Dawam: Ini Karena Fatwa Provokatif

Kompas.com - 05/10/2010, 21:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Fatwa yang menyatakan Ahmadiyah adalah sesat merupakan salah satu penyebab mengapa hingga kini persoalan kebebasan beribadah di negeri ini tidak juga usai. Terlebih, pemerintah juga dianggap lamban dalam menyelesaikan konflik berbau SARA.

Demikian disampaikan cendekiawan muslim, Dawam Rahardjo, Selasa (5/10/2010), usai bedah buku "5 Penggerak Bangsa yang Terlupa: Nasionalisme Minoritas Kristen", di Gedung Djoeang 45, Jakarta.

"Kebebasan beribadah masyarakat itu karena ada fatwa MUI yang provokatif yang bilang Ahmadiyah sesat. Ini yang memprovokasi warga sehingga ada tindakan penyerangan pada warga Ahmadiyah," ujar Dawam kepada Kompas.com.

Ia pun tidak peduli jika dianggap dirinya sangat membela Ahmadiyah sampai mengharuskan ia keluar dari Muhammadiyah. "Terserah saja orang mau bilang apa. Saya tidak akan mau meninggalkan pendirian saya," ujarnya. Menurut Dawam, pemerintah juga memiliki andil dalam konflik SARA yang tidak kunjung usia.

"Pemerintah lamban. Mereka takut karena dengan tekanan kelompok masyarakat mayoritas yang ekstrem-ekstrem itu," ujarnya.

Untuk mengembalikan kebebasan beribadah bagi setiap umat di Indonesia, menurut Dawam, pemerintah harus segera mencabut SKB Menteri yang mengatur pendirian rumah ibadah. "Harusnya dicabut saja SKB, buktinya selalu menimbulkan masalah. Itu hasil kesepakatan zaman dulu, tidak relevan lagi sekarang," ungkapnya.  


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorR Adhi KSP

    Terkini Lainnya

    Peneliti Litbang Kompas: Hasil Survei Masih dalam Rentang 'Margin of Error' Lembaga Lain

    Peneliti Litbang Kompas: Hasil Survei Masih dalam Rentang "Margin of Error" Lembaga Lain

    Nasional
    Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Sejumlah Warga Sawah Besar

    Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Sejumlah Warga Sawah Besar

    Megapolitan
    Menkominfo: Sebagian Pegawai Desa Gunakan Internet untuk Main Game

    Menkominfo: Sebagian Pegawai Desa Gunakan Internet untuk Main Game

    Regional
    Bawaslu: Pemantau Asing Bukan Hal yang Luar Biasa

    Bawaslu: Pemantau Asing Bukan Hal yang Luar Biasa

    Nasional
    Ternyata, Ada Bungker yang Tembus ke Stasiun Tambun di Gedung Juang

    Ternyata, Ada Bungker yang Tembus ke Stasiun Tambun di Gedung Juang

    Megapolitan
    Dari Bintaro hingga Cinere, Ini Rute Transjakarta yang Terintegrasi Stasiun MRT

    Dari Bintaro hingga Cinere, Ini Rute Transjakarta yang Terintegrasi Stasiun MRT

    Megapolitan
    Biografi Tokoh Dunia: Mahmoud Abbas, Presiden Ke-2 Negara Palestina

    Biografi Tokoh Dunia: Mahmoud Abbas, Presiden Ke-2 Negara Palestina

    Internasional
    Wagub NTT: Kalau Mau lihat Komodo yang Asli, Bayarnya Harus Mahal

    Wagub NTT: Kalau Mau lihat Komodo yang Asli, Bayarnya Harus Mahal

    Regional
    Saat Jokowi Mendadak Beli Durian di Dumai

    Saat Jokowi Mendadak Beli Durian di Dumai

    Nasional
    Satu Murid Calon Pendeta Lolos dari Pembunuhan di OKI, Polisi Tunggu Kondisinya Stabil

    Satu Murid Calon Pendeta Lolos dari Pembunuhan di OKI, Polisi Tunggu Kondisinya Stabil

    Regional
    Pertama Kali, OPD dan Camat se-Surabaya Teken Pakta Integritas Secara Elektronik

    Pertama Kali, OPD dan Camat se-Surabaya Teken Pakta Integritas Secara Elektronik

    Regional
    Wagub Sulut Ingatkan Kembali 7 Prioritas Pembangunan Sulut

    Wagub Sulut Ingatkan Kembali 7 Prioritas Pembangunan Sulut

    Regional
    Wapres Jamin Pemerintahan Berjalan Normal meski Presiden Sibuk Kampanye

    Wapres Jamin Pemerintahan Berjalan Normal meski Presiden Sibuk Kampanye

    Nasional
    Dievakuasi, Harimau Sumatera yang Terjerat di Riau Dipikul dengan Tandu Sambil Diinfus

    Dievakuasi, Harimau Sumatera yang Terjerat di Riau Dipikul dengan Tandu Sambil Diinfus

    Regional
    Instagramable, Terowongan Jalan Kendal Dipenuhi Pejalan Kaki yang Berfoto

    Instagramable, Terowongan Jalan Kendal Dipenuhi Pejalan Kaki yang Berfoto

    Megapolitan

    Close Ads X