"Polo Shirt" Rasa Batik Solo - Kompas.com

"Polo Shirt" Rasa Batik Solo

Kompas.com - 03/09/2012, 11:26 WIB

KOMPAS.com - Polo shirt rasa batik marak di Solo. Salah satunya diproduksi oleh Kaose, milik Yayuk Sukaryani (56). Dia bahu-membahu dengan anaknya melanjutkan usaha yang dirintis mendiang suami.

Polo shirt atau kemeja kaus berkerah, berlengan pendek, itu mendapat sentuhan batik. Polo dari Solo itu memang bukan batik. Dalam arti, pembuatan tidak menggunakan malam atau lilin yang lazim digunakan dalam proses membatik.

”Kami menyebutnya sebagai kaus etnik,” kata Matheus Kurniawan Susanto (25), pendesain yang bersama sang ibu, Yayuk Sukaryani, mendirikan perusahaan bernama Kaose Ethnicholic, atau biasa disebut Kaose saja.

Sentuhan batik terasa pada motif-motif yang digali dari ranah batik, seperti motif parang barong, parang rusak, parang merak, atau juga motif kawung. Motif batik klasik itu dimodifikasi agar memberi kesan tidak terlalu klasik. Motif kawung, misalnya, diberi isen-isen atau isian hingga terkesan meriah, ngepop. Model itu dimaksud agar bisa menarik minat kaum muda.

Motif batik tersebut tidak menyelimuti seluruh bagian kaus, tetapi hanya pada sebagian kecil bidang kaus. Bidang warna polos atau warna dasar masih dominan. Motif batik dilekatkan pada bagian sekitar dada, ada juga di bagian bawah kaus, atau kombinasi di antara kedua bagian tersebut. Ada pula yang sedikit menempel pada bagian sisi kanan atau kiri kaus dari lengan hingga bidang bawah. Dengan demikian, karakter sebagai polo shirt masih kuat, tetapi masih ada kesan ”berbatik” meski bukan batik.

”Kalau separuh jadinya lebih aneh, unik,” kata Yayuk di sanggar kerjanya di Demakan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 4 kilometer di timur kota Solo.

Sopan, muda
Mengapa polo shirt? ”Saya menggagas bagaimana membuat kaus yang bisa dipakai resmi, tetapi nyaman,” kata Yayuk.

Kaus oblong atau t-shirt, menurut Yayuk, kurang sesuai dikenakan pada kesempatan resmi. Selain itu, dari aspek pasar, oblong bermotif batik juga sudah banyak dijual. Dengan model polo shirt, Yayuk bisa bermain di pasar yang lebih lebar. Polo shirt rasa batik itu dijual dengan harga sekitar Rp 75.000 per buah. Selain dijual untuk umum, ia juga bisa melayani pesanan, misalnya untuk kostum kelompok paduan suara. Polo shirt itu tampak sopan, berwibawa, dan ada nuansa etnik.

Yayuk juga melayani pemesanan untuk keperluan aktivitas luar ruang (outbound) dari sebuah perusahaan minyak. Kaose juga menembus kedutaan besar RI di Singapura yang ingin tampil dengan rasa keindonesiaan lewat sentuhan etnik, batik.

Kaose juga menyasar konsumen muda. Untuk itu, mereka juga merancang warna-warna yang disukai kalangan muda, seperti merah, biru, fanta alias jingga. ”Anak muda sekarang kalau pakai warna-warna sogan tidak mau. Mereka suka warna dan motif ngejreng supaya bisa dipadu dengan celana jins,” kata Yayuk.

Yayuk bicara berdasar pengalaman karena sejak 1992 ia membuat t-shirt bermotif batik. Ia memilih polo shirt karena melihat peluang pasar.

Perjuangan ibu-anak
Kaose merupakan bagian dari usaha Yayuk dan keluarga dalam memutar usaha pakaian jadi. Ia bersama sang suami, Susanto (almarhum), memulai usaha sebagai pembuat sabun batik, cairan pencuci batik dari bahan alami lerak, sejak 1981. Pada 1992, mereka membuat kaus colet atau oblong dengan polesan motif yang dilukis. Yayuk memasok kaus colet ke perusahaan batik besar di Solo. Tidak mudah menembus label besar karena dalam 100 potong pasokan, sebanyak 70 persen bisa ditolak karena dianggap tidak memenuhi standar.

”Namun, dari pengalaman ditolak itu, kami belajar tentang standar dan kualitas produksi,” kata Matheus.

Ketika suami Yayuk meninggal pada 2001, Yayuk melanjutkan usaha sendirian. Anaknya, Matheus Kurniawan Susanto, saat itu baru berumur 14 tahun dan Stephanus baru berumur 9 tahun. Ia harus mencari pasar yang selama ini ditangani sang suami.

”Kami dulu hanya melayani pesanan dari buyers besar. Jadi, kami tidak mempunyai jaringan pemasaran. Kami juga tidak mengetahui selera kelas menengah atas itu seperti apa,” kata Matheus yang kini 25 tahun, dan terlibat langsung dalam industri keluarga itu.

Produksi kaus oblong terus berjalan dengan berganti ke sistem cetak manual atau printing. Bisa dibilang usaha itu mulai berhasil. Nyatanya, Yayuk pada 2006 bisa membuka gerai khusus oblong ”batik” bernama Oblong Center di Pusat Grosir Solo, Gladak, di sebelah utara Alun-alun Surakarta.

Belakangan Matheus dilibatkan dalam produksi. Matheus yang sebelumnya adalah atlet bulu tangkis dari Klub Djarum, Jakarta, keluar dari klub dan belajar desain di Akademi Seni dan Desain, Solo. Ia menjadi ”penerjemah” visual bagi gagasan sang ibu. ”Saya hanya bilang begini, begini, nanti anak saya yang jago gambar yang merancang desainnya,” kata Yayuk.

Kini, Yayuk menyiapkan putranya yang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta itu untuk nantinya membantu juga dalam industri keluarga itu. Kekompakan ibu dan anak ini menghasilkan desain polo shirt berasa batik itu pada 2007. Sejak dua tahun lalu, Yayuk mulai berani menggunakan label Kaose. Huruf E ditulis berbalik arah, yaitu dengan menghadap ke kiri. ”Kalau masih pakai nama Oblong Center kok rasanya kurang catchy (menarik),” kata Matheus.

Meski menggunakan merek Kaose, Yayuk juga memproduksi kemeja, blus, celana, dan rok yang semuanya bersentuhan motif batik. Mereka menggunakan bahan katun dan lurik. Sejak sekitar dua tahun lalu, ia membuka gerai di Jalan Imam Bonjol, tak jauh dari Kampung Batik Kauman.

Yayuk benar-benar mengawali usaha dari nol. Terlebih, usaha itu dijalankan tanpa pinjaman dari bank. ”Saya tidak punya barang yang bisa dijaminkan. Saya cuma mengandalkan keyakinan,” kata Yayuk.

(Frans Sartono)


EditorDini

Close Ads X