Berenang ke Pantai hingga Samarkan Wajah buat Pulang

Kompas.com - 14/06/2012, 04:00 WIB
Editor

Keinginan Neneng Sri Wahyuni untuk pulang ke Indonesia begitu besar. Neneng tak tahan hidup sebagai pelarian di negeri orang. Meski tinggal di apartemen di kawasan mewah Kuala Lumpur, Malaysia, bersama tiga anaknya, Neneng tak tenang.

Namun, menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menetapkannya sebagai buronan sejak jadi tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, bukan pilihan. Dengan uang yang dimilikinya, Neneng ingin tetap hidup bebas tanpa kekangan penjara.

Lalu, diputuskanlah, Selasa (12/6) pagi menjadi waktu yang tepat untuknya pulang. Karena telah dinyatakan buron sejak Agustus 2011 dan tak tertangkap, Neneng menyangka KPK menyerah. Dia tak sadar, ada petugas KPK berbulan-bulan mengintainya di Kuala Lumpur.

Rencana pulang ke Indonesia disiapkan. Dua orang Malaysia, Mohamad Hasan bin Khusi dan R Azmi bin Muhamad Yusof, dibayar Neneng untuk membantunya agar tak terdeteksi KPK. Salah satu warga negara Malay- sia ini diduga Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto penasihat Kerajaan Malaysia.

Dari dua warga Malaysia inilah, Neneng mendapat kapal ke Batam. Berangkat dari Malaysia pada Selasa pagi, Neneng sampai di perairan Batam Selasa sore. Saat mendekati perairan Batam, Neneng melakukan aksi yang tergolong nekat.

Informasi yang diperoleh Kompas dari KPK menyebutkan, untuk menghindari petugas imigrasi di Batam, dari kapal yang ditumpanginya, Neneng meloncat ke laut. Dia berenang mendekati pantai. Usahanya berhasil. Neneng tak ketahuan aparat imigrasi dan lolos sampai ke pusat kota Batam.

Di Batam, Neneng menginap di hotel di kawasan Nagoya. Untuk menyamarkan identitasnya, Neneng memakai krim masker di wajah. Penyamaran yang dilakukan Neneng rupanya berjalan mulus. Tak ada yang sadar akan wajah salah satu buronan yang paling dicari KPK ini.

Dari Malaysia, KPK rupanya telah mengendus kaburnya Neneng hingga ke Batam. KPK mendapatkan informasi dari Batam, Neneng hendak ke Jakarta Rabu pagi menggunakan pesawat Garuda. Info sedikit meleset karena Neneng menggunakan Citilink. KPK sempat kesulitan karena Neneng tak memakai nama sebenarnya di manifest pesawat. Ini berkat dua warga Malaysia yang telah membantunya sejak merencanakan kepulangannya ke Indonesia dari Malaysia. ”Butuh uang seharga sebuah rumah untuk membayar dua warga Malaysia ini,” kata salah seorang pejabat di KPK.

Karena info keliru soal pesawat yang ditumpangi Neneng, KPK tak bisa menangkapnya di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi, begitu keberadaannya di Jakarta dipastikan, petugas KPK yang memburu Neneng telah disiapkan di semua titik yang mungkin didatangi. Termasuk di rumahnya, Jalan Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Di rumahnya, pelarian Neneng berakhir.

Neneng mempersiapkan semua kepulangannya ke Indonesia dengan mengelabui KPK. Koper dan semua perlengkapannya disiapkan di mobil yang lain saat dirinya hendak menuju rumah.

Jakarta hanya tujuan antara. Tujuan akhir Neneng Pekanbaru, Riau, tempat dia bersama suaminya, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, membuka PT Anugrah Nusantara tahun 1999.

Neneng pulang duluan. Baru setelah merasa aman di Indonesia, dia merencanakan kepulangan anak-anaknya yang masih ditinggal di Malaysia.

(KHAERUDIN)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

CLS UGM: Diskusi soal Pemberhentian Presiden Bersifat Akademis, Tak Terkait Politik

CLS UGM: Diskusi soal Pemberhentian Presiden Bersifat Akademis, Tak Terkait Politik

Nasional
Terkait Pelantikan Iman Brotoseno, Komisi I Sebut Dewas TVRI Langgar UU MD3

Terkait Pelantikan Iman Brotoseno, Komisi I Sebut Dewas TVRI Langgar UU MD3

Nasional
Koalisi Masyarakat Sipil Penolak UU Minerba Gelar Sidang Rakyat

Koalisi Masyarakat Sipil Penolak UU Minerba Gelar Sidang Rakyat

Nasional
KPK Minta ICW Hormati Putusan Hakim Terkait Kader PDI-P Saeful Bahri

KPK Minta ICW Hormati Putusan Hakim Terkait Kader PDI-P Saeful Bahri

Nasional
Muhaimin Iskandar Minta Pelaksanaan 'New Normal' Diawasi Ketat

Muhaimin Iskandar Minta Pelaksanaan "New Normal" Diawasi Ketat

Nasional
Kuasa Hukum: Pernyataan Farid Gaban Merupakan Kritik, Tak Dilandasi Niat Jahat

Kuasa Hukum: Pernyataan Farid Gaban Merupakan Kritik, Tak Dilandasi Niat Jahat

Nasional
Komite Penyelamat TVRI Kecam Pelantikan Iman Brotoseno sebagai Dirut

Komite Penyelamat TVRI Kecam Pelantikan Iman Brotoseno sebagai Dirut

Nasional
Mendagri Terbitkan Pedoman 'New Normal', Atur Protokol di Mal hingga Salon

Mendagri Terbitkan Pedoman "New Normal", Atur Protokol di Mal hingga Salon

Nasional
Pemerintah Diminta Susun Panduan 'New Normal' Bersama Pemda

Pemerintah Diminta Susun Panduan "New Normal" Bersama Pemda

Nasional
Pemerintah Targetkan 4 Juta Tenaga Kerja lewat Proyek Strategis Nasional

Pemerintah Targetkan 4 Juta Tenaga Kerja lewat Proyek Strategis Nasional

Nasional
Jubir Pemerintah: Perasaan Gembira Kunci Imunitas Tubuh dari Covid-19

Jubir Pemerintah: Perasaan Gembira Kunci Imunitas Tubuh dari Covid-19

Nasional
KPK Setor Rp 1,1 Miliar ke Kas Negara

KPK Setor Rp 1,1 Miliar ke Kas Negara

Nasional
Lima Provinsi dengan Kenaikan Kasus Positif Covid-19 Tertinggi pada 29 Mei

Lima Provinsi dengan Kenaikan Kasus Positif Covid-19 Tertinggi pada 29 Mei

Nasional
Masa Pemberian Bansos Diperpanjang hingga Desember, namun Nilainya Berkurang

Masa Pemberian Bansos Diperpanjang hingga Desember, namun Nilainya Berkurang

Nasional
Wapres Ma'ruf Akui Banyak Hal yang Harus Diperbaiki dalam Penanganan Covid-19

Wapres Ma'ruf Akui Banyak Hal yang Harus Diperbaiki dalam Penanganan Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X