Sebelum Melangkah ke Perkawinan Kedua

Kompas.com - 12/08/2009, 11:46 WIB
Editor

KOMPAS.com — Berjodoh, bercerai, kemudian berjodoh lagi sering kali sukar ditebak. Manakala seseorang memutuskan menikah lagi, setelah sempat sendiri, maka ada banyak pertimbangan yang mengiringinya. Malah konon kabarnya, pertimbangan yang diambil jauh lebih banyak daripada ketika menjalani pernikahan pertama.

"Banyak pertimbangan yang diambil, wajar saja. Bahkan, merupakan anugerah karena tandanya, orang itu mau berpikir. Kan dia sudah pernah merasakan gagal dalam membina rumah tangga. Manusia yang bijak dan berpikir pasti tidak mau lagi jatuh ke dalam lubang yang sama," kata Dra Ratih Andjayani Ibrahim, MM, Psi, dari Personal Growth.

Berbagai pertimbangan boleh saja dipikirkan. Namun, agar tak ribet dan malah menyurutkan niat menikah kembali, ada kiat yang lebih ringan.

Menurut Ratih, sebelum menuju meja penghulu, sebaiknya lakukan beberapa tahap untuk diri sendiri dan calon pasangan.


1. Yakin sudah cocok, cinta, dan mengenal pasangan.
Ini syarat pertama dan terpenting karena, jika tidak disadari hal ini, maka perceraian bisa terjadi lagi. Kita mungkin bertanya, mengapa bukan anak-anak yang menjadi pertimbangan pertama.

Menurut Ratih, jika relasi kita dan pasangan mulus, hubungan ajeg, motivasi menikah benar, dasar pemikiran dan persepsi sudah klop, maka hubungan dengan anak akan terbawa baik.

Pada akhirnya, jika hal-hal dia tas sudah terpenuhi, ada hal-hal yang terjadi dan yang dihadapi akan dilihat dengan kacamata positif. "Ada satu kejadian nyata, seseorang mempersilakan mantan pasangan dan pasangan barunya menempati rumahnya yang tidak dia tempati. Supaya tidak ada beban, rumah yang ditempatinya dibayar alias disewa," papar Ratih.

2. Cocok dengan anak yang dibawa pasangan
Cocok di sini bukan berarti si anak menerima ayah/ibu barunya. Untuk sementara, cukup dalam cakupan ia menyetujui ayah/ibunya menikah dengan kita, ia bisa diajak berkomunikasi dan mau diajak tinggal bersama.

Sebagian anak sulit menerima kehadiran ayah/ibu baru atau paling tidak butuh waktu yang sangat lama hingga bertahun-tahun. Lebih baik tempatkan diri sebagai sahabat, bukan sebagai pengganti ayah/ibu kandungnya.

3. Cocok dengan keluarga besar masing-masing
Keluarga besar memiliki pengaruh yang kuat pada keluarga yang akan dibina. Yang dimaksud kecocokan meliputi kebiasaan, pola asuh, dan cara pandang yang hampir sama.

4. Seberapa jauh pihak mantan masih melakukan intervensi
Kalau intervensinya positif, masih ikut mengawasi/bertanggung jawab pada anaknya yang tinggal bersama kita, ini tentu saja patut disyukuri.

Namun, kalau sudah ikut mengatur atau memanas-manasi rumah tangga kita yang baru, tentu saja intervensinya harus diwaspadai. Namun sekali lagi, yang penting adalah komitmen bersama pasangan kita sehingga gangguan darinya dapat dihadapi.

(Nakita/Gazali Solahuddin)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X