Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/09/2012, 13:33 WIB
EditorJodhi Yudono

KOMPAS.com — Gerakan Pemuda Ansor dan Yayasan Bani Abdurrahman Wahid menggelar wayang kulit bertema "Gugurnya Kumbakarno" oleh dalang Ki Enthus Susmono dalam rangka Haul 1.000 hari wafatnya Gus Dur.

 

Acara tersebut berlangsung di kediaman mantan presiden keempat itu di Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu malam.

Acara wayangan ini dihadiri istri almarhum Gus Dur, Ny Sinta Nuria Wahid; Pemimpin Yayasan Bani Abdirrahman Wahid, Dohir Fahrezi; dan kerabat dekat Presiden ke-4 RI itu.

Menurut Ketua umum GP Ansor Nusron Wahid, pertunjukan wayang masih sangat relevan di era sekarang ini. Apalagi wayang merupakan salah satu kebudayaan Jawa dan Nusantara yang mempunyai nilai filosofi tinggi.

Selain itu, Nusron menambahkan, pihaknya juga ingin mentransformasikan nilai-nilai dakwah kultural berbasis kebangsaan sebagaimana yang dulu dilakukan Gus Dur. "Wayang adalah bagian dari nilai dakwah kultural dalam menyemaikan nilai-nilai kebangsaan yang makin luntur di kalangan anak muda," kata Nusron yang juga angota Komisi XI DPR ini.

Politisi Partai Golkar ini mengatakan, dalam rangka memperingati 1.000 hari wafatnya Gus Dur ini, pada Kamis (27/9/2012)  juga akan digelar tausyiah, solawat bersama Habib Syech Abdul Qadir Assegaf dari Solo. Pada acara ini sejumlah tokoh akan hadir dan bersama mengikuti tausyiah dan solawat.

Sementara itu putri bungsu Gus Dur, Alissa Wahid, mengatakan, peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur akan menjadi momentum untuk mengingat, mengimajinasikan dan meneladani nilai luhur, pemikiran serta laku perjuangan Gus Dur.

"Sudah sering kita dengar komentar ’andaikan Gus Dur masih ada..’ atau ’sekarang baru paham mengapa Gus Dur dulu berkata....’ Setiap kekonyolan politik, setiap insiden kekerasan atas nama agama dan penindasan kepada kelompok minoritas, setiap insiden rakyat kecil yang terdesak oleh kepentingan kekuasaan, nama Gus Dur kembali disebut," paparnya.

Menurut Alissa, melalui rangkaian acara Haul Gus Dur, diharapkan dapat menggali serta memutakhirkan keteladanan sesuai kondisi kekinian, sekaligus meneguhkan semangat Indonesia berlandaskan kearifan lokal yang telah dimiliki bangsa ini.

Acara haul 1.000 hari wafatnya Gus Dur dengan menggelar acara wayangan itu tampak meriah. Banyak masyarakat setempat juga para nahdliyin yang hadir menyaksikan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan GP Ansor.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.