Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PKS Hadapi Masa Sulit

Kompas.com - 08/02/2013, 01:59 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta mengakui saat ini merupakan masa-masa sulit bagi PKS. PKS akan melakukan pembenahan total dan konsolidasi untuk mengembalikan kondisi partai setelah mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menjadi tersangka kasus dugaan suap impor daging.

”Kami akan melakukan pembenahan total,” kata Anis di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/2).

Kasus hukum yang menimpa Luthfi dianggap sebagai peringatan bagi PKS untuk melakukan pembenahan. Untuk pembenahan ini, Anis berkeliling ke sejumlah daerah, di antaranya Jawa Barat dan Sumatera Utara. Di kedua provinsi itu, PKS akan bertarung memenangkan calon yang mereka dukung dalam pemilihan umum kepala daerah.

Selama berada di daerah, Anis merasakan dukungan kader dan simpatisan PKS masih cukup baik. ”Saya menemukan fakta, ada beda antara opini pengamat dan situasi di lapangan. Saya bertemu tokoh masyarakat, masyarakat Tionghoa di Sumut, mereka terus memberikan dukungan kepada PKS,” ujarnya.

Kemarin, Anis resmi mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR. Surat disampaikan dalam rapat pimpinan DPR yang dipimpin Ketua DPR Marzuki Alie.

Fraksi PKS belum menentukan pengganti Anis. Menurut Ketua DPP PKS Nasir Djamil, pengganti Anis sudah mengerucut ke dua nama, yakni Zulkieflimansyah (Wakil Ketua Komisi XI) dan Sohibul Iman (anggota Komisi VI). Menurut rencana, pengganti Anis akan diumumkan Jumat ini. Marzuki berharap pengganti Anis bisa diajak bekerja sama.

Kepercayaan turun

Sementara itu, banyaknya kasus korupsi yang dilakukan politisi, termasuk dari partai politik berbasis agama, ikut menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik berbasis agama.

”Gejala ini sebenarnya sudah mulai terjadi tahun 1950-an dan tahun 1960-an saat Muhammadiyah menyatakan dukungannya kepada Masyumi dan Nahdlatul Ulama menjadi Partai NU. Ketika kebijakan yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan masyarakat untuk bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, orang menemui kekecewaan terhadap peran agama di ranah publik,” kata Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq di Balai Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah, kemarin.

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sudarno Shobron, mengatakan, politisi membajak agama untuk kepentingan meraih kekuasaan sebenarnya sudah tidak relevan lagi pada masa kini. (NTA/EKI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.