Keterpencilan Poso, "Surga" Gerakan Radikal

Kompas.com - 05/06/2013, 03:03 WIB
Editor

Bom bunuh diri di halaman Markas Polres Poso, Senin lalu, mengejutkan masyarakat di tengah upaya melupakan konflik horizontal tahun 1999. Namun, berkat kedewasaan berpikir warga setempat, rangkaian kekerasan selama ini tak membuat harmoni yang terjalin menjadi buyar.

Poso merupakan daerah subur yang dikelilingi pegunungan dan berada di bibir Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Wilayah pegunungan yang terhampar luas dengan hutan di dalamnya ini menyimpan potensi sumber daya alam, seperti tambang emas, bijih besi, dan bahan tambang lain, serta perkebunan.

Namun, siapa sangka, ”Bumi Sinturu Maroso” yang potensial itu justru juga menjadi lokasi yang baik untuk tempat pelatihan dan persembunyian teroris. Hutan, pegunungan, dan desa-desa terpencil pada akhirnya seperti menjadi surga bagi kelompok teroris.

Buruknya infrastruktur jalan di wilayah-wilayah pegunungan dan desa-desa terpencil, yang tak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua, melengkapi potensi wilayah ini sebagai tempat yang baik untuk pelatihan sekaligus persembunyian. Kondisi ini pula yang kerap membuat aparat keamanan sulit melakukan pengejaran.

Saat ini di wilayah Gunung Koroncopu atau Gunung Biru diduga masih ada 30-100 orang yang masuk kelompok atau terkait jaringan teroris yang bersembunyi. Banyak di antaranya bersenjata. Aparat kepolisian dan TNI yang terus memantau pergerakan mereka menemukan kamp pelatihan, pondok-pondok peristirahatan, bahkan amunisi, bom, senjata api, obat-obatan, dan berbagai peralatan lain. Kelompok ini terus berpindah menghindari aparat yang terus mengejar.

Membangun harmoni

Bupati Poso Piet Inkiriwang, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, tokoh agama dan masyarakat, serta tentu saja aparat keamanan merupakan bagian dari pihak-pihak yang selama ini membangun suasa harmoni.

”Mari terus meningkatkan kebersamaan dan persaudaraan serta keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing,” kata Djanggola.

Tak lagi terlibat konflik, bukan berarti hidup warga Poso baik-baik saja. Peristiwa demi peristiwa kekerasan dan teror di wilayah ini membuat sebagian warga hidup dicekam kekhawatiran. Setiap kali terjadi peristiwa kekerasan, aktivitas warga pasti terganggu.

Mereka tak berani berlama-lama di kebun, aktivitas malam dikurangi, bahkan kerap toko dan pasar akan tutup.

Di tempat-tempat yang diduga menjadi basis kelompok teroris, sebagian masyarakat juga seolah hidup dalam tekanan. Berada di antara kelompok terkait jaringan teroris kerap membuat mereka jadi sulit bersikap. Di satu sisi, mereka harus berhadapan dengan kelompok ini. Di sisi lain, mereka juga harus berhadapan dengan polisi yang mengejar kelompok ini. Memberi dan tak memberi informasi merupakan pilihan yang serba sulit.

Akan halnya investor, situasi ini membuat mereka kehilangan kepercayaan dan rasa aman. Banyak yang hengkang. Yang sudah mengambi ancang-ancang masuk akhirnya membatalkan niat. Bayangan penyerapan tenaga kerja dan pengelolaan sumber daya alam Poso serta infrastruktur buyar dengan kaburnya atau gagalnya investor mendinamisasi sosial-ekonomi Poso.

Letupan bom itu baiknya dimaknai sebagai pesan agar pemerintah memperhatikan daerah ini secara holistik tanpa harus represif. (RENY SRI AYU)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X