Rp 405,1 Miliar untuk Hakim

Kompas.com - 07/04/2012, 04:59 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Juru Bicara Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar meminta Mahkamah Agung agar mengalokasikan anggaran tambahan yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat, senilai Rp 405,1 miliar, untuk peningkatan kesejahteraan hakim dan pegawai negeri sipil peradilan, seperti disetujui oleh wakil rakyat.

MA bisa memberikannya dalam bentuk penambahan tunjangan hakim dengan memasukkan tunjangan transportasi, akomodasi, atau lauk-pauk, dan sebagainya, seperti diatur dalam undang-undang.

Menurut Asep, Jumat (6/4), di Jakarta, kondisi itu bisa dilakukan karena Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman secara jelas mengatur, hakim adalah pejabat negara. Sebagai pejabat negara, hakim berhak memperoleh tunjangan itu sehingga MA sebenarnya tinggal menghitung nominal yang akan diberikan.

”UU itu sudah ada. Anggaran pun sudah tersedia. Sekarang sebenarnya tinggal dibuat aturan pelaksanaannya. Itu bisa dilakukan dengan cepat, misalnya dengan peraturan presiden, dan tak perlu menunggu waktu lama,” ungkap Asep saat ditanya dasar hukum pemberian tunjangan itu kepada hakim.

Komisi III DPR (bidang hukum) menyetujui menambah dana untuk MA, sesuai APBN Perubahan Tahun 2012, sebesar Rp 405,1 miliar. Tambahan dana itu adalah untuk kesejahteraan pegawai negeri sipil peradilan dan hakim. MA sebenarnya mengajukan tambahan anggaran Rp 500 miliar.

Sesuai dengan usulan MA, yang ditandatangani Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi MA Bahrin Lubis, permintaan tambahan dana itu adalah untuk tambahan belanja tunjangan struktural dan fungsional, tambahan belanja uang makan PKN, dan tunjangan khusus. Usulan itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR pada 28 Maret.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Ahmad Yani, mengatakan, Komisi III mendengar keluhan hakim di daerah yang hendak melakukan mogok sidang karena tunjangan, fasilitas, dan gaji mereka yang kurang. Komisi III berupaya memenuhi keinginan hakim di daerah itu sesuai dengan permintaan MA.

”Alokasi Rp 405 miliar itu untuk menunjang operasional hakim di daerah dan kesejahteraan mereka. Kita berharap betul remunerasi dipenuhkan menjadi 100 persen. Saya lebih menghargai hakim yang mau berdemo atau mogok sidang daripada mereka memainkan putusan dengan diam-diam. Jual beli putusan ini lebih berbahaya,” ungkap Ahmad Yani.

Karena itu, ia meminta dana yang ditambahkan dalam anggaran MA tak dipakai untuk yang lain selain menyejahterakan hakim dan PNS peradilan.

Selain soal tunjangan, fasilitas dan gaji hakim yang masih dirasa kurang, ujar Ahmad Yani, MA juga ingin membangun gedung untuk ruangan hakim yang tidak memadai lagi. Sekretaris Jenderal MA bisa mengajukan tambahan anggaran lagi ke DPR.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.