadi atau tidak," kata dia.

Saat ini, masih terdapat lima buoy tsunami di lautan Indonesia. Buoy tsunami milik Thailand di Laut Andaman, buoy tsunami milik India ada di Aceh.

Di Selatan Sumba terdapat dua buoy tsunami milik Australia dan satu buoy tsunami lagi milik Amerika Serikat.

Selain krisis buoy tsunami, Indonesia juga kekurangan jumlah sirine penanda tsunami. BMKG baru memasang 50 sirine. Padahal, Indonesia perlu sedikitnya 1.000 unit sirine.



EditorSandro Gatra

Close Ads X