Kawasan Veteran dan Juanda di Abad 19

Kompas.com - 10/09/2009, 12:05 WIB

"KAMI berjalan pulang lewat Tanah Abang dan Rijswijkstraat lalu ke Harmonie. Kami ingin melihat dari dekat apa yang dilakukan orang kaya Batavia...Di Rijswijk, di sepanjang trotoar di tepi sungai, kami melihat antrian panjang kereta pribadi dan beberapa mobil..."

Demikian seorang serdadu Belanda yang tiba di Batavia pada awal abad 20 membuat catatan harian tentang petualangannya di Batavia. Salah satu kawasan yang ia sambangi adalah Rijswijk tadi. Catatan harian sang serdadu berusia 18 tahun asal Amsterdam itu dikumpulkan dan ditulis ulang oleh HCC Clockener Brousson.

Di sekitar abad 19 lingkungan kota lama Batavia makin tak sehat dan jadi biang penyakit dan ditinggalkan penduduknya. Warga Belanda pindah ke kawasan yang lebih ke selatan dan lebih sehat yaitu ke kawasan dekat Molenvliet (Jalan Gajah Mada) yaitu Rijswijkstraat (Jalan Majapahit), Rijswijk (Jalan Veteran), Noordwijk (Jalan Juanda). Maka di abad 19 itu, kawasan tersebut tumbuh menjadi kawasan elit Batavia dengan kompleks pertokoan elit serta deretan rumah-rumah mewah bergaya Eropa. Seperti Molenvliet, kawasan Rijswijk dan Noordwijk di pisahkan kanal yang merupakan sodetan Kali Ciliwung. Sampan hilir mudik di kanal tersebut.   

Frans Buurt (lingkungan Perancis), demikian julukan bagi Rijswijkstraat  yang di paruh kedua abad 19 dipenuhi pedagang Perancis. Orang Perancis rupanya ciamik sebagai pebisnis di berbagai bidang seperti hotel, toko roti,  usaha studio foto, dan menjahit. Usahanya tersebar tak hanya di Rijswijkstraat tapi juga di Rijswijk dan Noordwijk. Buku Batavia in Nineteenth Century mencatat, iklan di surat kabar kala itu dipenuhi pebisnis Perancis seperti Leroux, Pascal, Seuffert, Cressonnier, dan Bastiere.


Sejalan dengan berkembangnya kawasan, maka tumbuh pula tempat hiburan di kawasan tersebut. Gedung paling mentereng tempat di mana orang Eropa berpesta tak lain adalah Societeit Harmonie di pojokan Rijswijkstraat. Di masa Inggris berkuasa di Batavia (1811-1816), Rijswijkstraat menjadi kawasan militer lengkap dengan bangunan kantor dan barak sampai kemudian Inggris menjual  gedung-gedung itu hingga lambat laun kawasan itu berubah menjadi kompleks pertokoan.

Kawasan Rijswijk mulai berkembang jadi kawasan elit saat Thomas Stamford Raffles tinggal di sana, yaitu di rumah yang kemudian menjadi Hotel der Nederlanden pada 1840. Hotel utama lain yang sudah lebih dulu dibangun di Rijswijk adalah Grand Hotel Java (1834). Pada 1812 Raffles menghancurkan seluruh rumah asli orang Tionghoa serta toko-toko mereka dan membuat kawasan itu berkarakter sangat Eropa.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Editor
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X