Kompas.com - 11/06/2013, 16:27 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MALANG, KOMPAS.com — Wakil Ketua Lembaga Bantuan Hukum Malang (LBH Malang) Hosnan menilai, Ruben Pata Sambo dan Martinus Pata harus segera mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) terkait kasus yang membelit keduanya. Seperti diberitakan, Ruben dan Martinus adalah terpidana mati dalam kasus pembunuhan berencana terhadap sebuah keluarga di Tana Toraja, Desember 2005 silam.

Padahal, Ruben dan anaknya bukan pelaku sebenarnya. Kini pelaku pembunuhan tersebut sudah ditangkap, sementara Ruben dan anaknya dinyatakan bukan sebagai pelaku. Pelaku sebenarnya adalah Yulianus Maraya (24), Juni (19), Petrus Ta'dan (17), dan Agustinus Sambo (22). Semua pelaku adalah warga Jalan Ampera, Makale, Tana Toraja.

Seperti juga diberitakan, pembunuhan terhadap empat anggota keluarga Andrias tersebut terjadi pada 23 Desember 2005. "Polres Tana Toraja, Kejari, dan Pengadilan Negeri setempat yang bertanggung jawab karena tiga lembaga itu yang menangani kasus itu," tegas Hosnan, Selasa (11/6/2013). "Demi tegaknya keadilan hukum di Indonesia, Ruben dan anaknya harus dibebaskan melalui jalur PK ke MA itu. Itu yang harus dilalui Ruben saat ini," sambungnya.

Jika pihak Ruben sudah melakukan PK, tetapi ditolak oleh MA; maka langkah tersebut dapat kembali dilakukan. "Memang jalur PK itu cukup sekali dilakukan. Tapi demi keadilan hukum, karena pelakunya sudah ditangkap, dan mengaku Ruben bukan pelakunya, PK bisa dilakukan lagi," katanya.

Walaupun sudah ada bukti baru dan pelaku yang sebenarnya sudah ditangkap, tidak serta-merta Ruben dan anaknya dibebaskan. Pembebasan harus melalui jalur PK ke MA. "Kasus Ruben itu pernah terjadi di Jawa Timur dalam kasus tersangka Kemat. Ternyata dalam kasus itu, Kemat bukan pelakunya. Pelaku yang sebenarnya adalah Riyan, Jombang," katanya.

Kasus demikian, kata Hosnan, masuk pada kasus peradilan sesat. Yang bermain adalah oknum penegak hukum yang menangani kasus tersebut. "MA harus jeli terhadap kasus ini. Sementara itu, korban (Ruben) bisa meminta ganti rugi untuk perbaikan nama baiknya," katanya.

Melihat kasus tersebut, LBH Malang siap memberikan bantuan hukum kepada Ruben dan anaknya yang kini mendekam di Lapas Kelas 1A Lowokwaru dan Lapas Medaeng, Sidoarjo. "Jika pihak Ruben meminta pendampingan bantuan hukum, LBH Malang siap melakukannya. Bisa dibantu melalui LBH di Tana Toraja," kata Hosnan.

Selanjutnya, Jika Ruben menempuh jalur PK ke MA, maka eksekusi hukuman mati kepada keduanya tidak bisa dilakukan sebelum ada kepastian hukum dari MA. "Yang jelas tiga lembaga hukum itu yang bertanggung jawab atas kasus Ruben itu," ucap Hosnan lagi.

***

Ikuti berita terkait: Ruben dan Anaknya Divonis Mati meski Tak Membunuh

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.