Ada Markus di Balik Putusan Pailit TPI?

Kompas.com - 17/11/2009, 22:27 WIB
EditorEdj

JAKARTA, KOMPAS.com — Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, pertengahan Oktober lalu. Putusan ini dinilai janggal oleh pihak TPI. Diduga ada makelar kasus atau markus yang bermain di balik putusan pailit TPI tersebut.

Direktur Utama TPI Sang Nyoman Suwisma terus terang mengaku merasakan kuatnya pengaruh markus dalam penyelesaian kasus ini. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatan pihak-pihak yang tidak terkait dengan perkara ini.

Nyoman Suwisma menyebut markus tersebut berinisial RB, pengusaha batu bara. "Orang ini pernah menghubungi saya untuk mengajak bertemu, tapi tidak jadi," ungkap Nyoman tanpa menyebut nama.

Inisial RB tersebut juga pernah terungkap ketika ada rapat pertemuan antara hakim pengawas, tim kurator, dan Direksi TPI di Jakarta Pusat, Rabu (4/11) lalu. "Sungguh aneh ada seseorang yang tidak memiliki hubungan dengan kasus ini secara langsung, tetapi sangat kuat terasa pengaruhnya," tambahnya.

Menurut Nyoman, kejanggalan lain yang mengindikasikan adanya markus di balik pailit TPI ini adalah saat proses pengadilan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sebagai contoh, Nyoman menunjuk pihak kreditor yang diajukan pengacara Crown  Capital Global Limited (CCGL), yakni Asian Venture Limited (AVL). Padahal, AVL jelas-jelas tidak lagi memiliki tagihan kepada TPI, tetapi diterima oleh majelis hakim sebagai salah satu kreditor.

Hal lain lagi yang dirasa aneh oleh Nyoman adalah terburu-burunya majelis hakim untuk memutuskan, di mana pihak pemailit memberikan data di akhir-akhir persidangan, sedangkan pihak TPI tidak diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan atas bukti baru yang diberikan kreditor.

"Dan lebih konyol lagi adalah bukti yang dipakai oleh majelis hakim yaitu laporan keuangan seakan-akan hakim tidak mengerti bahasa Inggris. Hal-hal inilah mengindikasikan adanya 'tangan- tangan' yang 'mengatur' dalam perkara ini," tuturnya.

Hal senada diungkapkan kuasa hukum TPI, Marx Adryan. Ia keberatan terhadap tim kurator yang dinilai tidak independensi. Sebab, salah satu anggota tim yang direkrut merupakan orang yang mempunyai konflik kepentingan atas perkara ini.

Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, 14 Oktober lalu, memutus pailit TPI atas permohonan pailit yang diajukan Crown Capital Global Limited. Menurut keterangan pihak TPI, putusan pailit yang kontroversi ini dimulai pada 1993, ditandatangani perjanjian utang piutang antara TPI dan Brunei Investment Agency (BIA) sebesar 50 juta dollar AS.

Atas instruksi pemilik lama (Siti Hardiyanti Rukmana), dana dari BIA itu tidak ditransfer ke rekening TPI, tetapi ke rekening pribadi pemilik Tutut.

Pada 1996, Presiden Direktur TPI Siti Hardiyanti Rukmana mengeluarkan surat utang subordinated bond (sub-bond) sebesar 53 juta dollar AS. Utang ini dibuat sebagai bentuk rekayasa untuk mengelabui publik atas adanya pinjaman dari BIA yang seolah-olah masuk untuk keperluan TPI.

"Namun, ternyata uang yang masuk dari Peregrine Fixed Income Ltd itu masuk ke rekening TPI pada 26 Desember 1996. Namun, selang sehari, yakni pada 27 Desember 1996, dengan jumlah yang sama ditransfer kembali ke rekening Peregrine Fixed Income Ltd, sehingga uang itu hanya mampir sehari di TPI," sebutnya.

Utang tersebut sudah dilunasi TPI, tetapi dokumen-dokumen surat utang asli  sub-bond tersebut disimpan oleh pemilik lama. Pada 2004 diketahui bahwa dokumen surat utang yang sudah dilunasi TPI itu ternyata diperjualbelikan dari Filago Ltd kepada Crown Capital Global Limite (CCGL) tertanggal 27 Desember 2004.

Dari hasil penelusuran TPI, ternyata Filago Ltd yang beralamat di Wijaya Graha Puri, Blok A No 3-4, Jalan Wijaya 2, Jakarta Selatan, ternyata masih berhubungan dengan pemilik lama TPI.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.