Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Presiden: Tidak Menggembirakan

Kompas.com - 08/01/2013, 01:58 WIB
Editor

Bogor, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui, keadaan sosial dan keamanan Indonesia selama 2012 tidak menggembirakan. Masyarakat banyak menyoroti dan tidak puas dengan penanganan masalah hukum dan keamanan.

Menurut Yudhoyono, penanganan masalah hukum tidak hanya berhubungan dengan pemerintah, tetapi juga pihak di luar pemerintah, antara lain Komisi Pemberantasan Korupsi dan pengadilan. Adapun penanganan masalah keamanan sepenuhnya di tangan pemerintah.

Demikian dikatakan Yudhoyono, Senin (7/1), di Istana Bogor, Jawa Barat, saat membuka rapat terbatas kabinet. Rapat bidang politik, hukum, dan keamanan ini diikuti Wakil Presiden Boediono serta sejumlah menteri.

Yudhoyono menuturkan, selama 2012, di daerah-daerah banyak terjadi gangguan keamanan, seperti aksi kekerasan, konflik komunal, dan benturan horizontal. Akibatnya, ada kesan negara melakukan pembiaran. ”Ada penilaian dari masyarakat luas, ada keterlambatan dan ketidaktuntasan dalam menyelesaikan permasalahan gangguan keamanan,” katanya.

Ia pun menginginkan agar pada 2013, jajaran pemerintah bekerja jauh lebih efektif sehingga kondisi sosial, hukum, dan keamanan dalam negeri lebih baik. Untuk itu, pada 28 Januari, Yudhoyono bakal mengeluarkan instruksi presiden (inpres) yang berkaitan dengan penanganan keamanan. Instruksi ini harus dijalankan sepanjang tahun 2013 di seluruh Indonesia.

”Akan kita tetapkan sasaran, akan kita tetapkan ukuran keberhasilan. Siapa bertanggung jawab tentang apa, siapa bertugas apa,” ujarnya.

Terkait terorisme, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai secara terpisah mengatakan, kelompok teror di Poso, Sulawesi Tengah; Makassar, Sulawesi Selatan; dan Bima, Nusa Tenggara Barat; diduga merupakan jaringan kelompok teror yang saling berhubungan. Jaringan tersebut merupakan jaringan Mujahidin Indonesia Timur, yang diduga melakukan aksi-aksi teror di Poso, termasuk penembakan aparat Brimob dan pelatihan aksi teror. Kelompok ini memiliki tempat pelatihan aksi teror di Poso, perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, serta Bima.

”Lima orang yang ditembak di Bima masih terkait dengan jaringan Santoso,” kata Ansyaad.(ato/FER)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.