Boplo, dari Perusahaan Pengembang ke Warung Gado-gado - Kompas.com

Boplo, dari Perusahaan Pengembang ke Warung Gado-gado

Kompas.com - 28/04/2009, 12:09 WIB

Warga Jakarta sekarang mungkin cuma kenal Boplo sebagai nama pasar di Jalan Srikaya, Menteng, Jakarta Pusat, di seberang Stasiun Kereta Api Gondangdia, atau sebagai warung gado-gado yang juga ada di pasar tradisional itu. Padahal, Boplo bukan nama sembarangan. Nama itu bermakna penting dan tak terpisahkan dari sejarah perkembangan kota dan arsitektur Jakarta.

Kata ”boplo” berasal dari nama perusahaan pengembang yang pada awal abad ke-20 membangun daerah Menteng dan Gondangdia sebagai kawasan permukiman baru di Batavia. Nama perusahaan Belanda itu sebetulnya NV De Bouwploeg, tetapi di lidah Melayu Betawi ucapannya berubah sedikit menjadi Boplo.

Perusahaan real estat pertama di Indonesia itu memiliki kantor yang dibangun di sebidang lahan di tengah dua jalur jalan yang kini bernama Jalan Cut Meutia. Itu sebabnya daerah di sekitar bangunan megah itu, termasuk lokasi pasarnya, sampai sekarang dikenal sebagai Kampung Boplo.

NV De Bouwploeg dipimpin oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen, arsitek dan ahli pembangunan kota yang cemerlang. Moojen adalah pengkritik arsitektur gaya Imperial yang ornamental, yang masih populer saat ia baru tiba di Batavia pada 1903. Moojen yang juga pelukis ini dianggap pelopor arsitektur modern Hindia Belanda. Ia merancang berbagai tipe rumah yang dibangun di kawasan Menteng, yang gaya arsitekturnya lebih sederhana dan lebih fungsional. Gaya arsitektur baru ini, yang disebut gaya Indis, merupakan hasil persilangan antara gaya arsitektur Barat dan seni arsitektur tropis Nusantara.

Salah satu karya monumental arsitek lulusan Antwerpen, Belgia, itu adalah gedung galeri seni milik Nederlandsch-Indische Kunstkring (Lingkar Seni Hindia Belanda) di pangkal Jalan Teuku Umar (dulu Van Heutz Boulevard), yang merupakan gedung pertama di Hindia Belanda yang dibangun dengan konstruksi beton bertulang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan itu lebih dikenal sebagai Gedung Imigrasi karena sempat lama dipakai oleh Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Kini, karya Moojen yang dibangun pada 1914 itu dimanfaatkan sebuah restoran.

Moojen pula yang merancang kantor Bouwploeg pada 1912. Bangunan itu terletak di jalan masuk ke daerah permukiman di Gondangdia dan Menteng yang ketika itu baru akan dikembangkan. Denah dasar bangunan yang kemudian menjadi salah satu penanda (landmark) daerah Gondangdia itu berbentuk tanda silang dengan dua garis yang sama panjang.

Di gedung Bouwploeg itulah Moojen, kelahiran Kloetinge, Selandia, Belanda, 1879, merancang pengembangan kawasan Gondangdia Baru (Nieuw Gondangdia) dan Menteng. Kedua daerah permukiman ini kemudian sama-sama masuk dalam wilayah Kecamatan Menteng.

Menteng dirancang dan dibangun Moojen sebagai sebuah kota taman, yang sebelumnya belum pernah ada di Hindia Belanda. Pembangunannya dimulai pada 1920 dan terus berlanjut hingga dekade 1940-an.

Ketika berkunjung ke Batavia pada 1923, HP Berlage, arsitek sohor Belanda lain, menyebut Menteng sebagai Europese buurt, lingkungan Eropa. Ia juga bilang, kawasan permukiman ini mirip dengan Minervalaan di Amsterdam. Hanya saja, jika daerah permukiman elite di Amsterdam itu luasnya cuma 30 hektar, Menteng 20 kali lebih luas, yakni sekitar 600 hektar.

Di Jakarta, penggusuran warga ternyata bukan barang baru. Menurut budayawan Betawi, Alwi Shahab, waktu daerah Menteng dibangun, warga Betawi yang tinggal di sana banyak yang dipindahkan ke daerah Karet, Tanah Abang. Ketika itu, tokoh-tokoh Sarikat Islam, seperti HOS Tjokroaminoto dan H Agus Salim, sudah ikut memperjuangkan dengan gigih agar rakyat mendapat uang ganti rugi penggusuran yang layak.

Ruang-ruang kantor gedung De Bouwploeg berlangit-langit tinggi dan berjendela besar sehingga cahaya matahari, yang sangat diperlukan para arsitek untuk berkarya, dapat menerangi seluruh bagian ruangan. Udara juga bisa bersirkulasi dengan baik berkat adanya ruang tengah yang tinggi, di mana udara panas mengalir keluar lewat sejumlah jendela yang ada di bawah kubah atapnya.

Bagaimana pun Bouwploeg telah berjasa mengembangkan kawasan Menteng yang nyaman, yang hingga hari ini masih menjadi salah satu daerah tempat tinggal favorit pejabat tinggi negara dan pengusaha superkaya.


Editor

Terkini Lainnya

Fakta Penting Kasus Baiq Nuril, Penjelasan MA hingga Surat untuk Jokowi

Fakta Penting Kasus Baiq Nuril, Penjelasan MA hingga Surat untuk Jokowi

Regional
Warga Sekitar PT PIM Terdampak Bau Amonia, 7 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Warga Sekitar PT PIM Terdampak Bau Amonia, 7 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Regional
Tetangga Dengar Jeritan pada Malam Tewasnya Satu Keluarga di Bekasi

Tetangga Dengar Jeritan pada Malam Tewasnya Satu Keluarga di Bekasi

Megapolitan
Aktris Porno Ini Akui Urusan dengan Trump Hancurkan Kariernya

Aktris Porno Ini Akui Urusan dengan Trump Hancurkan Kariernya

Internasional
Program Kirim Buku Gratis Tetap Dilanjutkan Sampai Desember

Program Kirim Buku Gratis Tetap Dilanjutkan Sampai Desember

Nasional
Terbukti Genosida, 2 Pemimpin Khmer Merah Ini Dipenjara Seumur Hidup

Terbukti Genosida, 2 Pemimpin Khmer Merah Ini Dipenjara Seumur Hidup

Internasional
Pembunuh Satu keluarga di Bekasi Dikenal Kurang Bersosialisasi

Pembunuh Satu keluarga di Bekasi Dikenal Kurang Bersosialisasi

Megapolitan
Gubernur DKI: Sampah Kiriman di Pintu Air Manggarai 500 Ton, Tak Mungkin Selesai 2 Jam

Gubernur DKI: Sampah Kiriman di Pintu Air Manggarai 500 Ton, Tak Mungkin Selesai 2 Jam

Megapolitan
Patung Jenderal Sudirman 'Hidup', Pindahkan Mobil yang Lintasi 'Busway'

Patung Jenderal Sudirman "Hidup", Pindahkan Mobil yang Lintasi "Busway"

Megapolitan
Ingin Hasilkan ASN Berkualitas, BKN Tak Mau Turunkan Passing Grade Tes CPNS

Ingin Hasilkan ASN Berkualitas, BKN Tak Mau Turunkan Passing Grade Tes CPNS

Regional
Polres Gresik: Pelanggar Operasi Zebra Turun, E-Tilang Tetap Diterapkan

Polres Gresik: Pelanggar Operasi Zebra Turun, E-Tilang Tetap Diterapkan

Regional
PM Abe Kunjungi Darwin, Kota yang Pernah Dibom Jepang 75 Tahun Lalu

PM Abe Kunjungi Darwin, Kota yang Pernah Dibom Jepang 75 Tahun Lalu

Internasional
Kuasa Hukum Baiq Nuril Upayakan Tunda Eksekusi Putusan MA

Kuasa Hukum Baiq Nuril Upayakan Tunda Eksekusi Putusan MA

Megapolitan
Wisely Tidak Menyangka Surat Terima Kasihnya kepada Polisi Jadi Viral

Wisely Tidak Menyangka Surat Terima Kasihnya kepada Polisi Jadi Viral

Regional
Hidayat Nur Wahid: Siapa Bilang Pak SBY Marah?

Hidayat Nur Wahid: Siapa Bilang Pak SBY Marah?

Nasional

Close Ads X