Membedah Kasus WikiLeaks

Kompas.com - 14/12/2010, 03:33 WIB
Editor

OLEH KIKI SYAHNAKRI

Terkuaknya ribuan dokumen rahasia negara-negara di dunia, terutama Amerika Serikat, oleh situs nirprofit independen WikiLeaks menimbulkan kontroversi luar biasa. Banyak pihak khawatir, kebocoran dan penyebaran kawat diplomatik yang memuat dokumen-dokumen sangat rahasia antarpejabat tingkat tinggi, termasuk para diplomat, kelak memicu kekacauan dan ”kesalahpahaman”, bahkan ketegangan politik, dalam interkoneksi diplomatik global.

Namun, perlu dipertanyakan, sungguhkah data atau dokumen yang diklaim ”sangat rahasia” itu memiliki otentisitas atau validitas? Ataukah, kasus WikiLeaks yang menyedot perhatian dunia hanyalah aksi kontroversial yang diembus oleh pihak atau negara tertentu untuk memainkan ”skenario tersembunyi”?

Sebaliknya, jika pelbagai materi kawat diplomatik yang dibocorkan itu valid, seberapa jauhkah ia berdampak serius bagi kepentingan nasional kita?

Senjata makan tuan

Diteropong dari sudut percaturan ideologi global, khususnya kiprah liberalisme yang diusung Amerika Serikat atau Barat dan kini bermetamorfosis menjadi neokolonialisme (istilah Bung Karno), tampaknya ideologi yang cukup lama menguasai dunia ini sedang mengalami deklinasi cukup tajam.

Kemerosotan tersebut justru diakibatkan kebebasan dan keterbukaan itu sendiri. Kasus WikiLeaks merupakan buah kebebasan dan keterbukaan di bidang informasi, sama halnya dengan kasus rontoknya perusahaan raksasa Amerika Serikat, Lehman Brothers, diakibatkan oleh mekanisme pasar bebas, kebebasan, dan keterbukaan di bidang ekonomi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari perspektif ideologi, kasus WikiLeaks merupakan senjata makan tuan karena justru Amerika Serikat atau Baratlah yang mempromosikan liberalisme serta demokrasi.

Kekuatan di belakang WikiLeaks?

Ditilik dengan kacamata politik atau intelijen, siapa gerangan di belakang Julian Assange dengan WikiLeaks-nya? Pria kelahiran Townsville-Queensland, Australia, berusia 39 tahun itu pernah belajar fisika dan matematika di Universitas Melbourne. Dia ahli komputer yang menekuni masalah security network, khususnya menyangkut pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar seantero dunia.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.