Kompas.com - 27/04/2013, 07:13 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Peristiwa penembakan terhadap seorang kader Partai Nasional Aceh (PNA) di Pidie, Muhammad bin Zainal Abidin (35), dan sejumlah teror yang diterima para bakal calon anggota legislatif di Aceh Besar, merupakan bentuk premanisme politik di provinsi itu. Polisi didesak untuk mengusut tuntas, dan mengungkap sebenar-benarnya dalang di balik serangkaian tindak kekerasan itu.

"Tim sukses kami dibantai secara brutal di Pidie. Pelaku berperilaku seperti preman dan melawan hukum. Oleh karena itu, aparat yang berwenang harus segera menyelesaikan kasus ini secara tuntas," kata Darwati, salah seorang bakal caleg PNA, dalam acara jumpa pers menanggapi sejumlah aksi kekerasan politik di Aceh dalam beberapa waktu terakhir, Jumat (26/4/2013).

Darwati mengatakan, selain penembakan tersebut, banyak rekan-rekannya sesama bakal caleg perempuan di Aceh, khususnya dari PNA yang mendapat teror dan intimidasi.

Teror tersebut berupa ancaman dari pihak tertentu agar bakal caleg perempuan tersebut tak mendaftar sebagai caleg PNA. Bahkan, Zuhra (31), bakal caleg PNA dari Gampong Lampisang Tunong, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, mengaku diancam tembak oleh seseorang.

"Tidak hanya Zuhra, di daerah-daerah juga ada yang mendapat perlakuan yang sama. Namun, yang berani untuk melapor baru Zuhra," kata Darwati.

Bakal caleg PNA dari Aceh Besar, Cut Rika Keumalasari, mengaku pernah mendapatkan teror dan ancaman dari seorang mantan kombatan GAM yang juga anggota partai politik lokal di Aceh, pada saat mendaftar sebagai caleg dari PNA. "Orang tersebut mengatakan kepada saya, tolong ikut kami kami kalau ingin aman," tutur Rika.

Sementara, Zuhra mengaku dia diancam tembak oleh seorang berinisial B, yang merupakan bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). B dikenalnya sebagai simpatisan partai politik lokal terbesar di Aceh yang didirikan para bekas kombatan GAM. Kepada Zuhra, B meminta agar Zuhra mundur sebagai bakal caleg PNA.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ancaman itu diterima Zuhra kala hendak mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif PNA di Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Besar, Minggu (21/4/2013 ). Saat Zuhra sedang menunggu rombongan caleg PNA yang juga akan mendaftar ke KIP Aceh Besar, pelaku menghampirinya.  

Dia meminta saya mundur saja dari PNA, yang dia bilang sebagai partai pengkhianat. Dia bilang lagi, masih ada perintah tembak terhadap yang berkhianat, kata perempuan yang juga berprofesi sebagai guru sekolah taman kanak-kanak itu.

Direktur Aceh Conflict Base Early Warning System (ACBEWS) , Hayatullah Khumaini, mengatakan, kasus ancaman penembakan terhadap caleg-caleg perempuan tersebut telah memberikan gambaran hitam bagi proses politik dan demokrasi di Aceh.

Halaman:


25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X