Maling Jembatan Suramadu Ternyata Bawa 3 Ton Besi

Kompas.com - 16/07/2009, 09:47 WIB
Editor

SURABAYA , KOMPAS.com — Jajaran Polresta Surabaya Timur berhasil membekuk tersangka pencuri besi Jembatan Suramadu. Tersangka adalah Agus Salim (47), warga Desa Lebang, Kecamatan Sukolilo, Bangkalan. Agus Salim diketahui sebagai pemilik sekitar tiga ton lonjoran besi stainless, yang diangkut truk L 7068 V, disopiri Tohari (40), warga Mojosari, Mojokerto.

Terkuaknya kasus ini berawal saat polisi menerima informasi tentang adanya truk yang mengangkut besi dari arah kaki jembatan Suramadu sisi Madura, Selasa (14/7). Polresta Surabaya Timur segera minta jajarannya mengadang.

Tepat saat truk melintas di wilayah Polsekta Simokerto, polisi yang berpatroli segera menghentikan truk tersebut pada Selasa siang. Sopir truk, Tohari, kemudian diperiksa dan mengatakan hanya disuruh seseorang yang tak dikenalnya di kaki Jembatan Suramadu sisi Bangkalan untuk membawa muatan itu ke pasar loak Gembong, Surabaya. Tohari mengaku mendapatkan ongkos Rp 400.000.

”Saat ditanya barang itu dari mana, sopir mengaku tidak tahu dan dia hanya memberikan surat jalan yang dikeluarkan CV Putra Jaya sebagai pemilik barang. Akhirnya dia kami amankan dan kami jadikan saksi,” ujar AKBP Samudi, Kapolresta Surabaya Timur, didampingi Kapolsek Simokerto AKP Damar Bastiar, Rabu (15/7).

Selasa malam, anggota Polsek Simokerto mencari pemilik sekaligus yang menyuruh Tohari membawa puluhan lonjor besi berbagai ukuran tersebut. Polisi kemudian mengamankan Agus Salim. Setelah menjalani pemeriksaan, polisi menetapkan Agus Salim sebagai tersangka pencurian.

Barang bukti yang diamankan meliputi pipa kotak ukuran 8 × 8 cm panjang 2,5 meter sebanyak 30 batang, pipa kotak ukuran 8 × 4 cm panjang 2,5 meter sebanyak 10 lonjor, pipa bulat ukuran 1 dim panjang 6 meter sebanyak 42 lonjor; pipa bulat ukuran 2 dim panjang 6 meter sebanyak 12 lonjor; pipa bulat ukuran 4 dim panjang 6 meter sebanyak 12 lonjor; dan pipa bulat ukuran 4 dim panjang 2,5 meter sebanyak 9 lonjor.

Namun, Agus Salim membantah telah mencuri besi proyek Jembatan Suramadu. Ia mengaku hanya membeli dari nelayan untuk dijual lagi. “Saya beli dari nelayan karena saya pikir besi itu limbah proyek,” ujar pria yang mengaku sebagai Ketua Paguyuban Warga Nelayan Desa Sukolilo Barat, Labang, Bangkalan, itu.

Agus Salim mengaku membelinya dengan cara ditimbang seharga Rp 2.800-Rp 3.000/kg. Rencananya, besi itu dijual kepada AP, warga Surabaya, seharga Rp 4.000/kg. Lantas, dari mana ia mendapat surat jalan atas nama CV Putra Jaya? Agus mengaku surat itu hanya untuk mengelabui jika dalam perjalanan diperiksa polisi. Surat jalan itu atas nama CV Putra Jaya untuk Hanil Steel - Agus Salim, Sukolilo, Nopol L 7068 V.

Pernyataan Agus, yang menyebutkan besi itu sudah tak terpakai, diragukan oleh polisi. Menurut AKBP Samudi, dari barang bukti lonjoran besi tersebut masih terlihat belum terpakai. Bahkan di antaranya masih bersegel. Dalam kasus ini, tersangka dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan jo Pasal 480 KUHP tentang penadahan. Ancaman hukumannya lima tahun. Ada pula dugaan bila besi-besi itu keluar dari gudang penyimpanan milik kontraktor. Namun, AKBP Samudi mengatakan masih akan menyelidiki.

Milik kontraktor China

Kepala Satuan Kerja Jembatan Suramadu sisi Surabaya Dwi Purtono membenarkan bahwa besi dan pipa galvanis yang diamankan petugas Polsek Simokerto adalah barang milik proyek Suramadu. “Barang-barang mentah itu milik kontraktor, yakni kontraktor China yang mengerjakan bentang tengah jembatan,” ujarnya kepada Surya, Rabu (15/7).

Untuk memastikan hal itu, sekitar pukul 09.00 kemarin, Dwi datang ke Mapolsek Simokerto untuk mengeceknya. Setelah memastikan barang curian yang diamankan itu adalah milik kontraktor China, sekitar pukul 10.00, Dwi diperbolehkan pulang.

Menurut Dwi, karena yang dicuri adalah barang mentah milik kontraktor, maka tanggung jawab sepenuhnya ada pada kontraktor. Hal ini berbeda jika yang dicuri barang matang atau instalasi yang ada di jembatan setelah pembangunan Jembatan Suramadu dinyatakan rampung dan dibuka untuk umum. Barang yang dicuri masuk kategori milik negara. “Meski demikian, kami berharap kasusnya diusut tuntas,” ujar Dwi.

Apalagi jika melihat barang yang dicuri masih mulus, Dwi yakin barang itu dicuri sebelum digunakan. Ini berarti bisa saja pencuri langsung mengambilnya dari gudang tempat kontraktor China menyimpan barang tersebut.

Pencurian barang di Jembatan Suramadu ini adalah yang kesekian kalinya. Sebelumnya, usai jembatan senilai Rp 4,5 triliun itu diresmikan Presiden SBY 10 Juni lalu, puluhan sekrup dan mur pagar pembatas lintasan motor juga raib dari tempatnya. Setelah itu, 16 Juni giliran 42 lampu navigasi untuk menerangi pekerja di bawah jembatan juga hilang.

Catatan Surya, selama enam bulan mulai Agustus 2008 hingga Maret 2009 telah terjadi pencurian besar-besaran terhadap besi konstruksi Suramadu. Jumlah besi yang dicuri mencapai 4 ton. Pencurian dilakukan pagi hari menggunakan perahu nelayan dengan sasaran besi konstruksi di bentang tengah jembatan yang belum terpasang dan panjangnya mencapai 10 meter.

Akibat kasus itu, warga Jalan Bulak Cumpat Kecamatan Kenjeran Surabaya, yakni Bambang Harianto (31), Budiono (32), M Fadil (18), dan Muin (42) diciduk oleh aparat Polresta Surabaya Timur. Selain itu, pencurian juga dilakukan terhadap besi yang jatuh ke laut. Caranya dengan memancing menggunakan magnet atau menyelam ke dasar laut. (rie/uji)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.