Hakim Tolak Eksepsi Gayus

Kompas.com - 08/08/2011, 13:57 WIB
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com - Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta yang diketuai Suhartoyo menolak eksepsi atau nota keberatan pihak Gayus H Tambunan, tersangka kasus korupsi dan pencucian uang.

Majelis hakim menilai, eksepsi yang diajukan Gayus dan tim kuasa hukumnya tidak beralasan secara hukum. Hal itu disampaikan Suhartoyo dalam pembacaan putusan sela di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (8/8/2011). "Menyatakan keberatan kuasa hukum terdakwa dan terdakwa Gayus tidak dapat diterima seluruhnya," katanya.

Dengan demikian, persidangan terhadap Gayus dapat dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi yang dijadwalkan pada Senin (15/8/2011) pekan depan.

Sebelumnya tim jaksa penuntut umum meminta majelis hakim untuk menolak eksepsi Gayus. Menurut jaksa, surat dakwaan telah disusun secara cermat, jelas, dan tidak kabur sehingga dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan persidangan.

Tim jaksa penuntut umum mendakwa Gayus telah melakukan empat tindak pidana. Pertama, menerima suap dari Roberto Santonius, konsultan sewaan PT Metropolitan Retailmart sebesar Rp 925 juta terkait kepengurusan keberatan pajak perusahaan tersebut.

Gayus juga diduga menerima suap dari Alif Kuncoro, perantara penerima order dari tiga perusahaan Grup Bakrie, yakni PT Kaltim Prima Coal, PT Bumi Resource, dan PT Arutmin senilai Rp 3,5 miliar terkait kepengurusan sunset policy terhadap pajak PT Arutmin dan KPC.

Kedua, Gayus didakwa menerima gratifikasi berupa uang 659.800 dollar Amerika dan 9,6 juta dollar Singapura selama bertugas sebagai penelaah keberatan pajak.

Ketiga, Gayus didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menyimpan uang dan emas yang diterimanya dalam safe deposit box. Keempat, Gayus diduga menyuap petugas rumah tahanan brimob, Kelapa Dua, Depok.

Dalam eksepsinya, Gayus melalui kuasa hukumnya Hotma Sitompul mengemukakan, surat dakwaan yang disusun jaksa tidak jelas. Terkait perkara pertama, dakwaan jaksa, menurut Hotma, tidak merumuskan dengan jelas mengenai hubungan terdakwa (Gayus) selaku penelaah keberatan pajak dengan Roberto Santonius.

Bahkan menurut Hotma, perumusan surat dakwaan terkait pemberian uang dari Roberto itu tidak konsisten. Jaksa mengatakan bahwa uang Rp 925 juta dari Roberto itu diberikan agar Gayus membantu memenangkan banding PT Metropolitan Retailmart.

Namun, kata Hotma, dalam berita acara pemeriksaan, Gayus tidak mengatakan demikian. Dia menyebutkan bahwa uang itu merupakan pinjaman dari Roberto untuk membeli rumah.

"Surat dakwaan dibuat menyimpang dari fakta, maka dapat dikatakan surat dakwaan adalah palsu," ujar Hotma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

RSCM: Kasus Hepatitis Akut Ada yang Tak Miliki Riwayat Covid-19

RSCM: Kasus Hepatitis Akut Ada yang Tak Miliki Riwayat Covid-19

Nasional
Selain Singapura, UAS Pernah Ditolak Masuk Hong Kong, Timor Leste, hingga Eropa

Selain Singapura, UAS Pernah Ditolak Masuk Hong Kong, Timor Leste, hingga Eropa

Nasional
Epidemiolog Sayangkan Pelonggaran Penggunaan Masker: Kondisi Belum Benar-benar Aman

Epidemiolog Sayangkan Pelonggaran Penggunaan Masker: Kondisi Belum Benar-benar Aman

Nasional
Update 17 Mei: Positivity Rate PCR 1,63 Persen

Update 17 Mei: Positivity Rate PCR 1,63 Persen

Nasional
Alasan Pemerintah Bolehkan Lepas Masker di Area Terbuka Menurut Menkes

Alasan Pemerintah Bolehkan Lepas Masker di Area Terbuka Menurut Menkes

Nasional
Pengamat Sebut Koalisi Indonesia Bersatu Bisa Bikin Masyarakat Tak Pilih Kucing Dalam Karung

Pengamat Sebut Koalisi Indonesia Bersatu Bisa Bikin Masyarakat Tak Pilih Kucing Dalam Karung

Nasional
Mulai Besok, Pelaku Perjalanan dari Luar Maupun Dalam Negeri Tak Perlu Tes Covid-19

Mulai Besok, Pelaku Perjalanan dari Luar Maupun Dalam Negeri Tak Perlu Tes Covid-19

Nasional
Disebut Paling Tepat Gantikan Anies, Heru: Masih Banyak Kandidat Lebih Baik

Disebut Paling Tepat Gantikan Anies, Heru: Masih Banyak Kandidat Lebih Baik

Nasional
Update 17 Mei: Masih Ada 3.221 Orang Berstatus Suspek Covid-19

Update 17 Mei: Masih Ada 3.221 Orang Berstatus Suspek Covid-19

Nasional
UPDATE 17 Mei 2022: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Berkurang 799 Pasien

UPDATE 17 Mei 2022: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Berkurang 799 Pasien

Nasional
Kepada Jokowi, Pedagang: Minyak Goreng Murah Sekarang, tetapi Enggak Ada Pembeli

Kepada Jokowi, Pedagang: Minyak Goreng Murah Sekarang, tetapi Enggak Ada Pembeli

Nasional
UPDATE 17 Mei: Tambah 1.029, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 5.890.826

UPDATE 17 Mei: Tambah 1.029, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 5.890.826

Nasional
Update 17 Mei: Bertambah 17, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Jadi 156.481

Update 17 Mei: Bertambah 17, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Jadi 156.481

Nasional
Ridwan Kamil Temui Koalisi Indonesia Bersatu, Golkar Sebut Silaturahmi Lebaran

Ridwan Kamil Temui Koalisi Indonesia Bersatu, Golkar Sebut Silaturahmi Lebaran

Nasional
Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Ekspor CPO Minyak Goreng

Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Ekspor CPO Minyak Goreng

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.